Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung dari Nabi ﷺ. Beliau menjanjikan Surga bagi siapa saja yang mampu menjaga dua anggota tubuh yang paling sering menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar: kemaluan (menjaga diri dari zina dan perbuatan keji) dan lisan (menjaga dari perkataan dusta, ghibah, dan kata-kata kotor). Ini menunjukkan bahwa kunci keselamatan dan kebahagiaan abadi terletak pada kemampuan kita mengendalikan dua hal ini.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Hudud, Bab "Keutamaan Orang yang Menjauhkan Diri dari Perbuatan Keji", nomor 6807, dari sahabat Sahl bin Sa'd As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu.
Teks Hadits (dengan harakat):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ. وَحَدَّثَنِي خَلِيفَةُ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ، حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: "مَنْ تَوَكَّلَ لِي مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ وَمَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ، تَوَكَّلْتُ لَهُ بِالْجَنَّةِ".
Makna Ringkas: "Barangsiapa yang menjamin untukku (kesucian) apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluannya) dan apa yang ada di antara kedua rahangnya (lidahnya), maka aku jamin baginya Surga."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 2409) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 22849) dengan lafaz yang semakna. Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa hadits ini hasan shahih.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung isyarat yang sangat dalam tentang sumber segala kebaikan dan keburukan.
- Makna "Apa yang di antara kedua kakinya" (مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ): Ini adalah kinayah (sindiran halus) untuk kemaluan. Menjaganya berarti menjaga dari segala bentuk perbuatan zina, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, serta menjauhkan pandangan dan pikiran dari hal-hal yang dapat mengantarkan kepadanya. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa menjaga kemaluan adalah salah satu cabang iman yang paling utama, karena ia merupakan benteng terakhir dari kehormatan seseorang.
- Makna "Apa yang di antara kedua rahangnya" (مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ): Ini adalah kinayah untuk lisan. Menjaga lisan berarti menjaga dari perkataan yang haram seperti dusta, menggunjing (ghibah), mengadu domba (namimah), berkata kotor, dan segala bentuk perkataan yang tidak bermanfaat. Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menukil ijma' (kesepakatan) ulama bahwa menjaga lisan adalah kewajiban yang sangat ditekankan. Beliau juga mengutip hadits lain dari Nabi ﷺ: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
- Mengapa Dua Hal Ini? Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa sumber kerusakan di muka bumi ini kebanyakan berasal dari dua hal: syahwat (yang berpusat pada kemaluan) dan syubhat (yang berpusat pada lisan). Syahwat melahirkan perbuatan zina dan keji, sedangkan syubhat melahirkan perkataan dusta, fitnah, dan perpecahan. Oleh karena itu, barang siapa yang mampu menahan kedua sumber ini, maka ia telah menutup pintu-pintu besar menuju neraka dan membuka pintu-pintu menuju Surga.
- Pandangan Ulama Lain: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil-Abrar menekankan bahwa hadits ini bukan sekadar janji, tetapi juga peringatan. Menjaga lisan dan kemaluan bukanlah perkara mudah, membutuhkan jihad melawan hawa nafsu. Namun, janji Surga dari Nabi ﷺ adalah kabar gembira yang memotivasi kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjaga keduanya, karena Allah ﷻ tidak akan mengingkari janji Rasul-Nya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Sufyan bin 'Abdillah Ats-Tsaqafi radhiyallahu 'anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku suatu perkara yang dapat aku berpegang teguh kepadanya." Beliau ﷺ menjawab, "Katakanlah: Rabbku adalah Allah, kemudian istiqamahlah." Ia bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadap diriku?" Maka Rasulullah ﷺ memegang lidah beliau yang mulia, kemudian bersabda, "Ini." (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata hadits ini hasan shahih).
Kisah ini menunjukkan perhatian besar Nabi ﷺ terhadap bahaya lisan. Jika seorang sahabat yang mulia saja ditakutkan oleh Rasulullah ﷺ akan bahaya lisannya, maka kita yang jauh lebih lemah imannya tentu harus lebih berhati-hati lagi. Ini juga sejalan dengan hadits yang sedang kita kaji, bahwa kunci Surga adalah menjaga lisan dan kemaluan.
Kesimpulan Praktis
- Jaga Lisan: Biasakan diri untuk berkata baik atau diam. Hindari ghibah, namimah, dusta, dan perkataan yang tidak bermanfaat. Gunakan lisan untuk berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan menasihati dengan cara yang baik.
- Jaga Kemaluan: Jauhkan diri dari segala yang mendekati zina, seperti melihat yang haram, berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram, dan mendengarkan hal-hal yang merusak. Sibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat dan perbanyak puasa sunnah untuk menahan syahwat.
- Muhasabah Diri: Setiap hari, hitunglah perkataan dan perbuatan kita. Apakah lebih banyak yang mendekatkan kita kepada Surga atau menjauhkan kita darinya?
- Perbanyak Doa: Mohonlah kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk menjaga kedua anggota tubuh ini, karena hal itu adalah taufik dari Allah semata.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.