Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6777 tentang Hukuman peminum khamar dan larangan mendoakan keburukan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua hal penting: pertama, cara menegakkan hukuman bagi peminum khamar di masa Nabi ﷺ adalah dengan memukul menggunakan tangan, sandal, atau pakaian—bukan dengan cambuk atau alat yang keras dan membahayakan. Kedua, larangan mendoakan keburukan (seperti "semoga Allah menghinakanmu") kepada pelaku maksiat yang telah ditegakkan hukumnya, karena ucapan tersebut justru membantu setan untuk semakin menguasai dan menjauhkannya dari taubat. Sikap yang benar adalah mendoakan kebaikan dan taubat untuknya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan, dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا أَبُو ضَمْرَةَ، أَنَسٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْهَادِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ قَالَ " اضْرِبُوهُ ". قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَمِنَّا الضَّارِبُ بِيَدِهِ، وَالضَّارِبُ بِنَعْلِهِ، وَالضَّارِبُ بِثَوْبِهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ أَخْزَاكَ اللَّهُ. قَالَ " لاَ تَقُولُوا هَكَذَا لاَ تُعِينُوا عَلَيْهِ الشَّيْطَانَ ".

Makna ringkas: Seorang peminum khamar dihadapkan kepada Nabi ﷺ, beliau memerintahkan untuk memukulnya. Para sahabat memukul dengan tangan, sandal, dan pakaian. Setelah selesai, ada yang berkata, "Semoga Allah menghinakanmu." Maka Nabi ﷺ melarang ucapan itu karena membantu setan atas dirinya.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

QS. An-Nur [24]: 22 tentang perintah memaafkan dan tidak menghina pelaku kesalahan:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Penjelasan ulama:

  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Hudud (hukum pidana Islam) dan bab "Memukul dengan Daun Kurma dan Sandal" — menunjukkan bahwa hukuman cambuk dalam syariat boleh menggunakan alat sederhana seperti sandal, asalkan tidak melukai.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya memukul dengan tangan, sandal, dan pakaian dalam hukuman ta'zir (hukuman yang tidak ditetapkan kadarnya oleh syariat), dan yang penting adalah efek jera tanpa melukai.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan mendoakan keburukan bagi pelaku maksiat setelah ditegakkan hukuman adalah karena hukuman duniawi telah membersihkan dosanya, sehingga ia layak didoakan kebaikan agar Allah menerima taubatnya.

Penjelasan Rinci

Pertama: Hukuman bagi Peminum Khamar

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat untuk memukul peminum khamar. Para sahabat memukulnya dengan tangan, sandal, dan pakaian yang dilipat. Ini menunjukkan bahwa hukuman bagi peminum khamar pada masa awal Islam adalah hukuman ta'zir yang kadarnya diserahkan kepada kebijakan imam/pemimpin, dengan syarat tidak melukai atau membahayakan.

Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa hukuman minum khamar pada masa Nabi ﷺ bervariasi—kadang dengan tangan, sandal, atau pelepah kurma. Ini menunjukkan fleksibilitas syariat dalam menegakkan hukuman, yang tujuannya adalah memberi pelajaran, bukan menyiksa.

Kedua: Larangan Mendoakan Keburukan

Bagian terpenting dari hadits ini adalah sabda Nabi ﷺ: "Jangan katakan begitu, karena kalian membantu setan untuk menguasainya."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa orang yang telah ditegakkan hukuman atasnya di dunia berarti dosanya telah terhapus. Mendoakan keburukan untuknya berarti kita menghalangi pintu taubat dan harapan rahmat Allah baginya. Ucapan seperti "semoga Allah menghinakanmu" justru membuat pelaku semakin putus asa dari rahmat Allah, dan keputusasaan ini adalah pintu masuk setan untuk terus menggiringnya dalam kemaksiatan.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa seorang mukmin seharusnya mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Jika kita melihat saudara kita berbuat maksiat, kita harus membencinya karena Allah, tetapi kita tetap menginginkan kebaikan dan taubat untuknya. Mendoakan keburukan bertentangan dengan sifat kasih sayang yang diajarkan Islam.

Ketiga: Pelajaran tentang Adab Menasihati

Hadits ini juga mengajarkan adab dalam menasihati pelaku maksiat. Setelah hukuman ditegakkan, tidak ada lagi tempat untuk mencela dan menghina. Yang tersisa adalah harapan taubat dan kembalinya ia kepada Allah.

Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menyebutkan bahwa seorang yang berbuat dosa kemudian bertaubat, maka dosanya diampuni. Mencela dan menghina setelah ia bertaubat adalah perbuatan tercela yang justru bisa menjerumuskan orang tersebut kembali ke dalam kemaksiatan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Al-Hasan al-Bashri —semoga Allah merahmatinya— pernah ditanya tentang seorang pemuda yang gemar berbuat maksiat. Beliau tidak serta-merta menghakimi atau mendoakan keburukan, tetapi berkata dengan penuh kelembutan:

"Janganlah engkau membantunya melawan dirinya sendiri. Jika ia berbuat dosa, maka doakanlah ia agar Allah memberinya taubat. Karena sesungguhnya setan bergembira ketika seorang mukmin mendoakan keburukan bagi saudaranya yang berbuat dosa, sebab doa itu menjadi senjata baginya untuk terus menjauhkan orang tersebut dari Allah."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para salaf memahami hadits Nabi ﷺ dengan sangat mendalam—bahwa tujuan syariat adalah memperbaiki, bukan menghancurkan; menyembuhkan, bukan melukai.

Kesimpulan Praktis

  1. Hukuman dalam Islam bertujuan mendidik, bukan menyiksa. Jika kita diberi tanggung jawab menegakkan hukuman, gunakan cara yang tidak melukai dan sesuai ketentuan syariat.
  2. Jangan mendoakan keburukan bagi pelaku maksiat yang telah ditegakkan hukumnya atau yang sedang berusaha bertaubat. Doakan kebaikan dan taubat untuknya.
  3. Jangan membantu setan dengan ucapan-ucapan yang membuat seseorang putus asa dari rahmat Allah. Ucapan seperti "semoga Allah menghinakanmu" adalah bentuk pertolongan kepada setan.
  4. Jaga adab dalam menasihati. Nasihat yang baik adalah yang disampaikan dengan kasih sayang dan harapan perbaikan, bukan dengan celaan dan penghinaan.
  5. Ingatlah bahwa dosa bisa dihapus dengan taubat. Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang bertaubat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.