Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang keberkahan (barakah) yang Allah berikan kepada makanan yang sedikit karena keikhlasan, tawakal, dan doa Nabi ﷺ. Abu Thalhah dan Ummu Sulaim radhiyallahu 'anhuma menunjukkan sikap tawakal dan keyakinan bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, sehingga makanan yang hanya beberapa roti jelai dapat mengenyangkan tujuh puluh atau delapan puluh orang. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa sumpah atau nazar yang berkaitan dengan makanan tidak menghalangi seseorang untuk tetap berbuat baik dan mencari keberkahan dari Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Sumpah dan Nazar, Bab Jika Ia Bersumpah untuk Tidak Makan, Lalu Ia Makan Kurma dengan Roti, dan Apa yang Termasuk dalam Hidangan (no. 6688). Perawi sahabat: Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Hadits ini juga memiliki riwayat lain dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan jalur yang berbeda, namun maknanya sama.
Kaitan dengan ulama daftar:
- Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) meriwayatkan hadits ini dalam kitab shahihnya, yang merupakan kitab paling shahih setelah Al-Qur'an menurut kesepakatan ulama.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk bab tentang sumpah dan nazar, serta keberkahan makanan.
- Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim juga membahas hadits serupa dan menyebutkan pelajaran tentang tawakal dan keberkahan.
- Ibnu Katsir (wafat 774 H) dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan tafsirnya menyebutkan kisah ini sebagai bukti mukjizat Nabi ﷺ.
- Ibnul Qayyim al-Jauziyyah (wafat 751 H) dalam Zadul Ma'ad mengulas kisah ini dalam bab tentang makanan Nabi dan keberkahannya.
Adapun ayat Al-Qur'an yang relevan tentang keberkahan dan tawakal:
QS. Al-Maidah [5]: 88
وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ
Terjemahan: "Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya."
QS. Ath-Thalaq [7]: 7
لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
Terjemahan: "Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan."
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung banyak pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
1. Kepekaan sosial dan kepedulian Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu
Abu Thalhah mendengar suara Nabi ﷺ yang lemah dan mengetahui bahwa beliau sedang lapar. Ini menunjukkan kepekaan seorang sahabat terhadap keadaan Nabi ﷺ. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ini adalah bentuk kecintaan dan perhatian sahabat kepada Nabi ﷺ.
2. Tawakal dan keyakinan Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha
Ketika Abu Thalhah khawatir karena tidak ada makanan yang cukup, Ummu Sulaim berkata: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Ini adalah kalimat tawakal yang menunjukkan keyakinan bahwa Allah akan mencukupkan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ini adalah contoh sikap tawakal yang benar, yaitu berusaha semaksimal mungkin lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
3. Keberkahan makanan (barakah)
Nabi ﷺ memerintahkan agar roti jelai dipotong-potong, lalu Ummu Sulaim menuangkan mentega dari wadah kulit. Setelah itu Nabi ﷺ mendoakan makanan tersebut, dan makanan itu cukup untuk tujuh puluh atau delapan puluh orang. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa ini adalah salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang nyata, di mana makanan yang sedikit dapat mengenyangkan banyak orang.
4. Pentingnya izin dan keteraturan
Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengizinkan sepuluh orang masuk, makan, lalu keluar, kemudian sepuluh orang berikutnya, dan seterusnya. Ini menunjukkan adab dan keteraturan dalam jamuan makan. Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan keteraturan dan tidak membiarkan orang berdesakan.
5. Kaitan dengan bab sumpah dan nazar
Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam Kitab Sumpah dan Nazar, bab tentang sumpah untuk tidak makan. Ini menunjukkan bahwa sumpah atau nazar yang berkaitan dengan makanan tidak boleh menghalangi seseorang dari berbuat baik dan mencari keberkahan. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa dalam bab ini, Imam Al-Bukhari ingin menunjukkan bahwa sumpah yang berkaitan dengan makanan dapat dilanggar jika ada maslahat yang lebih besar, dengan membayar kafarat.
6. Perbedaan pendapat ulama tentang jumlah orang
Dalam riwayat ini disebutkan tujuh puluh atau delapan puluh orang. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah keraguan dari perawi, dan tidak ada masalah karena yang penting adalah jumlah yang banyak. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini menunjukkan banyaknya orang yang makan, dan semua kenyang.
7. Pelajaran tentang kesederhanaan
Makanan yang disajikan hanyalah roti jelai dan mentega, namun dengan keberkahan Allah, makanan itu cukup untuk banyak orang. Ini mengajarkan kesederhanaan dan tidak berlebihan dalam makanan. Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa Nabi ﷺ adalah orang yang paling sederhana dalam makan, namun Allah memberikan keberkahan pada makanan beliau.
8. Doa Nabi ﷺ sebagai sebab keberkahan
Nabi ﷺ mendoakan makanan tersebut, dan doa beliau adalah doa yang mustajab. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa doa Nabi ﷺ adalah sebab utama keberkahan. Ini mengajarkan pentingnya doa sebelum makan dan memohon keberkahan.
9. Sikap Abu Thalhah yang khawatir vs Ummu Sulaim yang tawakal
Abu Thalhah khawatir karena tidak ada makanan yang cukup, sementara Ummu Sulaim tetap tenang dan tawakal. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini menunjukkan keutamaan Ummu Sulaim dan kekuatan tawakalnya. Namun, kekhawatiran Abu Thalhah juga manusiawi dan tidak tercela.
10. Mukjizat Nabi ﷺ
Para ulama sepakat bahwa peristiwa ini adalah salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang nyata. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa mukjizat ini terjadi di depan banyak sahabat, sehingga menjadi bukti kenabian yang kuat.
Story Telling
Kisah ini terjadi pada suatu hari ketika Nabi ﷺ sedang duduk di masjid bersama para sahabat. Abu Thalhah, seorang sahabat yang sangat mencintai Nabi ﷺ, mendengar suara beliau yang lemah dan mengetahui bahwa beliau sedang lapar. Ia pun pulang ke rumah dan bertanya kepada istrinya, Ummu Sulaim, apakah ada makanan.
Ummu Sulaim, yang juga seorang sahabiyah yang cerdas dan tawakal, hanya memiliki beberapa roti jelai. Ia membungkus roti itu dengan kerudungnya dan mengirim putranya, Anas bin Malik, untuk mengantar kepada Nabi ﷺ.
Anas kecil berjalan ke masjid dan menemukan Nabi ﷺ bersama banyak orang. Nabi ﷺ bertanya: "Apakah Abu Thalhah yang mengirimmu?" Anas menjawab: "Ya." Lalu Nabi ﷺ berkata kepada para sahabat: "Berdirilah." Mereka semua berjalan menuju rumah Abu Thalhah.
Abu Thalhah terkejut melihat Nabi ﷺ datang bersama banyak orang, sementara makanan hanya sedikit. Ia berkata kepada istrinya: "Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah datang dan kita tidak punya makanan untuk mereka." Ummu Sulaim dengan tenang menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Nabi ﷺ masuk dan meminta Ummu Sulaim membawa apa yang ada. Roti jelai itu dipotong-potong, dan Ummu Sulaim menuangkan mentega dari wadah kulit. Nabi ﷺ mendoakan makanan itu, lalu berkata: "Izinkan sepuluh orang." Sepuluh orang masuk, makan sampai kenyang, lalu keluar. Kemudian sepuluh orang lagi, dan seterusnya, hingga semua tujuh puluh atau delapan puluh orang makan sampai kenyang.
Semua orang menyaksikan keberkahan itu. Makanan yang sedikit menjadi cukup untuk banyak orang. Ini adalah bukti nyata kekuasaan Allah dan keberkahan doa Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Bertawakallah kepada Allah setelah berusaha semaksimal mungkin, seperti yang dicontohkan Ummu Sulaim.
- Peka terhadap kebutuhan orang lain, terutama orang-orang shalih dan orang yang membutuhkan.
- Yakinlah bahwa keberkahan datang dari Allah, bukan dari banyaknya harta atau makanan.
- Doakan makanan sebelum makan untuk mendapatkan keberkahan.
- Jaga adab dan keteraturan dalam jamuan makan, seperti yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Sederhanalah dalam makanan, karena kesederhanaan adalah sunnah Nabi ﷺ.
- Jangan khawatir berlebihan terhadap rezeki, karena Allah Maha Pemberi Rezeki.
- Pelajari kisah-kisah Nabi ﷺ dan sahabat untuk menambah keimanan dan keteladanan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.