Penjelasan Hadits Bukhari No. 6687 tentang Kesederhanaan hidup Nabi dan keluarganya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan kesederhanaan hidup Nabi ﷺ dan keluarganya: mereka tidak pernah kenyang makan roti gandum beserta lauk selama tiga hari berturut-turut sampai beliau wafat. Ini bukan larangan makan enak, melainkan pujian atas sifat zuhud, qana'ah (merasa cukup), dan fokus pada akhirat. Kita diajarkan untuk tidak menjadikan makanan dan dunia sebagai tujuan utama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Sumpah dan Nazar, dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Perawi jalurnya: Muhammad bin Yusuf → Sufyan (ats-Tsauri) → Abdurrahman bin 'Abis → ayahnya ('Abis bin Rabi'ah) → Aisyah.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَابِسٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ قَالَتْ مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ ﷺ مِنْ خُبْزِ بُرٍّ مَأْدُومٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ حَتَّى لَحِقَ بِاللَّهِ

Terjemahan: "Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang dari roti gandum dengan lauk selama tiga hari (berturut-turut) hingga beliau menemui Allah."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan zuhud dan kehidupan dunia:

QS. Al-A'la [87]: 16-17

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ﴿١٧﴾

Terjemahan: "Bahkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."

QS. Al-Qashash [28]: 60

وَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Terjemahan: "Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?"

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan keadaan ekonomi dan gaya hidup Nabi ﷺ serta keluarganya yang sangat sederhana. Kata "مَأْدُوم" (ma'dum) berarti lauk-pauk yang dimakan bersama roti, seperti daging, minyak, atau lainnya. Jadi maknanya: mereka tidak pernah selama tiga hari berturut-turut makan roti gandum (yang lebih mahal dari roti sya'ir/gandum kasar) bersama lauk sampai kenyang.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits seperti ini menunjukkan keutamaan zuhud dan bahwa Nabi ﷺ memilih kehidupan sederhana meskipun beliau mampu mendapatkan lebih. Beliau tidak melarang umatnya makan enak, tetapi beliau mengajarkan bahwa dunia bukan tujuan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini masuk dalam bab tentang sumpah dan nazar karena berkaitan dengan kesederhanaan yang menjadi latar belakang beberapa sumpah Nabi ﷺ, seperti tidak mendekati istri-istrinya selama sebulan. Beliau juga menegaskan bahwa "hingga beliau menemui Allah" menunjukkan keadaan ini berlangsung sampai wafat, bukan hanya sesaat.

Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya ketika membahas ayat-ayat tentang zuhud menyebutkan bahwa Nabi ﷺ dan keluarganya sering menahan lapar, dan beliau mengikat batu di perutnya karena lapar. Ini bukan karena kemiskinan yang tidak terelakkan, tetapi karena pilihan untuk tidak menumpuk dunia.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa qana'ah (merasa cukup) adalah kekayaan sejati. Beliau mengutip hadits lain bahwa kekayaan bukanlah banyaknya harta, tetapi kaya jiwa.

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsir-nya menekankan bahwa memilih akhirat di atas dunia adalah tanda iman yang benar. Dunia adalah sarana, bukan tujuan.

Perlu dipahami: hadits ini tidak berarti Nabi ﷺ selalu kelaparan atau tidak pernah makan enak sama sekali. Ada riwayat lain yang menunjukkan beliau pernah makan daging, kurma, dan makanan enak lainnya. Yang ditekankan adalah beliau tidak menjadikan kenyang dan mewah sebagai kebiasaan tetap, apalagi sampai tiga hari berturut-turut dengan roti gandum dan lauk.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu masuk ke rumah Nabi ﷺ dan melihat beliau berbaring di atas tikar yang kasar hingga membekas di kulit beliau. Umar menangis. Nabi ﷺ bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Umar menjawab, "Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup mewah, sedangkan engkau adalah Rasulullah..." Nabi ﷺ bersabda, "Wahai Umar, apakah engkau tidak ridha bahwa mereka mendapatkan dunia dan kita mendapatkan akhirat?" (Makna ini disebutkan dalam riwayat-riwayat yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar).

Hikmahnya: Nabi ﷺ sengaja memilih kesederhanaan karena beliau tahu nilai akhirat. Beliau tidak iri pada kemewahan dunia.

Kesimpulan Praktis

  1. Zuhud bukan berarti miskin, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan tidak tamak.
  2. Qana'ah adalah kekayaan — merasa cukup dengan apa yang Allah beri lebih berharga dari banyak harta.
  3. Jangan berlebihan dalam makanan — makan untuk kuat beribadah, bukan untuk memuaskan nafsu.
  4. Fokus pada akhirat — dunia adalah sarana, akhirat adalah tujuan.
  5. Teladani Nabi ﷺ dalam kesederhanaan, meskipun kita boleh menikmati rezeki halal tanpa berlebihan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?