Penjelasan Hadits Bukhari No. 6681 tentang Niat menentukan sahnya ucapan dan amalan seseorang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan usaha terakhir Nabi ﷺ untuk mengajak pamannya, Abu Thalib, mengucapkan kalimat tauhid "Laa ilaaha illallah" menjelang wafatnya. Ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi ﷺ kepada pamannya, namun hidayah sepenuhnya di tangan Allah. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa amalan seseorang di akhir hayatnya sangat menentukan, dan bahwa kita tidak boleh memastikan seseorang masuk surga atau neraka, kecuali berdasarkan nash yang shahih.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):

<p>حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ ‏"‏ قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ كَلِمَةً‏.‏ أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ ‏"‏‏.‏</p>

Terjemahan: Dari Al-Musaiyab (ayah Sa'id bin Al-Musayyib): Ketika kematian Abu Thalib mendekat, Rasulullah ﷺ datang kepadanya dan berkata, "Katakanlah: Laa ilaaha illallah, sebuah kalimat yang akan saya gunakan untuk membela Anda di hadapan Allah."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Al-Iman, Bab "Dalil bahwa siapa yang meninggal di atas tauhid pasti masuk surga" (no. 24), dengan tambahan kisah tentang perkataan Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah yang menghasut Abu Thalib agar tidak mengucapkannya.

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. Al-Qashash [28]: 56

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

"Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."

Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa wafatnya Abu Thalib, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dan Imam Muslim. Ini menunjukkan bahwa meskipun Nabi ﷺ sangat menginginkan hidayah untuk pamannya, ketetapan Allah-lah yang berlaku.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan salaf dan khalaf menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Kesungguhan Nabi ﷺ dalam Menyampaikan Dakwah

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa tingginya semangat Nabi ﷺ untuk menyelamatkan pamannya dari api neraka. Beliau tidak bosan mengajak, meskipun Abu Thalib selama puluhan tahun menolak Islam. Ini adalah pelajaran bagi para da'i agar tidak putus asa dalam berdakwah.

2. Kalimat Tauhid adalah Kunci Keselamatan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa kalimat "Laa ilaaha illallah" adalah kalimat yang paling agung. Barangsiapa mengucapkannya dengan yakin dan tulus di akhir hayatnya, maka ia akan selamat. Namun, syaratnya adalah ia mengucapkannya dengan pemahaman dan pengamalan, bukan sekadar ucapan di lidah.

3. Hidayah Sepenuhnya Milik Allah

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menukil dari Mujahid dan Qatadah bahwa ayat QS. Al-Qashash: 56 turun khusus tentang Abu Thalib. Ini menegaskan bahwa meskipun Nabi ﷺ adalah manusia paling mulia di sisi Allah, beliau tidak bisa memaksa hidayah turun kepada siapa pun. Hidayah adalah urusan Allah semata.

4. Akhir Hayat Sangat Menentukan

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya husnul khatimah (akhir yang baik). Abu Thalib selama hidupnya melindungi Nabi ﷺ dan Islam, namun karena ia meninggal dalam keadaan musyrik, semua itu tidak bermanfaat baginya. Sebaliknya, seseorang yang beriman di akhir hayatnya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.

5. Larangan Memastikan Seseorang Masuk Surga atau Neraka

Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam berbagai fatwanya menjelaskan bahwa kita tidak boleh memastikan seseorang tertentu masuk surga atau neraka, kecuali yang disebutkan secara tegas dalam Al-Qur'an dan hadits shahih. Abu Thalib adalah salah satu contoh yang jelas disebutkan dalam hadits bahwa ia berada di neraka, namun derajat siksaannya diringankan karena perlindungannya kepada Nabi ﷺ.

6. Peran Lingkungan dalam Menjaga Keimanan

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa dalam riwayat Muslim, disebutkan bahwa Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menghasut Abu Thalib agar tetap di atas agama Abdul Muththalib. Ini menunjukkan bahwa lingkungan pergaulan sangat memengaruhi akhir kehidupan seseorang. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam memilih teman dan lingkungan.

Story Telling

Dalam riwayat Imam Muslim, kisah ini lebih lengkap:

Ketika Abu Thalib hampir wafat, Rasulullah ﷺ datang dan berkata, "Wahai paman, ucapkanlah 'Laa ilaaha illallah', sebuah kalimat yang akan aku jadikan hujjah (pembelaan) untukmu di hadapan Allah."

Namun, di sisi Abu Thalib ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah yang berkata, "Wahai Abu Thalib, apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?" Mereka terus mengulanginya hingga akhirnya kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah, "Aku tetap di atas agama Abdul Muththalib."

Maka Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh, aku akan terus memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang." Maka turunlah ayat:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْٓا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ

"Tidaklah pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik, walaupun mereka kerabatnya, setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka." (QS. At-Taubah [9]: 113)

Hikmah: Betapa sedihnya Nabi ﷺ kehilangan pamannya dalam keadaan syirik. Namun, ini menjadi pelajaran bahwa kasih sayang dan perlindungan kepada Islam tidak cukup jika hati tidak beriman. Keselamatan hanya ada pada tauhid yang murni.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersungguh-sungguhlah dalam berdakwah kepada keluarga dan orang terdekat, sebagaimana Nabi ﷺ melakukannya kepada Abu Thalib.
  2. Jangan pernah berputus asa dalam mendoakan hidayah untuk orang lain, karena hidayah adalah hak prerogatif Allah.
  3. Jaga lingkungan pergaulan, karena teman yang buruk bisa menjadi penghalang hidayah, seperti Abu Jahal yang menghalangi Abu Thalib.
  4. Perbanyak amal shalih dan jaga keimanan, karena akhir hayat sangat menentukan nasib seseorang.
  5. Jangan memastikan nasib seseorang di akhirat, kecuali berdasarkan dalil yang jelas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?