Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6661 tentang Neraka penuh hingga Allah letakkan kaki-Nya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang sifat neraka Jahannam yang terus-menerus meminta tambahan penghuni hingga Allah ﷻ meletakkan "Qadam" (kaki)-Nya di atasnya, lalu neraka pun merasa puas dan berkata "cukup." Ini adalah salah satu dalil tentang penetapan sifat-sifat Allah sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk (tamtsil) dan tanpa menolak maknanya (ta'thil). Para ulama Ahlus Sunnah memahami hadits ini dengan cara menetapkan sifat tersebut bagi Allah sesuai dengan apa yang layak bagi-Nya, tanpa membayangkan bentuknya.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman:

وَلَوْ أَنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لَافْتَدَوْا بِهِ مِن سُوءِ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ وَبَدَا لَهُم مِّنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ

(QS. Az-Zumar [39]: 47)

Terjemahan: "Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai segala apa yang ada di bumi dan ditambah sebanyak itu (lagi), niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari azab yang buruk pada hari Kiamat. Dan jelaslah bagi mereka dari Allah (azab) yang belum pernah mereka perkirakan."

Ayat ini menunjukkan bahwa azab Allah sangat dahsyat dan tidak terbayangkan oleh manusia, sebagaimana neraka yang terus meminta tambahan hingga Allah meletakkan "Qadam"-Nya.

2. Hadits Riwayat Shahih Al-Bukhari No. 6661:

Teks hadits sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan, diriwayatkan oleh Qatadah dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

3. Penjelasan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari (w. 256 H) sendiri meletakkan hadits ini dalam kitabnya sebagai dalil tentang sifat-sifat Allah, khususnya dalam bab "Bersumpah Dengan Kehormatan Allah dan Sifat-Sifat-Nya." Ini menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai penetapan sifat bagi Allah.
  • Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dan para ulama salaf lainnya menetapkan sifat "Qadam" (kaki) bagi Allah tanpa menanyakan "bagaimana" (bila kaif). Beliau berkata: "Kami beriman dengannya, kami membenarkannya, dan kami tidak menolak satu huruf pun darinya."
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari (13/406-407) menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalam sifat-sifat Allah yang khabariyah (berdasarkan berita). Beliau menukil perkataan Imam Abu Bakr al-Bayhaqi (w. 458 H) bahwa para ulama salaf menetapkan sifat ini dan tidak menakwilkannya (mengartikannya secara metaforis).
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa makna "Qadam" adalah kaki yang hakiki sesuai dengan keagungan Allah, bukan kaki seperti makhluk. Beliau menegaskan bahwa neraka tidak akan penuh hingga Allah meletakkan "Qadam"-Nya, yang menunjukkan kekuasaan-Nya yang mutlak.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits tentang sifat-sifat Allah yang wajib kita imani. Berikut adalah poin-poin penting dalam memahami hadits ini:

  1. Penetapan Sifat "Qadam" (Kaki) bagi Allah: Hadits ini secara jelas menyebutkan bahwa Allah ﷻ memiliki "Qadam" (kaki). Para ulama Ahlus Sunnah, seperti Imam Ahmad, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibban, dan Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah (w. 728 H), menetapkan sifat ini sebagai sifat yang hakiki bagi Allah, sesuai dengan keagungan-Nya. Mereka tidak menyerupakannya dengan kaki makhluk (tamtsil) dan tidak pula menolak maknanya (ta'thil).
  2. Makna "Qadam" Menurut Ulama:
  • Imam Ibnu Khuzaymah (w. 311 H) dalam Kitab at-Tauhid berkata: "Kami beriman bahwa Allah memiliki Qadam, sebagaimana Dia kabarkan dalam hadits ini, dan kami tidak menanyakan 'bagaimana' bentuknya."
  • Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa (5/198) menjelaskan bahwa menetapkan sifat "Qadam" adalah wajib, dan menolaknya adalah kesesatan. Beliau berkata: "Barangsiapa yang menolak hadits-hadits tentang sifat, maka dia telah menolak apa yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ."
  1. Hikmah di Balik Sifat Ini: Hadits ini menunjukkan bahwa neraka Jahannam adalah makhluk yang sangat besar dan tidak pernah puas dengan jumlah penghuninya. Namun, kekuasaan Allah ﷻ jauh lebih besar. Ketika Allah meletakkan "Qadam"-Nya, neraka pun merasa cukup dan menyusut. Ini adalah bentuk keadilan dan kekuasaan Allah yang mutlak.
  2. Peringatan bagi Manusia: Hadits ini juga merupakan peringatan keras bagi kita agar tidak meremehkan dosa dan maksiat. Neraka sangat luas dan terus meminta tambahan, namun hanya dengan satu "Qadam" dari Allah, ia menjadi penuh. Ini menunjukkan betapa dahsyatnya azab Allah bagi orang-orang yang durhaka.

Story Telling

Kisah tentang Ketakutan Para Sahabat terhadap Neraka:

Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H), bahwa suatu hari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menangis ketika mendengar hadits tentang neraka. Beliau berkata: "Wahai Rasulullah, apakah kami akan masuk neraka?" Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak, wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah telah menjamin bagi orang-orang yang bertakwa keselamatan dari neraka." (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Kisah ini mengajarkan kita bahwa meskipun neraka sangat dahsyat, rahmat Allah jauh lebih besar. Namun, kita tidak boleh merasa aman dari azab Allah. Sebaliknya, kita harus senantiasa takut dan berharap kepada-Nya, serta berusaha menjauhi segala larangan-Nya.

Hikmah: Ketakutan para sahabat terhadap neraka bukanlah ketakutan yang membuat mereka putus asa, tetapi justru mendorong mereka untuk lebih giat beribadah dan menjauhi maksiat. Inilah yang seharusnya kita contoh.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada Sifat-Sifat Allah: Kita wajib beriman bahwa Allah memiliki sifat "Qadam" (kaki) sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih ini, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menolak maknanya.
  2. Takut kepada Neraka: Hadits ini mengingatkan kita akan dahsyatnya neraka. Oleh karena itu, kita harus senantiasa takut kepada azab Allah dan berusaha menjauhi segala dosa.
  3. Berharap kepada Rahmat Allah: Meskipun neraka sangat luas, rahmat Allah jauh lebih besar. Kita harus senantiasa berharap kepada ampunan dan rahmat-Nya.
  4. Mengikuti Manhaj Salaf: Dalam memahami ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat Allah, kita harus mengikuti pemahaman para ulama salaf, yaitu menetapkan tanpa menyerupakan, dan menyucikan tanpa menolak.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.