Penjelasan Hadits Bukhari No. 6657 tentang Ciri ahli surga dan ahli neraka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan dua ciri utama: penghuni surga sering kali orang yang tampak lemah dan diremehkan manusia, namun dekat dengan Allah hingga doa dan sumpahnya dikabulkan; sedangkan penghuni neraka adalah orang yang kasar, keras hati, dan sombong. Pelajarannya: jangan menilai kemuliaan dari kekuatan, jabatan, atau penampilan, tetapi dari ketakwaan, kelembutan hati, dan kerendahan diri di hadapan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Sumpah dan Nazar, dari sahabat Haritsah bin Wahb رضي الله عنه.

Teks hadits:

أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ الْجَنَّةِ، كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعَّفٍ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ، وَأَهْلِ النَّارِ كُلُّ جَوَّاظٍ عُتُلٍّ مُسْتَكْبِرٍ

Terjemahan ringkas:

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian penghuni surga? Yaitu setiap orang lemah yang dianggap lemah; jika ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah memenuhinya. Sedangkan penghuni neraka adalah setiap orang yang kasar, kejam, dan sombong.”

Dalil Al-Qur’an yang berkaitan dengan tema ini:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

QS. Ghafir [40]: 60

Terjemahan: “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.”

Juga:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

QS. Al-Hujurat [49]: 13

Terjemahan: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah kekuatan fisik, kekayaan, jabatan, atau banyaknya pengikut. Nabi ﷺ menyebut bahwa ahli surga banyak dari kalangan dhu‘afa’ dan mustadha‘afin, yaitu orang-orang lemah dan sering dianggap rendah oleh manusia. Namun, kedekatan mereka dengan Allah begitu kuat sampai seolah-olah jika mereka bersumpah atas nama Allah, Allah mengabulkan dan menunaikan sumpah itu. Ini bukan berarti setiap orang lemah otomatis ahli surga, tetapi isyarat bahwa kelemahan duniawi tidak menghalangi seseorang meraih kemuliaan akhirat.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud “lemah” di sini adalah orang yang lemah secara fisik atau sosial, namun hatinya kuat dalam iman, tawakal, dan ketergantungan kepada Allah. Mereka tidak sombong, tidak menuntut pujian, dan tidak merasa besar di hadapan manusia. Karena itu, doa dan sumpah mereka dikabulkan sebagai bentuk karunia Allah kepada hamba yang tulus.

Adapun ciri ahli neraka dalam hadits ini: jawwazh, ‘utull, dan mustakbir. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa jawwazh berarti orang yang kasar dalam ucapan dan perbuatan, ‘utull berarti keras hati lagi rakus serta sewenang-wenang, sedangkan mustakbir berarti sombong dan menolak kebenaran. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menegaskan bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang paling berbahaya karena menutup pintu ilmu dan amal, sebagaimana iblis diusir bukan karena maksiat fisik, tetapi karena sombong.

Ibn Katsir dalam tafsirnya juga menegaskan bahwa Allah tidak melihat bentuk tubuh dan harta, tetapi melihat hati dan amal. Orang yang rendah hati dan lembut akan diangkat derajatnya, sedangkan orang yang sombong akan dihinakan. Imam As-Sa’di dalam Taisir Karim ar-Rahman menyebut bahwa tawakal dan kerendahan hati adalah sebab datangnya pertolongan Allah, sedangkan kesombongan adalah sebab kehinaan.

Story Telling

Diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda tentang seorang wanita berkulit hitam yang biasa membersihkan masjid. Ketika ia meninggal, para sahabat menguburkannya tanpa memberitahu Nabi ﷺ. Setelah mengetahuinya, Nabi ﷺ menanyakan dan kemudian menshalatkannya. Kisah ini menunjukkan bahwa orang yang dianggap rendah oleh manusia bisa jadi mulia di sisi Allah. Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan makna kisah ini dalam kitab shahih mereka.

Hikmahnya: jangan meremehkan orang lain hanya karena penampilan, pekerjaan, atau kedudukannya. Bisa jadi orang yang kita anggap lemah justru lebih dekat kepada Allah daripada kita.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menilai kemuliaan seseorang dari kekuatan, harta, atau jabatan, tetapi dari ketakwaan dan akhlak.
  2. Latihlah hati untuk tawadhu, lembut, dan tidak sombong.
  3. Perbanyak doa dan tawakal, karena Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.
  4. Jauhi sifat kasar, keras hati, dan merasa lebih tinggi dari orang lain.
  5. Hormati orang-orang lemah dan sederhana, karena bisa jadi mereka lebih mulia di sisi Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?