Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi kabar ghaib dari Nabi ﷺ bahwa kekuasaan Romawi (Kaisar) dan Persia (Kisra) akan hancur dan tidak akan bangkit lagi seperti semula, serta harta kekayaan keduanya akan dibelanjakan umat Islam di jalan Allah. Ini termasuk bukti kenabian, karena apa yang beliau ﷺ kabarkan benar-benar terjadi. Hadits ini juga mengajarkan bahwa sumpah dengan menyebut nama Allah (wallahi) dibolehkan untuk menguatkan berita penting.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Sumpah dan Nazar, dari sahabat Jabir bin Samurah رضي الله عنه.
Teks hadits:
إِذَا هَلَكَ قَيْصَرُ فَلَا قَيْصَرَ بَعْدَهُ، وَإِذَا هَلَكَ كِسْرَى فَلَا كِسْرَى بَعْدَهُ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُنْفَقَنَّ كُنُوزُهُمَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Terjemahan: "Jika Kaisar hancur, tidak akan ada Kaisar setelahnya; dan jika Kisra hancur, tidak akan ada Kisra setelahnya; dan demi Dia yang menguasai jiwaku, pasti kalian akan membelanjakan harta mereka di jalan Allah."
Ayat yang berkaitan dengan janji kemenangan dan harta yang diwarisi:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ
QS. An-Nur [24]: 55 — "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa."
Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini sebagai janji Allah kepada umat Islam bahwa mereka akan menggantikan kekuasaan-kekuasaan besar yang menentang, dan ini terbukti dengan runtuhnya Persia dan Romawi serta masuknya harta mereka ke tangan kaum muslimin.
Penjelasan Rinci
Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk tanda-tanda kenabian (dalail an-nubuwwah). Nabi ﷺ mengabarkan peristiwa besar yang akan terjadi di masa depan, dan hal itu benar-benar terjadi persis seperti yang beliau kabarkan.
Makna "Kaisar" dan "Kisra":
- Kaisar (قَيْصَر) adalah gelar raja Romawi (Bizantium).
- Kisra (كِسْرَى) adalah gelar raja Persia (Sasanid).
Ibn Hajar menyebutkan bahwa yang dimaksud "tidak ada Kaisar setelahnya" adalah tidak akan ada lagi kekuasaan Romawi yang utuh dan kuat seperti sebelumnya di wilayah tersebut, dan demikian pula Persia. Kekaisaran Persia benar-benar hancur total pada masa Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه, dan tidak pernah bangkit kembali. Adapun Romawi, kekuasaannya melemah dan wilayahnya ditaklukkan kaum muslimin, meski nama "Kaisar" masih dipakai di beberapa tempat — namun kekuasaan besar mereka telah sirna.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa ini adalah kabar ghaib yang menjadi bukti kerasulan Nabi ﷺ, karena beliau mengabarkan sesuatu yang belum terjadi lalu terjadi persis sebagaimana yang beliau katakan.
Tentang sumpah "Wallahi" (وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ):
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa Nabi ﷺ bersumpah dengan nama Allah untuk menguatkan berita penting dan menegaskan kebenarannya. Ini menunjukkan bolehnya bersumpah dengan nama Allah dalam perkara yang benar dan bermanfaat, dan sumpah tersebut harus ditunaikan atau ditebus dengan kafarah jika dilanggar.
Tentang "harta mereka dibelanjakan di jalan Allah":
Ibn Katsir menjelaskan bahwa ini terjadi ketika kaum muslimin menaklukkan Persia dan Romawi, harta kekayaan mereka yang sangat besar — termasuk perbendaharaan Kisra dan Kaisar — jatuh ke tangan kaum muslimin dan digunakan untuk kepentingan jihad, dakwah, dan kemaslahatan umat Islam. Ini adalah janji Allah yang pasti terjadi.
Pelajaran tentang sumpah:
Hadits ini berada dalam Kitab Sumpah dan Nazar, menunjukkan bahwa para ulama seperti Al-Bukhari memasukkan hadits ini untuk menjelaskan bab sumpah Nabi ﷺ dan bagaimana beliau bersumpah dengan nama Allah. Ibn Hajar menyebutkan bahwa sumpah Nabi ﷺ dengan "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ" adalah bentuk ta'kid (penegasan) dan tawassul kepada Allah dengan sifat-Nya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Nabi ﷺ mengabarkan hal ini, sebagian orang mungkin meragukan, karena saat itu Persia dan Romawi adalah dua kekuatan superpower dunia yang sangat kuat. Namun Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab رضي الله عنهما meyakini kabar ini dengan penuh keimanan.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khaththab, pasukan Islam di bawah komando Sa'd bin Abi Waqqash berhasil menaklukkan Persia dalam Pertempuran Qadisiyah. Harta Kisra yang sangat besar — termasuk permadani mewah, mahkota, dan perbendaharaan kerajaan — dibawa ke Madinah. Ketika Umar melihat harta itu, beliau menangis dan berkata bahwa ini adalah janji Allah yang telah ditunaikan.
Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah mencatat bahwa harta Kisra yang dibawa ke Madinah sangatlah banyak, dan Umar membagikannya kepada kaum muslimin sesuai syariat. Ini adalah bukti nyata dari sabda Nabi ﷺ bahwa "kalian akan membelanjakan harta mereka di jalan Allah."
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah pada kabar Nabi ﷺ — apa yang beliau kabarkan pasti terjadi, karena beliau tidak berbicara dari hawa nafsu.
- Bersumpah dengan nama Allah dibolehkan untuk menegaskan perkara penting yang benar, namun jangan berlebihan dan jangan bersumpah dusta.
- Harta kekayaan dunia akan berpindah tangan sesuai kehendak Allah; yang penting adalah bagaimana kita menggunakannya di jalan Allah.
- Ambil pelajaran dari sejarah — kehancuran kekuatan besar yang menentang kebenaran adalah sunnatullah.
- Perkuat iman dengan mempelajari dalail an-nubuwwah (bukti-bukti kenabian) seperti yang dijelaskan Ibn Hajar dan Ibn Katsir, agar iman semakin kokoh.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.