Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menegaskan bahwa umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat yang paling akhir diutus di dunia, namun pada Hari Kiamat kelak mereka akan menjadi umat yang pertama kali dihisab dan diputuskan perkaranya, kemudian masuk surga. Ini adalah kabar gembira dan keutamaan besar bagi umat Islam, sekaligus dorongan untuk bersyukur dan istiqamah dalam beribadah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Sumpah dan Nazar, Bab Firman Allah Ta'ala tentang kafarat sumpah, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Namun perlu diperhatikan, teks hadits yang Anda salin di atas adalah bagian dari hadits yang lebih panjang, dan inti yang dimaksud adalah sabda Nabi ﷺ:
"نَحْنُ الآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"
"Kami (umat Islam) adalah yang terakhir (di dunia), tetapi akan menjadi yang terdepan pada Hari Kiamat."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan memiliki beberapa lafaz yang saling menguatkan.
Dalil Al-Qur'an yang relevan dengan makna hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:
QS. Al-Baqarah [2]: 148
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۚ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Dan bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap umat memiliki syariat dan arah ibadahnya masing-masing, namun umat Islam diperintahkan untuk berlomba dalam kebaikan karena merekalah yang akan mendapatkan keutamaan di akhirat.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "الآخرون" (yang terakhir) adalah umat yang paling akhir diutus nabinya, dan "السابقون" (yang terdepan) adalah yang pertama kali dihisab dan diputuskan perkaranya pada Hari Kiamat. Ini adalah keutamaan yang diberikan Allah kepada umat ini.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah umat Islam akan masuk surga lebih dahulu daripada umat-umat sebelumnya, karena mereka adalah umat yang paling mulia di sisi Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Makna "الآخرون" (yang terakhir): Umat Islam adalah umat yang paling akhir diutus rasulnya. Tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah konsekuensi dari kerasulan beliau sebagai penutup para nabi.
- Makna "السابقون" (yang terdepan): Meskipun paling akhir di dunia, pada Hari Kiamat umat Islam akan menjadi yang pertama:
- Pertama kali dibangkitkan dari kubur
- Pertama kali dihisab
- Pertama kali diputuskan perkaranya
- Pertama kali melewati shirat (jembatan)
- Pertama kali masuk surga
- Hikmah di balik keutamaan ini: Allah memberikan keutamaan ini kepada umat Nabi Muhammad ﷺ karena kemuliaan Nabi mereka, kesempurnaan syariat yang dibawanya, dan keikhlasan umatnya dalam beribadah. Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang keutamaan umat ini.
- Perbandingan dengan umat terdahulu: Umat-umat sebelumnya seperti umat Nabi Musa dan Nabi Isa 'alaihimassalam juga memiliki keutamaan, namun keutamaan umat Nabi Muhammad ﷺ lebih besar karena syariat yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ adalah syariat yang paling sempurna dan terakhir.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keutamaan ini adalah murni karunia Allah, bukan karena amal umat Islam semata, namun Allah memberikan keutamaan ini kepada umat yang paling mulia nabinya.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Kami adalah umat yang terakhir di dunia dan yang pertama pada Hari Kiamat, dan merekalah (umat-umat terdahulu) yang dihisab sebelum kami." (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda:
"Kami adalah umat yang terakhir, tetapi kami akan menjadi yang pertama pada Hari Kiamat, dan kami akan masuk surga sebelum mereka." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menggambarkan betapa besarnya karunia Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun mereka hidup di akhir zaman, namun mereka diberikan keutamaan yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya. Ini adalah kabar gembira yang seharusnya membuat kita semakin bersemangat dalam beribadah dan bersyukur kepada Allah.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam konteks bab tentang sumpah, karena hadits ini diriwayatkan dalam satu rangkaian dengan hadits-hadits lain yang berkaitan dengan sumpah dan nazar. Namun maknanya tetap umum dan mencakup seluruh umat Islam.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukur atas keutamaan umat ini: Kita harus menyadari bahwa menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad ﷺ adalah karunia terbesar yang Allah berikan kepada kita.
- Tidak sombong dengan keutamaan ini: Keutamaan ini adalah karunia Allah, bukan karena kehebatan kita. Maka kita harus tetap tawadhu' dan tidak meremehkan umat lain.
- Meningkatkan amal ibadah: Keutamaan ini seharusnya memotivasi kita untuk lebih giat beribadah, bukan bermalas-malasan.
- Menjaga syariat Nabi ﷺ: Karena kita adalah umat terakhir, maka kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengamalkan syariat ini hingga akhir zaman.
- Berlomba dalam kebaikan: Sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 148, kita diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.