Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sering bersumpah dengan menyebut sifat Allah sebagai "Musharrif al-Qulub" (Yang membolak-balikkan hati). Ini mengajarkan kita bahwa hati manusia sepenuhnya berada di tangan Allah, dan kita harus senantiasa memohon ketetapan hati kepada-Nya. Sumpah Nabi ﷺ dengan sifat ini juga menunjukkan pentingnya bertawassul dengan nama dan sifat Allah dalam ucapan sehari-hari.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَبُو الْحَسَنِ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كَثِيرًا مِمَّا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَحْلِفُ (لَا وَمُقَلِّبِ الْقُلُوبِ)
Terjemahan: Dari Abdullah (Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma), ia berkata: "Banyak di antara sumpah yang diucapkan Nabi ﷺ adalah: 'Tidak, demi Yang membolak-balikkan hati.'"
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya ketika dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya." (QS. Al-Anfal [8]: 24)
Ayat ini sangat erat kaitannya dengan hadits di atas, karena keduanya menegaskan bahwa Allah-lah yang menguasai hati manusia.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya bersumpah dengan nama-nama Allah yang menunjukkan sifat-sifat-Nya, seperti "Musharrif al-Qulub" (Yang membolak-balikkan hati). Beliau juga menyebutkan bahwa Ibnu Umar meriwayatkan hadits ini dalam konteks bahwa Nabi ﷺ sering bersumpah dengan kalimat ini.
- Imam al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam "Kitab Takdir" dan "Bab Yang Menghalangi Antara Manusia dan Hatinya", yang menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai dalil bahwa hati manusia sepenuhnya berada di bawah kekuasaan dan takdir Allah.
Penjelasan Rinci
Makna "Musharrif al-Qulub" (مُقَلِّبِ الْقُلُوبِ):
Kata "Musharrif" berasal dari kata qallaba yang berarti membolak-balikkan. Jadi, "Musharrif al-Qulub" adalah Allah yang membolak-balikkan hati manusia sesuai kehendak-Nya. Hati bisa berubah dari iman kepada kekufuran, dari ketaatan kepada kemaksiatan, dan sebaliknya. Tidak ada satu pun makhluk yang mampu mengendalikan hatinya sendiri kecuali dengan izin Allah.
Penjelasan para ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa sumpah Nabi ﷺ dengan kalimat ini menunjukkan pengakuan yang dalam terhadap kekuasaan Allah atas hati. Beliau juga menukil perkataan ulama bahwa makna "Allah membatasi antara manusia dan hatinya" adalah Allah menguasai hati manusia sepenuhnya, sehingga manusia tidak dapat berbuat sesuatu kecuali dengan kehendak Allah.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya memohon ketetapan hati kepada Allah, karena hati itu mudah berbolak-balik. Beliau juga mengingatkan bahwa doa Nabi ﷺ yang masyhur: "Ya Musharrifal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik" (Wahai Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu) adalah doa yang diajarkan untuk dibaca setiap saat.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Anfal [8]: 24 menunjukkan bahwa Allah menguasai hati hamba-Nya. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, Dia membuka hatinya untuk taat. Jika tidak, Dia membiarkannya dalam kesesatan. Ini semua adalah bagian dari takdir Allah yang adil dan bijaksana.
Hikmah dari hadits ini:
- Pengakuan atas kelemahan manusia: Manusia tidak memiliki kendali penuh atas hatinya sendiri. Oleh karena itu, kita harus selalu memohon kepada Allah agar meneguhkan hati kita di atas iman.
- Bolehnya bersumpah dengan nama/sifat Allah: Sumpah dalam Islam hanya boleh dengan nama Allah atau sifat-sifat-Nya. Nabi ﷺ bersumpah dengan sifat Allah "Musharrif al-Qulub" menunjukkan bahwa ini adalah bentuk sumpah yang dibenarkan.
- Pentingnya doa keteguhan hati: Karena hati mudah berubah, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa memohon keteguhan iman, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
Story Telling
Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal (dalam Musnad-nya) bahwa Ummu Salamah radhiyallahu 'anha berkata: "Wahai Rasulullah, aku heran mengapa engkau sering berdoa: 'Ya Musharrifal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik' (Wahai Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)." Maka Rasulullah ﷺ menjawab: "Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada satu hati pun melainkan berada di antara dua jari Allah. Jika Dia menghendaki, Dia meluruskannya, dan jika Dia menghendaki, Dia membengkokkannya."
Kemudian beliau ﷺ membaca doa tersebut. (HR. At-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)
Hikmah kisah ini: Bahkan Nabi ﷺ yang ma'shum (terjaga dari dosa) pun tetap memohon keteguhan hati kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa keteguhan iman adalah anugerah yang harus senantiasa diminta. Kita tidak boleh merasa aman dari fitnah dan kesesatan selama kita masih hidup di dunia.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak doa: Bacalah doa "Ya Musharrifal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik" setiap hari, terutama setelah shalat dan di waktu-waktu mustajab.
- Jangan merasa aman dari kesesatan: Selalu waspada bahwa hati bisa berubah, sehingga kita harus terus menjaga iman dengan ilmu, amal, dan lingkungan yang baik.
- Bersumpah dengan benar: Jika bersumpah, gunakan nama Allah atau sifat-Nya, bukan dengan selain Allah.
- Tawakal kepada Allah: Serahkan urusan hati kita sepenuhnya kepada Allah, karena Dialah yang mengendalikan segalanya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.