Penjelasan Hadits Bukhari No. 6615 tentang Zikir setelah shalat dan kekuasaan Allah atas rezeki

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan sebuah doa yang dibaca Nabi ﷺ setelah shalat, yang intinya menegaskan tauhid (keesaan Allah) dan pengakuan bahwa segala pemberian dan pencegahan hanya di tangan Allah. Tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi apa yang Allah berikan, dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Allah tahan. Kemuliaan, kekayaan, dan kedudukan seseorang tidak bermanfaat di hadapan Allah kecuali dengan iman dan amal saleh.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Fatir [35]: 2

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Terjemahan: "Apa saja yang Allah bukakan untuk manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang Allah tahan, maka tidak ada seorang pun yang dapat melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Takdir (Kitab al-Qadar), dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, melalui perantara Warrad maula Al-Mughirah. Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih-nya.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya berdzikir dan berdoa setelah shalat, dan bahwa doa ini mengandung pengakuan tauhid yang sangat mendalam.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa doa ini dianjurkan dibaca setelah shalat fardhu, dan maknanya mencakup penyerahan total kepada Allah dalam hal pemberian dan pencegahan.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menekankan bahwa hadits ini mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, dan tidak ada yang bisa menolak ketetapan-Nya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

Pertama: Tauhid yang murni. Kalimat "لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ" adalah inti dari ajaran Islam. Nabi ﷺ mengajarkan untuk mengucapkannya setelah shalat sebagai penegasan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Muhammad [47]: 19: "فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ" (Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah).

Kedua: Pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya yang memberi dan mencegah. Kalimat "اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ" mengandung makna bahwa tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menghalangi pemberian Allah, dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Allah tahan. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah pengakuan terhadap kekuasaan mutlak Allah atas segala urusan. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menyebutkan bahwa doa ini mengajarkan seorang hamba untuk tidak bergantung kepada makhluk dalam hal rezeki dan pencegahan, tetapi hanya kepada Allah.

Ketiga: Kekayaan dan kedudukan tidak bermanfaat tanpa amal. Kalimat "وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ" berarti bahwa kekayaan, kemuliaan, atau kedudukan seseorang tidak akan menyelamatkannya dari azab Allah. Yang bermanfaat hanyalah iman dan amal saleh. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa "al-jadd" di sini berarti kekayaan atau kemuliaan duniawi. Seorang yang kaya atau berkedudukan tinggi tidak bisa mengandalkan kekayaannya untuk menghindari hukuman Allah.

Keempat: Anjuran berdzikir setelah shalat. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membaca doa ini setelah shalat. Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar menyebutkan bahwa dzikir setelah shalat adalah sunnah yang dianjurkan, dan doa ini termasuk di dalamnya.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar: Sebagian ulama seperti Ibnu Taymiyyah menekankan bahwa doa ini dibaca setelah shalat fardhu, sementara sebagian lain menyebutkan bahwa bisa juga dibaca kapan saja. Namun, yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa doa ini dibaca setelah shalat fardhu, berdasarkan zhahir hadits.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Muawiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu, ketika menjadi khalifah, menulis surat kepada Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang dikenal cerdas dan pernah menjabat sebagai gubernur. Muawiyah meminta agar Al-Mughirah menuliskan apa yang didengar dari Nabi ﷺ setelah shalat. Al-Mughirah kemudian mendiktekan hadits ini kepada Warrad, maulanya. Warrad berkata: "Kemudian aku datang ke Muawiyah setelah itu, dan aku mendengarnya memerintahkan manusia untuk mengucapkan doa tersebut."

Kisah ini menunjukkan semangat para sahabat dalam menjaga dan menyebarkan sunnah Nabi ﷺ. Muawiyah sebagai khalifah pun tidak segan untuk meminta ilmu dari sahabat lain, dan Al-Mughirah dengan senang hati menyampaikannya. Ini adalah contoh tawadhu' dan semangat belajar di antara para sahabat. (Sumber: Shahih Al-Bukhari, Kitab al-Qadar)

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah doa ini setelah shalat fardhu sebagai bagian dari dzikir setelah shalat.
  2. Renungkan maknanya: hanya Allah yang memberi dan mencegah, sehingga kita tidak perlu takut atau berharap kepada selain-Nya.
  3. Jangan sombong dengan kekayaan atau kedudukan, karena semua itu tidak bermanfaat di hadapan Allah tanpa iman dan amal saleh.
  4. Ajarkan doa ini kepada keluarga dan orang lain, sebagaimana para sahabat saling mengajarkan sunnah.
  5. Perbanyaklah tauhid dengan mengucapkan kalimat "لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ" dan memahami maknanya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?