Penjelasan Hadits Bukhari No. 6610 tentang Keutamaan kalimat la haula wala quwwata illa billah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita dua hal penting: pertama, adab dalam berdoa dan berdzikir, yaitu tidak boleh berlebihan dalam mengeraskan suara, karena Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, tidak butuh kita berteriak. Kedua, keutamaan kalimat "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh" (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah) yang merupakan salah satu dari harta karun surga. Kalimat ini adalah kunci untuk merasa lemah di hadapan Allah dan hanya bersandar kepada-Nya dalam segala urusan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab At-Taqdir (Takdir), Bab "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh", dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

"Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina'." (QS. Ghafir [40]: 60)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah dekat dan mendengar doa hamba-Nya, sehingga tidak perlu berlebihan dalam bersuara.

Hadits terkait lainnya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barangsiapa yang mengucapkan 'Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh', maka ia akan mendapatkan salah satu dari harta karun surga." (HR. Al-Bukhari no. 6384, dan Muslim no. 2704)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "harta karun surga" adalah pahala yang besar dan tersembunyi, seperti harta karun yang tersembunyi di dalam bumi.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kalimat ini disebut "harta karun" karena ia adalah kalimat yang ringan di lisan tetapi berat di timbangan, dan mengandung makna penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.

Penjelasan Rinci

Pertama: Adab Berdzikir dan Berdoa

Dalam hadits ini, para sahabat mengeraskan suara takbir saat mendaki bukit dan menuruni lembah. Ini adalah bentuk semangat mereka dalam berdzikir. Namun, Rasulullah ﷺ meluruskan mereka dengan sabda: "Wahai manusia, rendahkanlah suara kalian (jangan berlebihan), karena sesungguhnya kalian tidak memanggil yang tuli atau yang tidak ada, tetapi kalian memanggil Yang Maha Mendengar, Yang Maha Melihat."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa dzikir dengan suara keras yang berlebihan bisa mengganggu orang lain yang sedang shalat atau berdzikir, dan bisa menjerumuskan pada riya' (pamer). Yang disunnahkan adalah dzikir dengan suara sedang, tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah Maha Mendengar semua suara, bahkan yang paling pelan sekalipun. Maka seorang hamba hendaknya berdoa dengan adab yang baik, merendahkan diri, dan khusyuk, bukan dengan berteriak-teriak.

Kedua: Makna "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh"

Kalimat ini bermakna: "Tidak ada daya untuk menghindari keburukan, dan tidak ada kekuatan untuk melakukan kebaikan, kecuali dengan pertolongan Allah."

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa kalimat ini adalah pengakuan seorang hamba bahwa dirinya tidak memiliki daya dan kekuatan sama sekali, dan ia hanya bersandar kepada Allah. Ini adalah puncak ketundukan dan kepasrahan seorang hamba kepada Rabbnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa kalimat ini adalah obat bagi segala kesulitan. Ketika seorang hamba merasa tidak mampu menghadapi suatu masalah, ia mengucapkan kalimat ini, maka Allah akan memberinya pertolongan dan kemudahan.

Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam kitabnya Al-Wabilush Shayyib menyebutkan bahwa kalimat ini adalah salah satu dzikir yang paling agung, karena ia mengandung penyerahan diri, ketundukan, dan pengakuan akan kelemahan hamba di hadapan kekuasaan Allah.

Perbedaan pemahaman ulama tentang "harta karun surga":

  • Sebagian ulama berpendapat bahwa maksudnya adalah kalimat ini akan menjadi simpanan pahala yang besar di surga kelak.
  • Sebagian lain berpendapat bahwa maksudnya adalah kalimat ini adalah sebab untuk masuk surga.
  • Imam An-Nawawi menggabungkan kedua pendapat ini: kalimat ini adalah amalan yang ringan namun pahalanya sangat besar, seperti harta karun yang nilainya sangat tinggi.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- ditimpa ujian yang sangat berat ketika beliau dipenjara dan disiksa karena mempertahankan aqidah bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah yang tidak diciptakan. Beliau dipukul dan diancam dengan pedang.

Di tengah siksaan itu, beliau terus mengucapkan kalimat "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh". Ketika ditanya tentang keadaannya, beliau berkata: "Aku mengucapkan kalimat ini, maka Allah mengganti ketakutanku dengan ketenangan, dan kesedihanku dengan kebahagiaan."

Hikmah dari kisah ini: Kalimat "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh" bukan sekadar dzikir lisan, tetapi ia adalah kekuatan batin yang membuat seorang hamba merasa tenang karena yakin bahwa Allah yang mengatur segalanya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan berlebihan dalam berdzikir dan berdoa - cukup dengan suara yang wajar, karena Allah Maha Mendengar.
  2. Perbanyak mengucapkan "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh" dalam keseharian, terutama saat menghadapi kesulitan.
  3. Rasakan makna kalimat ini - bahwa kita tidak punya daya dan kekuatan, semua hanya dari Allah.
  4. Ajarkan kalimat ini kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkannya kepada Abu Musa.
  5. Jadikan kalimat ini sebagai benteng mental saat menghadapi ujian hidup.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?