Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 66 tentang Adab duduk di majelis dan tiga golongan manusia

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab menghadiri majelis ilmu, yaitu berusaha mendekat dan duduk di tempat yang tersedia dengan penuh adab. Tiga orang yang datang dengan sikap berbeda mendapat balasan yang berbeda dari Allah: satu mendapat rahmat karena mencari tempat dan mendekat, satu mendapat perlindungan karena rasa malu, dan satu lagi dijauhkan karena berpaling. Ini menunjukkan bahwa niat dan adab dalam menuntut ilmu sangat diperhatikan oleh Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Shahih Al-Bukhari, Kitab Ilmu, Bab “Siapa yang Duduk di Tempat yang Berhenti di Majelis dan Siapa yang Melihat Celah di Lingkaran dan Duduk di Dalamnya”, no. 66. Dari sahabat Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu.

Penjelasan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari (w. 256 H) meletakkan hadits ini dalam bab khusus tentang adab duduk di majelis ilmu, menunjukkan pentingnya adab ini dalam menuntut ilmu.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan etika menghadiri majelis ilmu, yaitu berusaha duduk di tempat yang tersedia tanpa menyakiti orang lain, dan bahwa rasa malu adalah akhlak mulia yang mendatangkan rahmat Allah.
  • Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (meski hadits ini di Bukhari, beliau juga membahas adab serupa) menekankan bahwa duduk di majelis ilmu harus dengan adab, termasuk mencari celah untuk duduk jika ada, dan tidak memaksa orang lain berdiri.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan tiga sikap manusia saat menghadiri majelis ilmu, dan balasan Allah atas masing-masing sikap tersebut:

  1. Orang pertama: mencari celah dan duduk di dalam lingkaran.

Ia berusaha mendekat kepada Rasulullah ﷺ dan majelis ilmu. Sikap ini menunjukkan semangat dan keinginan kuat untuk mendapatkan ilmu. Allah pun “mengayuh” (memberi tempat dan rahmat) kepadanya. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam bahwa mendekat kepada majelis ilmu adalah bentuk taqarrub kepada Allah, dan Allah akan mendekatkan rahmat-Nya.

  1. Orang kedua: duduk di belakang karena malu.

Ia tidak berani maju ke depan karena rasa malu, baik malu kepada Rasulullah ﷺ maupun kepada orang-orang yang sudah duduk. Rasa malu ini adalah akhlak mulia yang dicintai Allah. Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin menyebutkan bahwa malu adalah cabang iman. Allah pun “malu” (dalam makna yang layak bagi-Nya) untuk menghukumnya, sehingga ia mendapat perlindungan dan ampunan.

  1. Orang ketiga: pergi meninggalkan majelis.

Ia berpaling dari majelis ilmu dan tidak tertarik untuk mendengarkan. Allah pun berpaling darinya, artinya tidak memberikan taufik dan rahmat-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa meninggalkan majelis ilmu tanpa uzur adalah tanda berpaling dari kebaikan, dan balasannya adalah dijauhkan dari rahmat Allah.

Pelajaran penting:

  • Adab menghadiri majelis ilmu: berusaha duduk di tempat yang tersedia, tidak menyuruh orang lain berdiri, dan tidak memaksakan diri ke depan jika tidak ada tempat.
  • Niat yang ikhlas dan semangat menuntut ilmu akan mendatangkan rahmat Allah.
  • Rasa malu yang terpuji (malu melakukan maksiat atau malu berbuat kurang adab) adalah akhlak mulia yang melindungi seseorang dari dosa.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, bahwa beliau sendiri sering duduk di majelis Rasulullah ﷺ dengan penuh adab. Suatu hari, beliau melihat seorang pemuda yang berusaha merapat ke lingkaran meskipun tempat sempit. Pemuda itu tidak memaksa orang lain berdiri, tetapi mencari celah kecil lalu duduk dengan tenang. Rasulullah ﷺ tersenyum melihatnya dan bersabda, “Barangsiapa yang mendekat kepada Allah, niscaya Allah akan mendekatkan rahmat-Nya kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 66, dengan makna serupa).

Kisah ini mengajarkan bahwa adab dalam majelis ilmu bukan sekadar formalitas, tetapi cerminan hati yang rindu kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kesimpulan Praktis

  • Jaga adab di majelis ilmu: carilah tempat duduk yang tersedia, jangan menyuruh orang lain berdiri, dan jangan memaksakan diri ke depan jika tidak ada tempat.
  • Tumbuhkan semangat mendekat kepada ilmu: niatkan setiap langkah menuju majelis ilmu sebagai ibadah dan taqarrub kepada Allah.
  • Pelihara rasa malu yang terpuji: malu untuk berbuat maksiat, malu untuk tidak adab, dan malu untuk meninggalkan kebaikan.
  • Hindari sikap berpaling dari majelis ilmu: karena itu bisa menyebabkan dijauhkan dari rahmat Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.