Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang menunggu shalat di masjid. Selama ia duduk di tempat shalatnya dalam keadaan suci dan tidak berhadats, para malaikat akan terus mendoakan ampunan dan rahmat untuknya. Bahkan, ia dianggap sedang dalam keadaan shalat selama ia hanya menunggu shalat dan tidak ada hal lain yang menahannya di masjid.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Ahzab [33]: 43
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Terjemahan: "Dialah yang bershalawat kepadamu (memuji dan memohonkan ampunan) dan para malaikat-Nya (juga memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman."
Ayat ini menunjukkan bahwa doa dan permohonan ampun dari malaikat adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang beriman.
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 659) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 649) dan para ulama hadits lainnya.
Penjelasan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (5/134) menjelaskan bahwa makna "para malaikat bershalawat" adalah mereka mendoakan dan memohonkan ampunan. Beliau juga menegaskan bahwa pahala menunggu shalat sangat besar, bahkan setara dengan pahala shalat itu sendiri selama ia dalam keadaan menunggu.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (2/130) menjelaskan bahwa yang dimaksud "مُصَلاَّهُ" (tempat shalatnya) adalah tempat di mana ia melaksanakan shalat, baik itu di masjid maupun di tempat lain. Namun, keutamaan ini lebih sempurna jika dilakukan di masjid. Beliau juga menjelaskan bahwa "لَمْ يُحْدِثْ" (tidak berhadats) mencakup hadats kecil maupun besar, dan juga segala sesuatu yang membatalkan wudhu.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (3/17) menjelaskan bahwa orang yang menunggu shalat mendapatkan pahala seperti orang yang sedang shalat, karena niat dan kesabarannya menunggu merupakan ibadah yang dicintai Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa faedah penting:
- Keutamaan Menunggu Shalat: Seseorang yang telah selesai shalat fardhu, lalu ia tetap duduk di tempat shalatnya untuk menunggu shalat berikutnya, maka ia mendapatkan pahala yang besar. Para malaikat akan terus mendoakannya.
- Doa Malaikat: Doa malaikat "Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah, rahmatilah dia" menunjukkan bahwa ampunan dan rahmat adalah dua hal yang sangat dibutuhkan seorang hamba. Ampunan untuk menghapus dosa, dan rahmat untuk mendapatkan kebaikan dan dijauhkan dari keburukan.
- Syarat Mendapatkan Keutamaan Ini:
- Tidak berhadats: Ia harus dalam keadaan suci (berwudhu). Jika ia berhadats, maka doa malaikat tidak lagi untuknya, dan ia tidak lagi dianggap dalam keadaan menunggu shalat.
- Niat menunggu shalat: Ia duduk di masjid semata-mata karena menunggu shalat berikutnya, bukan karena urusan duniawi. Jika ia keluar masjid untuk suatu keperluan, maka keutamaan ini hilang.
- Dianggap Sedang Shalat: Sabda Nabi ﷺ, "لاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا دَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ" (salah seorang di antara kalian senantiasa dianggap dalam shalat selama shalatlah yang menahannya) menunjukkan bahwa pahala orang yang menunggu shalat disamakan dengan pahala orang yang sedang shalat. Ini adalah kemurahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Pendapat Ulama tentang "Tempat Shalat":
- Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam "Bab Siapa yang Duduk di Masjid Menunggu Shalat", yang mengindikasikan bahwa keutamaan ini lebih utama jika dilakukan di masjid.
- Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa meskipun secara tekstual "مُصَلاَّهُ" bisa berarti tempat shalat di mana pun, namun konteks hadits dan bab menunjukkan bahwa keutamaan ini dikaitkan dengan masjid, karena masjid adalah tempat yang paling utama untuk menunggu shalat berjamaah.
Story Telling
Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal (dalam Az-Zuhd), bahwa Abu Darda' radhiyallahu 'anhu berkata, "Barangsiapa yang duduk di masjid menunggu shalat, maka ia seperti orang yang sedang shalat sampai ia kembali ke rumahnya." Beliau juga berkata, "Sesungguhnya aku duduk di masjid menunggu shalat Ashar, lebih aku cintai daripada aku beribadah di rumahku selama sepuluh tahun."
Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat dan salafush shalih sangat menghargai waktu mereka di masjid. Mereka tidak menganggapnya sebagai waktu yang sia-sia, melainkan sebagai ladang pahala yang berlimpah. Mereka lebih memilih duduk di masjid menunggu shalat daripada sibuk dengan urusan duniawi yang tidak mendesak.
Kesimpulan Praktis
- Jaga Wudhu: Usahakan untuk selalu dalam keadaan suci ketika berada di masjid, terutama setelah shalat dan menunggu shalat berikutnya.
- Niat yang Ikhlas: Duduklah di masjid dengan niat untuk beribadah, menunggu shalat, berdzikir, atau membaca Al-Qur'an. Jangan sampai niat kita tercampuri dengan hal-hal duniawi yang tidak bermanfaat.
- Manfaatkan Waktu: Gunakan waktu menunggu shalat dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti berdzikir, membaca Al-Qur'an, atau mendengarkan kajian. Ini akan menambah pahala kita.
- Jangan Mudah Keluar Masjid: Jika tidak ada keperluan yang mendesak, tetaplah di masjid setelah shalat untuk menunggu shalat berikutnya. Ini adalah amalan yang sangat dianjurkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.