Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung dari Nabi ﷺ tentang sekelompok besar umatnya yang masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal) dan tanpa adzab. Mereka digambarkan saling berpegang tangan, wajah mereka bercahaya seperti bulan purnama. Para ulama menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat khusus, seperti tidak meminta ruqyah (jampi-jampi), tidak melakukan tathayyur (menganggap sial), dan hanya bertawakal kepada Allah. Ini adalah kabar yang memotivasi kita untuk meneladani sifat-sifat mulia mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq, Bab "Masuk Surga Tujuh Puluh Ribu Tanpa Hisab", nomor 6543, dari sahabat Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu. Teks haditsnya adalah sebagai berikut:
<p>لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا أَوْ سَبْعُمِائَةِ أَلْفٍ ـ شَكَّ فِي أَحَدِهِمَا ـ مُتَمَاسِكِينَ، آخِذٌ بَعْضُهُمْ بِبَعْضٍ، حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلُهُمْ وَآخِرُهُمُ الْجَنَّةَ، وَوُجُوهُهُمْ عَلَى ضَوْءِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ</p>
Artinya: "Akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu – perawi ragu antara keduanya – yang saling berpegang tangan, hingga yang pertama dan yang terakhir dari mereka masuk surga, dan wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan purnama di malam badar (malam purnama)."
Hadits Pendukung:
Dalam riwayat lain, Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu (no. 5705) dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma (no. 5706) bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab, yaitu:
<p>هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ</p>
Artinya: "Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah (jampi-jampi), tidak melakukan tathayyur (menganggap sial dengan burung atau lainnya), dan hanya kepada Rabb mereka mereka bertawakal."
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari daftar rujukan menjelaskan hadits ini, di antaranya:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (11/390) menjelaskan secara panjang lebar tentang makna hadits ini, termasuk perbedaan riwayat tentang jumlah (70.000 atau 700.000) dan sifat-sifat mereka.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (1/230) juga menjelaskan hadits ini dan menggabungkan dengan riwayat-riwayat lain yang menyebutkan tambahan jumlah.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin dan kitab-kitabnya menjelaskan bahwa sifat-sifat yang disebutkan dalam hadits ini adalah sebab untuk meraih keutamaan tersebut.
Penjelasan Rinci
1. Makna Umum Hadits
Hadits ini adalah salah satu kabar gembira terbesar bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. Beliau mengabarkan bahwa akan ada tujuh puluh ribu orang dari umatnya yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Ini adalah keistimewaan yang sangat besar, karena kebanyakan manusia akan dihisab (dihitung amalnya) terlebih dahulu sebelum masuk surga.
2. Penjelasan Jumlah: 70.000 atau 700.000?
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa perawi (Abu Hazim) ragu antara tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu. Namun, dalam riwayat lain yang shahih, disebutkan bahwa Allah akan menambah untuk setiap orang dari mereka tujuh puluh ribu orang lainnya. Ini sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
<p>وَيَزِيدُكُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ يَزِيدُنَا؟ قَالَ: مَعَ كُلِّ رَجُلٍ سَبْعُونَ أَلْفًا</p>
Artinya: "Dan Allah akan menambah untuk kalian." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana Allah menambah untuk kami?" Beliau menjawab, "Bersama setiap orang ada tujuh puluh ribu (yang lain)."
Maka, jika dihitung, jumlahnya menjadi sangat banyak. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dan banyaknya umat Nabi Muhammad ﷺ yang akan masuk surga.
3. Sifat-Sifat Mereka yang Masuk Surga Tanpa Hisab
Dalam hadits Abu Hurairah dan Ibnu Abbas yang disebutkan di atas, Nabi ﷺ menjelaskan sifat-sifat mereka:
- Tidak meminta ruqyah (لَا يَسْتَرْقُونَ): Mereka tidak meminta orang lain untuk membacakan jampi-jampi atau doa penyembuhan atas diri mereka. Ini bukan berarti ruqyah itu haram, tetapi mereka meninggalkannya karena kesempurnaan tawakal mereka kepada Allah. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang tercela adalah meminta ruqyah, adapun meruqyah diri sendiri atau orang lain dengan bacaan Al-Qur'an dan doa-doa yang syar'i adalah boleh bahkan dianjurkan.
- Tidak melakukan tathayyur (وَلَا يَتَطَيَّرُونَ): Mereka tidak menganggap sial terhadap sesuatu, seperti burung, angka, atau kejadian tertentu. Ini adalah bentuk kesempurnaan tauhid mereka, karena mereka tidak menghubungkan kejadian baik atau buruk dengan selain Allah.
- Hanya kepada Allah mereka bertawakal (وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ): Tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah melakukan ikhtiar yang maksimal. Mereka bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam segala keadaan.
4. Makna "Saling Berpegang Tangan" dan "Wajah Bercahaya"
Nabi ﷺ menggambarkan mereka "saling berpegang tangan" (مُتَمَاسِكِينَ). Ini menunjukkan persatuan, persaudaraan, dan saling tolong-menolong di antara mereka. Mereka masuk surga bersama-sama, tidak terpisah-pisah. Ini adalah gambaran indah tentang ukhuwah Islamiyah yang hakiki.
Adapun "wajah mereka bercahaya seperti bulan purnama" (وَوُجُوهُهُمْ عَلَى ضَوْءِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ), ini adalah gambaran tentang kenikmatan dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Wajah mereka berseri-seri karena kebahagiaan dan kemuliaan yang Allah berikan. Ini juga menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman dengan cahaya di hati mereka, yang terpancar hingga ke wajah mereka.
5. Pelajaran dari Hadits
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tawakal yang sempurna kepada Allah. Orang yang benar-benar bertawakal kepada Allah akan merasakan ketenangan hati dan tidak bergantung kepada makhluk. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat khurafat seperti tathayyur, dan mereka tidak terlalu bergantung pada perantara-perantara yang tidak disyariatkan.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang tawakal yang bisa kita ambil pelajaran dari kehidupan para salaf. Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal (semoga Allah merahmatinya) pernah ditanya oleh seseorang, "Wahai Imam, bagaimana saya bisa sampai kepada derajat tawakal yang sempurna?" Maka Imam Ahmad menjawab dengan sebuah kisah:
"Suatu ketika, ada seekor burung kecil yang keluar dari sarangnya di pagi hari dalam keadaan lapar. Ia terbang mencari rezeki. Di sore hari, ia kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang. Begitulah setiap hari. Burung itu tidak pernah menyimpan makanan untuk esok hari. Ia keluar setiap pagi dengan tawakal kepada Allah, dan Allah selalu mencukupinya."
Kemudian Imam Ahmad berkata, "Jika engkau ingin meraih tawakal yang sempurna, maka jadilah seperti burung itu. Keluarlah setiap pagi untuk mencari rezeki dengan keyakinan bahwa Allah akan mencukupimu, dan janganlah engkau terlalu khawatir tentang hari esok."
Kisah ini menunjukkan bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi berusaha dengan sungguh-sungguh sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah. Inilah yang dilakukan oleh burung kecil tersebut, dan inilah yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak tawakal kepada Allah dalam segala urusan, baik yang kecil maupun yang besar. Tawakal adalah kunci untuk meraih ketenangan hati dan kemuliaan di sisi Allah.
- Jauhi tathayyur (menganggap sial) dalam bentuk apa pun, karena ini adalah perbuatan syirik kecil yang dapat merusak tauhid.
- Jangan terlalu bergantung pada makhluk dalam urusan yang seharusnya hanya bergantung kepada Allah, seperti meminta ruqyah secara berlebihan tanpa alasan syar'i.
- Jaga persaudaraan dan persatuan dengan sesama muslim, karena gambaran mereka yang saling berpegang tangan menunjukkan pentingnya ukhuwah.
- Perbanyak amal saleh dan jauhi maksiat, karena masuk surga tanpa hisab adalah buah dari keimanan dan ketakwaan yang mendalam.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.