Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ bahwa di antara umatnya akan ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, dengan wajah bercahaya seperti bulan purnama. Hal ini menunjukkan keutamaan besar berupa tawakal yang sempurna, menjauhi ilmu ramalan dan ruqyah berlebihan, serta bersegera dalam meraih kebaikan. Kisah ‘Ukasyah yang segera meminta doa kepada Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tidak menunda-nunda dalam kebaikan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur’an
QS. Az-Zumar [39]: 73 (sebagai penguat bahwa orang-orang bertakwa masuk surga dengan penuh kemuliaan):
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ
Terjemahan: "Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka dibawa ke dalam surga berkelompok-kelompok. Sehingga apabila mereka sampai ke surga dan pintu-pintunya telah dibuka, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka: 'Kesejahteraan atasmu, berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini untuk selama-lamanya.'"
Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih no. 6542, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Juga terdapat riwayat penguat lainnya, seperti sabda Nabi ﷺ:
> "هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ، وَلاَ يَكْتَوُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ"
> “Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meramal nasib, tidak melakukan pengobatan dengan kay (besi panas), dan hanya bertawakal kepada Tuhan mereka.” (HR. al-Bukhari no. 5752, Muslim no. 218)
Kaitan dengan Ulama
- Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (11/411-414) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tawakal dan bahaya bergantung pada selain Allah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/90) menegaskan bahwa mereka adalah orang yang tidak meminta ruqyah (jampi-jampi) karena terlalu percaya kepada Allah, bukan karena haram.
- Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (hal. 237-238) menyebut bahwa mereka adalah orang yang meninggalkan hal-hal yang menjadi sebab kesyirikan kecil.
Penjelasan Rinci
Makna Umum Hadits
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa di antara umatnya akan ada sekelompok besar (70.000 orang) yang masuk surga tanpa hisab. Ini adalah anugerah besar, karena mayoritas umat akan melalui hisab atau bahkan siksa terlebih dahulu. Wajah mereka bersinar seperti bulan purnama, menunjukkan kemuliaan dan cahaya keimanan yang sempurna.
Para ulama bersepakat bahwa jumlah 70.000 tidak berarti batas mutlak, tetapi bisa bertambah seperti yang dijelaskan dalam riwayat lain bahwa setiap satu dari 70.000 itu akan ditambah 70.000 pula (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani). Ini adalah keutamaan bagi umat Nabi Muhammad ﷺ.
Siapa Mereka?
Dari hadits lain, Nabi ﷺ menjelaskan:
> "مَنِ اسْتَكْفَى بِدِينِهِ، وَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ، وَلَمْ يَطْلُبِ الرُّقَى وَالْكَيَّ وَالطِّيَرَةَ"
> “Barangsiapa yang merasa cukup dengan agamanya, bertawakal kepada Allah, tidak meminta ruqyah, tidak meminta kay (besi panas), dan tidak percaya ramalan.” (HR. Bukhari)
Imam Ibn al-Qayyim dalam Madarij as-Salikin (2/191) menjelaskan bahwa tawakal mereka sempurna sehingga hati mereka tidak bergantung kepada selain Allah. Mereka tidak meminta ruqyah karena yakin bahwa ruqyah hukumnya boleh, namun mereka meninggalkannya demi kesempurnaan tawakal, bukan karena mengharamkannya. Demikian juga mereka tidak meramal nasib (tathayyur) karena itu adalah bentuk kesyirikan. Mereka juga tidak menggunakan pengobatan dengan kay (besi panas) karena lebih memilih tawakal dan doa.
Ibnu Rajab al-Hanbali menambahkan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mengadakan perjanjian dengan dukun atau para peramal, dan tidak menggantungkan hati pada selain Allah. Inilah puncak keikhlasan.
Kisah ‘Ukasyah dan Pelajaran di Dalamnya
Ketika Nabi ﷺ menyampaikan kabar gembira ini, ‘Ukasyah bin Mihshan al-Asadi – seorang sahabat yang terkenal dengan keberaniannya – segera berdiri, menyingkap selendangnya, dan meminta doa agar dimasukkan ke dalam golongan itu. Beliau ﷺ mendoakannya. Kemudian seorang laki-laki Anshar mencoba menyusul, namun Nabi bersabda, “Engkau telah didahului oleh ‘Ukasyah.”
Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim (16/91) mengomentari: “Ini menunjukkan keutamaan bersegera dalam kebaikan. Barangsiapa yang terlambat, ia akan kehilangan kesempatan. ‘Ukasyah beruntung karena dia lebih dulu mengambil kesempatan itu.”
Imam Ibn Hajar menegaskan bahwa bersegera dalam meminta kebaikan adalah sifat orang yang beruntung, dan sikap menunda-nunda sering menyebabkan kerugian. Kisah ini juga menunjukkan bahwa seorang mukmin boleh meminta doa khusus kepada orang shalih, selama tidak mengandung unsur syirik atau bergantung pada makhluk secara berlebihan.
Story Telling
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami duduk bersama Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda: ‘Akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu orang yang wajahnya bercahaya seperti bulan purnama.’ Maka berdirilah ‘Ukasyah dengan semangat, dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, doakan aku ya Allah, jadikan aku salah seorang dari mereka.’ Nabi pun berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah dia dari mereka.’ Ketika seorang Anshar juga memohon, beliau mengatakan: ‘‘Ukasyah telah mendahuluimu’.” (HR. Bukhari)
Hikmah dari kisah ini:
- Jangan pernah ragu untuk memohon kebaikan kepada Allah melalui doa orang shalih.
- Sikap segera dan tidak menunda-nunda adalah kunci meraih keberkahan.
- Kita diajarkan untuk tidak iri dengan orang yang lebih dahulu dalam kebaikan, tetapi justru mengambil pelajaran untuk lebih giat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (1/147) menyebut bahwa doa Nabi ﷺ untuk ‘Ukasyah adalah salah satu mukjizat, karena ternyata ‘Ukasyah benar-benar termasuk golongan itu dan gugur sebagai syahid di masa Khalifah Abu Bakr. (Riwayat al-Hakim)
Kesimpulan Praktis
- Bertawakal sepenuhnya kepada Allah – jangan sampai hati bergantung pada ramalan, jampi-jampi, atau pengobatan yang menjurus pada syirik.
- Jangan menunda-nuda dalam kebaikan – bersegeralah meraih pahala dan doa dari orang shalih.
- Menjauhi tathayyur (ramalan nasib) – karena itu adalah pintu kesyirikan dan melemahkan tawakal.
- Meminta doa kepada sesama muslim yang dikenal kebaikannya – ini dibolehkan selama tidak berlebihan dan disertai keyakinan bahwa hanya Allah yang memberi manfaat.
- Yakinlah bahwa rahmat Allah amat luas – jumlah 70.000 bisa bertambah, maka kita pun bisa berharap menjadi bagian dari mereka dengan memperbaiki tawakal dan ikhlas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.