Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6541 tentang Tujuh puluh ribu masuk surga tanpa hisab

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan keutamaan besar bagi 70.000 orang dari umat Nabi Muhammad ﷺ yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Sifat mereka adalah tidak meminta ruqyah, tidak melakukan pengobatan dengan kay (besi panas), tidak bertathayyur (menganggap sial sesuatu), dan hanya bertawakal kepada Allah. Ini adalah kabar gembira sekaligus motivasi untuk meneladani sifat-sifat luhur tersebut.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab ar-Riqaq, Bab Dukhul al-Jannah bila Hisab (no. 6541). Teks hadits telah disebutkan lengkap di atas.

Ayat Al-Qur'an yang relevan dengan makna tawakal dalam hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:

QS. At-Talaq [65]: 3

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu."

Ayat ini menjelaskan bahwa tawakal yang benar kepada Allah akan mendatangkan kecukupan dari-Nya, sebagaimana sifat utama yang disebut dalam hadits.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung, diriwayatkan oleh sahabat mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menceritakan peristiwa saat diperlihatkan umat-umat terdahulu. Beliau melihat kondisi para nabi dan jumlah pengikut mereka yang sangat bervariasi, ada yang banyak, sedikit, bahkan ada yang sendirian. Kemudian beliau diperlihatkan sekumpulan besar manusia yang ternyata adalah umat beliau sendiri, dan di depan mereka ada 70.000 orang yang memiliki keistimewaan khusus.

Sifat-sifat 70.000 Orang Tersebut:

  1. Tidak Meminta Ruqyah (لَا يَسْتَرْقُونَ): Mereka tidak meminta orang lain untuk membacakan ruqyah (jampi-jampi) atas diri mereka. Ini bukan berarti meruqyah diri sendiri atau meruqyah orang lain itu terlarang secara mutlak. Yang dimaksud adalah mereka tidak menggantungkan diri pada ruqyah sebagai sebab kesembuhan, melainkan tawakal mereka kepada Allah sangat kuat. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa maknanya adalah mereka tidak meminta ruqyah dari orang lain karena kesempurnaan tawakal mereka. Adapun meruqyah orang lain atau diri sendiri dengan bacaan Al-Qur'an dan doa-doa yang syar'i adalah boleh dan dianjurkan, sebagaimana Rasulullah ﷺ sendiri meruqyah para sahabatnya.
  2. Tidak Melakukan Kay (لَا يَكْتَوُونَ): Kay adalah pengobatan dengan cara menyetrika bagian tubuh yang sakit dengan besi panas. Ini adalah praktik pengobatan yang keras dan menyakitkan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa meninggalkan kay ini adalah bentuk kesempurnaan tawakal, karena mereka tidak mau menggunakan cara yang keras dan menyakitkan. Namun, jika ada kebutuhan medis yang mendesak dan tidak ada cara lain, maka kay diperbolehkan, tetapi lebih utama ditinggalkan.
  3. Tidak Bertathayyur (وَلَا يَتَطَيَّرُونَ): Tathayyur adalah menganggap sial terhadap sesuatu, seperti melihat burung, angka, atau kejadian tertentu lalu meyakini itu sebagai pertanda buruk. Ini adalah bentuk kesyirikan kecil karena menggantungkan hati pada selain Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa tathayyur adalah perbuatan syirik yang dilarang, dan orang yang bertawakal sejati tidak akan terpengaruh oleh hal-hal semacam itu.
  4. Hanya Bertawakal kepada Allah (وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ): Inilah inti dari semua sifat di atas. Tawakal adalah menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak mudarat, seraya melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, "Tawakal adalah amalan hati." Artinya, keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin dan takdir Allah, sehingga hati tidak bergantung pada makhluk atau sebab-sebab lahiriah.

Pelajaran dari Kisah Ukasyah:

Ketika Nabi ﷺ menyebutkan keutamaan ini, sahabat Ukasyah bin Mihsan radhiyallahu 'anhu langsung berdiri dan meminta didoakan agar termasuk golongan tersebut. Ini menunjukkan semangat para sahabat dalam meraih kebaikan. Nabi ﷺ pun mendoakannya. Ketika ada orang lain yang meminta hal yang sama, beliau bersabda, "Ukasyah telah mendahuluimu." Ini mengajarkan bahwa dalam kebaikan, kita harus bersegera dan tidak menunda-nunda, karena kesempatan bisa saja terbatas.

Story Telling

Dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau menceritakan bahwa suatu hari Nabi ﷺ bersabda, "Diperlihatkan kepadaku umat-umat (terdahulu)." Lalu beliau melihat seorang nabi yang lewat bersama sekelompok kecil pengikutnya, ada nabi yang lewat bersama satu atau dua orang, dan ada nabi yang lewat sendirian. Kemudian beliau melihat sekumpulan besar manusia yang sangat banyak. Beliau mengira itu adalah umatnya, tetapi Jibril memberitahu bahwa itu adalah umat Nabi Musa. Kemudian Jibril menyuruh beliau melihat ke arah ufuk, dan di sanalah beliau melihat umatnya sendiri yang sangat banyak, dan di depan mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab. (HR. Bukhari dan Ahmad).

Kisah ini menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya. Beliau sangat gembira melihat jumlah umatnya yang banyak. Namun, beliau juga memberikan kabar gembira tentang adanya kelompok khusus yang memiliki kedudukan tinggi karena kesempurnaan tawakal mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak Tawakal: Latihlah hati untuk selalu bersandar kepada Allah dalam setiap urusan, baik kecil maupun besar. Yakinlah bahwa hanya Allah yang memberi manfaat dan mudarat.
  2. Jauhi Tathayyur: Jangan pernah menganggap sial terhadap sesuatu. Jika terlintas pikiran buruk, maka hadapilah dengan tawakal dan ucapkan, "La ilaha illallah."
  3. Gunakan Sebab yang Syar'i: Berobat adalah boleh dan dianjurkan, tetapi jangan sampai hati bergantung pada obat atau dokter. Gunakan pengobatan yang paling ringan dan tidak menyiksa, serta jangan meminta ruqyah secara berlebihan.
  4. Bersegera dalam Kebaikan: Seperti Ukasyah, jangan tunda-tunda untuk meraih amal shalih. Berdoalah kepada Allah agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang bertawakal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.