Penjelasan Hadits Bukhari No. 6537 tentang Hisab yang teliti akan menyiksa manusia

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa pada hari kiamat nanti, manusia akan dihisab (diperhitungkan amalnya) oleh Allah. Namun, ada dua macam hisab: pertama, 'ardh yaitu sekadar menampakkan dan memberitahukan amal kepada hamba tanpa menuntut detail, dan ini yang dialami oleh orang-orang beriman yang masuk surga. Kedua, munāqasyah yaitu hisab yang sangat teliti dan detail, di mana setiap amal diperiksa satu per satu, dan inilah yang menyebabkan kebinasaan dan adzab bagi pelakunya. Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak merasa aman dari hisab Allah dan senantiasa bermuhasabah diri di dunia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq, Bab "Man Yuḥāsabu Yaumal Qiyāmah 'Użżiba" (Bab Siapa yang Diperhitungkan Akhiratnya Akan Disiksa), no. 6537, dari sahabat 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Dalil Al-Qur'an yang disebutkan dalam hadits adalah firman Allah Ta'ala:

QS. Al-Insyiqaq [84]: 7-8

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ * فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

"Maka adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah."

Ayat ini menjadi pertanyaan 'Aisyah radhiyallahu 'anha kepada Nabi ﷺ, dan dijawab oleh beliau bahwa yang dimaksud hisaban yasiran (perhitungan yang mudah) adalah al-'ardh (sekadar menampakkan amal), bukan munāqasyah (pemeriksaan detail).

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hisab pada hari kiamat ada dua macam:

Pertama: Al-'Ardh (العَرْض) - Yaitu amal perbuatan hanya ditampakkan dan diberitahukan kepada hamba, tanpa dituntut detail dan tanpa dipermalukan. Ini adalah hisab yang ringan dan mudah, yang dialami oleh orang-orang mukmin. Mereka tidak akan diajak bicara satu per satu tentang dosa-dosa mereka, tetapi hanya diperlihatkan amal baik mereka, lalu Allah mengampuni keburukan mereka karena kasih sayang-Nya.

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hisaban yasiran adalah ketika Allah menampakkan amal hamba-Nya yang mukmin, lalu Dia menutupi dosa-dosanya dan tidak mempermalukannya di hadapan makhluk. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang orang yang Allah "mengejeknya" dengan dosa-dosanya di hadapannya sendiri, lalu Allah berfirman, "Aku tutupi dosamu di dunia, dan hari ini Aku mengampunimu."

Kedua: Al-Munāqasyah (المُنَاقَشَة) - Yaitu hisab yang sangat teliti dan detail, di mana setiap amal, baik besar maupun kecil, diperiksa dan dituntut satu per satu. Inilah yang dimaksud dalam hadits bahwa "barangsiapa yang diperiksa hisabnya (dengan teliti) pada hari kiamat, maka ia akan disiksa." Hisab jenis ini tidak akan selamat darinya kecuali orang yang binasa, karena tidak ada seorang pun yang mampu mempertanggungjawabkan setiap detail amalnya tanpa ada kekurangan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa munāqasyah adalah hisab yang di dalamnya Allah menuntut hamba-Nya tentang semua dosa-dosanya secara detail. Adapun 'ardh, Allah hanya menampakkan amal-amal baik dan menutupi keburukan. Maka orang yang dihisab dengan 'ardh akan selamat, sedangkan orang yang dihisab dengan munāqasyah akan celaka.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya tentang hisab menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa agungnya urusan hisab. Bahkan 'Aisyah radhiyallahu 'anha yang merupakan istri Nabi ﷺ dan orang yang paling dicintai beliau, ketika mendengar sabda Nabi ﷺ bahwa "tidak ada seorang pun yang dihisab kecuali akan binasa," ia khawatir dan bertanya tentang ayat hisaban yasiran. Maka Nabi ﷺ menjelaskan bahwa yang dimaksud binasa adalah hisab dengan munāqasyah, bukan sekadar 'ardh.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa hisaban yasiran adalah hisab yang ringan, yaitu Allah melihat amal-amal hamba-Nya yang beriman, lalu Allah menutupi dosa-dosanya dan memasukkannya ke surga. Ini berbeda dengan hisab orang-orang kafir dan munafik yang akan dihisab dengan hisab yang sangat berat dan detail.

Story Telling

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebagian doanya: 'Barangsiapa yang dihisab pada hari kiamat, maka ia akan disiksa.' Maka aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, bukankah Allah berfirman: "Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah"?' Maka beliau bersabda: 'Itu adalah al-'ardh (sekadar menampakkan amal), bukan hisab. Barangsiapa yang diajak bicara secara detail dalam hisab pada hari kiamat, maka ia akan disiksa.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain dari 'Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang dihisab pada hari kiamat, maka ia akan disiksa." Aku bertanya, "Bukankah Allah berfirman: 'Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah'?" Beliau menjawab: "Itu adalah al-'ardh. Tidaklah seorang hamba diajak bicara secara detail dalam hisab pada hari kiamat, kecuali ia akan binasa."

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat, termasuk 'Aisyah yang merupakan istri Nabi ﷺ dan seorang yang sangat alim, tetap merasa khawatir dan takut terhadap hisab Allah. Mereka tidak merasa aman dari adzab Allah meskipun memiliki kedudukan tinggi di sisi Rasulullah ﷺ. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk tidak pernah merasa aman dari hisab Allah dan selalu bermuhasabah diri.

Kesimpulan Praktis

  1. Hisab pada hari kiamat itu pasti terjadi - Setiap manusia akan dihisab oleh Allah atas amalnya, tidak ada yang luput.
  2. Ada dua jenis hisab: 'Ardh (sekadar menampakkan amal) yang ringan dan dialami orang mukmin, serta Munāqasyah (pemeriksaan detail) yang menyebabkan adzab.
  3. Jangan merasa aman dari hisab Allah - Meskipun kita banyak beramal, kita tidak boleh merasa aman dari hisab yang detail. Sebagaimana 'Aisyah radhiyallahu 'anha yang sangat mulia tetap khawatir.
  4. Perbanyak muhasabah diri di dunia - Dengan menghisab diri sendiri di dunia, kita akan lebih siap menghadapi hisab di akhirat. Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Seorang mukmin adalah pemimpin bagi dirinya sendiri; ia menghisab dirinya untuk Allah. Hisab di akhirat akan terasa ringan bagi orang yang menghisab dirinya di dunia."
  5. Perbanyak istighfar dan taubat - Karena dosa-dosa yang kita tutupi di dunia, jika tidak kita taubati, akan ditampakkan di akhirat. Maka segeralah bertaubat sebelum datang hari di mana tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?