Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan dahsyatnya hari kiamat, di mana manusia akan berkeringat sangat banyak hingga keringatnya merendam mereka sampai sebatas telinga. Ini adalah salah satu gambaran yang Allah berikan melalui lisan Nabi-Nya ﷺ agar kita merasakan betapa agung dan mengerikannya hari itu, sehingga kita bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mempersiapkan diri.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَ
"Dan pada hari ketika terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa bersumpah (bahwa) mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja). Demikianlah dahulu mereka dipalingkan (dari kebenaran)." (QS. Ar-Rum [30]: 55)
Ayat ini menunjukkan bahwa pada hari kiamat, manusia akan merasakan keadaan yang sangat berat dan menegangkan, sehingga mereka merasa waktu yang mereka lalui di dunia terasa sangat singkat.
Hadits Terkait:
Hadits yang Anda tanyakan adalah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq, Bab Firman Allah Ta'ala: "Tidakkah mereka mengira bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari yang besar, hari ketika manusia berdiri di hadapan Tuhan semesta alam" (QS. Al-Muthaffifin [83]: 4-6).
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama, seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari), menjelaskan bahwa hadits ini adalah bagian dari berita-berita ghaib yang wajib kita imani. Kita tidak perlu mempertanyakan bagaimana caranya, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Imam An-Nawawi juga menegaskan dalam Syarah Shahih Muslim bahwa gambaran-gambaran seperti ini adalah hakikat yang akan terjadi, dan kita wajib mengimaninya tanpa menanyakan bagaimana (bila kaif).
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan salah satu fase hari kiamat, yaitu ketika seluruh manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar. Mereka berdiri dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki, dan belum dikhitan, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain. Pada saat itu, matahari didekatkan ke atas kepala mereka, dan bumi menjadi sangat panas. Akibatnya, manusia akan berkeringat dengan sangat deras.
Makna "tujuh puluh hasta": Ini adalah ukuran yang Allah berikan untuk menunjukkan betapa banyaknya keringat tersebut. Keringat itu tidak hanya membasahi tubuh, tetapi merendam hingga ke dalam tanah. Ini adalah gambaran yang sangat mengerikan, menunjukkan betapa beratnya keadaan hari itu.
Makna "mengalir hingga mencapai mulut dan telinga": Ini menunjukkan bahwa keringat tersebut sangat banyak hingga menenggelamkan manusia. Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa keringat itu akan mencapai mulut mereka, sehingga mereka tidak bisa berbicara dengan baik. Ini adalah salah satu bentuk kesulitan dan penderitaan yang akan dialami manusia di hari itu.
Tingkatan manusia dalam kesusahan ini: Para ulama menjelaskan bahwa tingkat kesusahan ini berbeda-beda sesuai dengan amal perbuatan manusia. Ada yang keringatnya hanya sampai mata kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai mulut, dan ada yang sampai telinga. Semakin banyak amal baiknya, semakin ringan kesusahannya. Sebaliknya, semakin banyak dosanya, semakin berat pula keadaannya. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain yang menjelaskan tentang tingkatan manusia di Padang Mahsyar.
Hikmah dari hadits ini:
- Menguatkan keimanan kepada hari akhir: Hadits ini adalah bagian dari rukun iman yang keenam. Kita wajib mengimani segala berita yang disampaikan oleh Nabi ﷺ tentang hari kiamat, meskipun akal kita tidak mampu menjangkaunya.
- Memotivasi untuk beramal saleh: Gambaran yang mengerikan ini seharusnya membuat kita semakin giat dalam beribadah dan menjauhi larangan Allah. Kita tidak ingin menjadi orang yang kesusahan di hari itu.
- Menumbuhkan rasa takut (khauf) dan harap (raja'): Kita takut akan azab Allah, namun kita juga berharap akan rahmat dan ampunan-Nya. Keduanya harus seimbang dalam hati seorang mukmin.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa gambaran-gambaran seperti ini adalah untuk menunjukkan keagungan hari kiamat dan untuk memperingatkan manusia agar tidak lengah. Beliau menekankan bahwa setiap mukmin harus mempersiapkan diri dengan bekal ketakwaan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi'in, sering kali menangis ketika membicarakan tentang hari kiamat. Beliau berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mampu menanggung panasnya matahari di hari kiamat. Maka bagaimana kalian akan menanggung panasnya keringat yang merendam kalian?" Beliau kemudian menangis tersedu-sedu hingga membuat para pendengarnya ikut menangis.
Kisah ini menunjukkan betapa dalamnya pemahaman para salaf tentang hari kiamat. Mereka tidak hanya sekedar tahu, tetapi merasakan keagungan dan kengerian hari itu dalam hati mereka, sehingga hal itu mendorong mereka untuk beribadah dengan sangat sungguh-sungguh.
Kesimpulan Praktis
- Imani dengan yakin bahwa hari kiamat itu pasti terjadi dan gambaran-gambaran dalam hadits adalah benar, meskipun kita tidak tahu bagaimana caranya.
- Perbanyak amal saleh dan jauhi segala larangan Allah, karena amal kitalah yang akan meringankan beban kita di hari itu.
- Perbanyak istighfar dan taubat atas segala dosa yang telah kita lakukan, semoga Allah mengampuni kita.
- Jangan meremehkan dosa kecil, karena bisa jadi dosa-dosa kecil yang menumpuk akan menjadi beban berat di hari kiamat.
- Selalu ingat kematian dan hari akhir, agar hati kita tidak terlena dengan dunia yang fana ini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.