Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 653 tentang Keutamaan menyegerakan shalat dan menghilangkan duri dari jalan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi tiga pelajaran besar: (1) betapa besarnya ganjaran menghilangkan gangguan dari jalan, sampai-sampai menjadi sebab ampunan dosa; (2) penjelasan tentang lima golongan yang termasuk syahid; dan (3) dorongan kuat untuk bersegera menuju shalat, terutama shalat Zuhur di awal waktu, serta shalat Isya dan Subuh berjamaah. Ini semua menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan kebersihan, keikhlasan, dan semangat dalam beribadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adzan, Bab Keutamaan Menyegerakan Shalat Zuhur, no. 653, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan makna hadits:

QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah (biji sawi), niscaya ia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)-nya."

Ayat ini menunjukkan bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak akan sia-sia di sisi Allah, sebagaimana dalam hadits ini seseorang diampuni dosanya karena menyingkirkan duri dari jalan.

Penjelasan Rinci

Pertama: Kisah Orang yang Menyingkirkan Duri

Nabi ﷺ bersabda: "Ketika seorang laki-laki sedang berjalan di jalan, ia melihat cabang duri dan mengangkatnya dari jalan, maka Allah merasa senang dengan perbuatannya dan mengampuninya karena itu."

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa menyingkirkan gangguan dari jalan adalah salah satu cabang keimanan. Perbuatan ini termasuk al-amr bil ma'ruf (menyuruh kepada kebaikan) dan ihsan (berbuat baik) kepada sesama makhluk. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa Allah Maha Pemurah—amalan yang tampak kecil bisa menjadi sebab ampunan dosa yang besar jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah.

Kedua: Lima Golongan Syahid

Nabi ﷺ bersabda: "Syuhada itu ada lima: orang yang meninggal karena wabah (tha'un), orang yang meninggal karena sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah."

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah syahid akhirat—mereka mendapat pahala syahid dan dosa-dosanya diampuni, namun jenazahnya tetap dimandikan dan dishalatkan seperti jenazah biasa, berbeda dengan syahid di medan perang yang tidak dimandikan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menegaskan bahwa keutamaan ini adalah murni rahmat dari Allah bagi umat ini, sebagai penghormatan atas kesabaran mereka dalam menghadapi musibah.

Ketiga: Keutamaan Adzan, Barisan Pertama, dan Bersegera ke Shalat

Nabi ﷺ bersabda: "Seandainya manusia mengetahui apa yang ada dalam adzan dan barisan pertama, lalu mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundi. Dan seandainya mereka mengetahui apa yang ada dalam menyegerakan shalat Zuhur, niscaya mereka akan berlomba-lomba kepadanya. Dan seandainya mereka mengetahui apa yang ada dalam shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak."

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab "Keutamaan Menyegerakan Shalat Zuhur" karena di dalamnya terdapat sabda Nabi ﷺ tentang at-tahjir (menyegerakan shalat Zuhur di awal waktu). Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menjelaskan bahwa at-tahjir adalah bersegera menuju shalat di awal waktunya. Ini menunjukkan bahwa shalat di awal waktu lebih utama, dan ini adalah pendapat jumhur ulama.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari (syarah Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa adzan memiliki keutamaan yang sangat besar karena ia adalah syiar Islam yang agung. Demikian pula barisan pertama, karena di dalamnya terdapat keutamaan mendekatkan diri kepada imam dan lebih utama dari barisan-belakang.

Story Telling

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Seorang laki-laki melewati cabang pohon yang menjuntai di jalan, lalu ia berkata: 'Demi Allah, aku akan menyingkirkan ini dari jalan kaum muslimin agar tidak mengganggu mereka.' Maka ia pun dimasukkan ke dalam surga." (HR. Muslim)

Lihatlah betapa mulianya akhlak ini. Seorang lelaki biasa, tanpa nama yang harum, tanpa harta yang banyak, hanya karena hatinya tergerak untuk menghilangkan gangguan dari jalan kaum muslimin, Allah memasukkannya ke dalam surga. Ini menunjukkan bahwa surga tidak hanya diraih dengan ibadah ritual semata, tetapi juga dengan akhlak mulia dan kepedulian sosial.

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Sesungguhnya seorang hamba bisa saja dijauhkan dari rezeki karena dosa yang ia perbuat, dan bisa saja diberikan rezeki karena kebaikan yang ia lakukan." Maka jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan meremehkan kebaikan kecil—menyingkirkan duri dari jalan bisa menjadi sebab ampunan dosa. Perbanyaklah kebaikan sekecil apa pun dengan ikhlas karena Allah.
  2. Bersegeralah menuju shalat, terutama shalat Zuhur di awal waktu, serta shalat Isya dan Subuh berjamaah di masjid. Jangan menunda-nunda shalat.
  3. Bersemangatlah untuk mendapatkan barisan pertama dalam shalat berjamaah, karena keutamaannya sangat besar.
  4. Hargailah musibah dengan kesabaran—orang yang meninggal karena wabah, sakit perut, tenggelam, atau tertimpa reruntuhan termasuk syahid jika ia sabar dan ikhlas.
  5. Jadikan adzan sebagai pengingat untuk segera meninggalkan segala kesibukan dunia menuju ketaatan kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.