Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan dahsyatnya hari kiamat, di mana seluruh manusia akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki, dan tidak bersunat. Ini bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah dan betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya. Hadits ini mengajarkan kita untuk selalu mengingat hari perhitungan dan mempersiapkan diri dengan amal saleh.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
"Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya." (QS. Al-Anbiya' [21]: 104)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah akan membangkitkan manusia kembali dalam keadaan asal, sebagaimana pertama kali diciptakan.
Hadits:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab ar-Riqaq (Renungan), Bab Kaifa al-Hasyr (Bagaimana Manusia Dikumpulkan), no. 6524. Dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kalian akan menemui Allah dalam keadaan telanjang kaki, tidak berpakaian, berjalan, dan tidak bersunat."
Penjelasan Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (11/372) menjelaskan bahwa makna "ghurlan" (tidak bersunat) adalah keadaan asli manusia saat lahir. Ini menunjukkan bahwa manusia akan dibangkitkan dalam kondisi fisik yang sama seperti saat pertama kali diciptakan, tanpa tambahan apapun. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (17/178) juga menegaskan bahwa ini adalah bentuk kehinaan dan kerendahan manusia di hadapan Allah pada hari kiamat, agar mereka sadar bahwa tidak ada yang bisa dibanggakan kecuali amal saleh.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu berita ghaib yang disampaikan Nabi ﷺ tentang peristiwa besar di hari kiamat. Beliau mengabarkan bahwa manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam keadaan:
- Hufatan (حُفَاةً): Tidak beralas kaki.
- Uratan (عُرَاةً): Tidak berpakaian.
- Musyatan (مُشَاةً): Berjalan kaki (tidak berkendaraan).
- Ghurlan (غُرْلاً): Tidak bersunat (dalam keadaan fitrah asli).
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya (3/222) saat menafsirkan QS. Al-Anbiya' [21]: 104, mengaitkan hadits ini dengan ayat tersebut. Beliau menjelaskan bahwa kebangkitan manusia dalam keadaan telanjang adalah untuk menunjukkan keadilan Allah dan tidak ada satupun yang bisa menyembunyikan dosa atau amalnya. Semua akan tampak jelas.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/284) menjelaskan hikmah di balik keadaan ini: agar manusia tidak memiliki kesempatan untuk berbangga dengan harta, pakaian, atau kedudukan duniawi. Semua yang membedakan manusia di dunia akan hilang, dan yang tersisa hanyalah amal perbuatan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman (1/536) menambahkan bahwa hadits ini menjadi pengingat bagi kita untuk tidak terlalu terlena dengan kemewahan dunia. Karena pada akhirnya, semua akan kembali kepada Allah dalam keadaan yang sangat sederhana dan tidak berdaya.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa ketika beliau mendengar hadits ini, beliau sangat tersentuh. Beliau berkata, "Aku tidak tahu, apakah aku akan lebih terkejut dengan berita ini atau dengan kesabaran para sahabat yang mendengarnya tanpa langsung pingsan." (HR. Al-Bukhari, no. 6524)
Kisah ini menunjukkan betapa dahsyatnya berita tentang hari kiamat. Para sahabat adalah orang-orang yang paling kuat imannya, namun mereka sangat merasakan getaran ketika mendengar kabar tentang hari perhitungan. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak meremehkan hari kiamat dan selalu mempersiapkan diri.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak mengingat hari kiamat agar hati tidak terikat pada dunia.
- Jangan bangga dengan penampilan fisik, harta, atau kedudukan, karena semua itu akan sirna.
- Perbanyak amal saleh sebagai bekal menghadapi hari perhitungan.
- Rendahkan hati (tawadhu') karena semua manusia akan kembali dalam keadaan yang sama di hadapan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.