Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6520 tentang Bumi menjadi roti bagi penghuni surga

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang keadaan bumi di Hari Kiamat yang akan dijadikan Allah seperti roti yang dibalik-balik, dan menjadi hidangan bagi penghuni surga. Hadits ini termasuk berita ghaib yang wajib kita imani tanpa mempertanyakan bagaimana caranya, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Hadits ini juga menunjukkan kebenaran Nabi ﷺ, karena seorang Yahudi membenarkan berita tersebut dari kitabnya, dan Nabi ﷺ tertawa karena takjub dengan kebenaran yang disampaikan oleh orang Yahudi itu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq, Bab "Allah Menggenggam Bumi", no. 6520, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dengan sanad dan matannya. Berikut poin-poin pentingnya:

  • Sabda Nabi ﷺ: "تَكُونُ الأَرْضُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ خُبْزَةً وَاحِدَةً" (Bumi pada Hari Kiamat menjadi satu roti).
  • "يَتَكَفَّؤُهَا الْجَبَّارُ بِيَدِهِ" (Allah Yang Maha Perkasa membalik-baliknya dengan Tangan-Nya).
  • "كَمَا يَكْفَأُ أَحَدُكُمْ خُبْزَتَهُ فِي السَّفَرِ" (seperti salah seorang dari kalian membalik rotinya ketika safar).
  • "نُزُلاً لأَهْلِ الْجَنَّةِ" (sebagai hidangan bagi penghuni surga).

Dalil pendukung dari Al-Qur'an tentang kekuasaan Allah menggenggam bumi:

QS. Az-Zumar [39]: 67

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖ ۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."

Penjelasan ulama tentang makna hadits ini:

  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab "Allah Menggenggam Bumi" untuk menunjukkan bahwa berita tentang peristiwa besar Hari Kiamat adalah bagian dari keimanan kepada Allah dan kekuasaan-Nya.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah berita ghaib yang wajib diimani, dan maknanya adalah Allah akan menjadikan bumi seperti roti yang dibalik-balik, sebagai bentuk penghormatan bagi para wali-Nya di surga. Beliau juga menukil perkataan para ulama bahwa ini adalah salah satu dalil penetapan sifat Yad (Tangan) bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menanyakan bagaimana caranya.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (karena hadits ini juga diriwayatkan Muslim) menegaskan bahwa hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah seperti ini harus diimani sebagaimana adanya, tanpa ta'wil (mengubah makna) yang menyimpang dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk).

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dari beberapa sisi:

1. Makna "Bumi menjadi roti"

Ini adalah permisalan yang Allah berikan melalui lisan Nabi-Nya ﷺ untuk mendekatkan makna kepada akal kita. Bumi akan diratakan dan dijadikan seperti roti yang besar, lalu Allah membalik-baliknya dengan kekuasaan-Nya. Ini menunjukkan betapa kecilnya bumi di sisi Allah, dan betapa mudahnya Allah mengatur seluruh alam.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kekuasaan Allah yang Maha Besar. Bumi yang kita tinggali ini sangat luas, namun di sisi Allah ia seperti roti yang mudah dibolak-balik. Ini juga menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat Al-Qabdh (menggenggam) dan Al-Bashth (melapangkan) sesuai dengan keagungan-Nya.

2. Hidangan bagi penghuni surga

Frasa "نُزُلاً لأَهْلِ الْجَنَّةِ" (hidangan bagi penghuni surga) menunjukkan bahwa Allah akan memuliakan penghuni surga dengan menjadikan bumi sebagai hidangan. Ini adalah bentuk karunia Allah yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia. Sebagaimana firman Allah:

QS. As-Sajdah [32]: 17

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ اُخْفِيَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ اَعْيُنٍۗ جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

"Tidak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan."

3. Kisah Yahudi yang membenarkan Nabi ﷺ

Dalam hadits ini, seorang Yahudi datang dan membenarkan perkataan Nabi ﷺ tentang bumi menjadi roti. Ia menyebutkan bahwa lauknya adalah Balam (sapi) dan Nun (ikan). Nabi ﷺ tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, bukan karena meragukan, tetapi karena takjub melihat kebenaran yang disampaikan oleh orang Yahudi tersebut, yang bersumber dari kitab mereka (Taurat) yang masih asli pada masa itu.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa tertawanya Nabi ﷺ adalah tanda kegembiraan karena berita yang disampaikan orang Yahudi itu sesuai dengan apa yang beliau ﷺ katakan, dan ini menjadi bukti kebenaran kenabian beliau ﷺ.

4. Pelajaran tentang sifat Allah

Hadits ini juga menegaskan penetapan sifat Yad (Tangan) bagi Allah Ta'ala, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 64:

بَلْ يَدٰهُ مَبْسُوْطَتٰنِۙ

"Bahkan kedua tangan-Nya terbuka."

Para ulama Ahlus Sunnah menetapkan sifat ini tanpa ta'wil (mengubah makna), tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk), tanpa ta'thil (menolak), dan tanpa takyif (mempertanyakan bagaimana caranya). Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Kami mengimani berita-berita ini dan membenarkannya, tanpa menanyakan bagaimana dan tanpa memaknai dengan makna yang menyimpang."

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas pernah ditanya tentang firman Allah:

الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى

"Ar-Rahman bersemayam di atas 'Arsy." (QS. Thaha [20]: 5)

Beliau menjawab: "Al-Istiwa' (bersemayam) itu sudah diketahui maknanya, namun caranya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Kemudian beliau memerintahkan orang yang bertanya itu untuk dikeluarkan dari majelisnya.

Ini menunjukkan sikap para ulama salaf dalam menghadapi berita-berita ghaib: mereka mengimani dengan penuh keyakinan, tidak mempertanyakan bagaimana caranya, dan tidak memalingkan maknanya. Karena akal manusia terbatas, sedangkan kekuasaan Allah tidak terbatas.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib mengimani berita tentang Hari Kiamat sebagaimana yang disampaikan Nabi ﷺ, termasuk bumi menjadi roti dan menjadi hidangan penghuni surga.
  2. Menetapkan sifat-sifat Allah yang disebut dalam hadits, seperti sifat Yad (Tangan), sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa mempertanyakan caranya.
  3. Mengambil pelajaran tentang kebesaran Allah: bumi yang kita tinggali ini sangat kecil di sisi Allah, maka janganlah kita sombong dan angkuh di muka bumi.
  4. Meyakini kenabian Muhammad ﷺ: hadits ini menunjukkan bahwa berita yang beliau sampaikan sesuai dengan kitab-kitab sebelumnya, dan ini menjadi bukti kebenaran beliau.
  5. Bergembira dengan kabar surga: hidangan penghuni surga adalah kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan, maka perbanyaklah amal shalih untuk meraihnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.