Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi tiga pelajaran besar: (1) betapa besarnya pahala menghilangkan gangguan dari jalan, sampai-sampai Allah mengampuni dosa pelakunya; (2) penjelasan tentang lima golongan yang dianggap syahid; dan (3) dorongan kuat untuk bersegera menuju shalat, terutama shalat berjamaah di masjid. Hadits ini mengajarkan bahwa amalan kecil yang ikhlas bisa bernilai besar di sisi Allah, dan bahwa shalat berjamaah memiliki keutamaan yang sangat agung.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 148
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Dan bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
QS. Al-Kahf [18]: 110
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Adzan, Bab Keutamaan Menyegerakan Shalat Dhuhur, no. 652, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menggabungkan beberapa bab penting: keutamaan menghilangkan gangguan dari jalan, penjelasan tentang syahid, dan keutamaan shalat berjamaah. Beliau juga menjelaskan bahwa kata "التَّهْجِيرِ" dalam hadits ini bermakna bersegera menuju shalat di awal waktu.
Penjelasan Rinci
Hadits ini berisi tiga bagian penting yang perlu kita pahami:
Pertama: Kisah Orang yang Menyingkirkan Dahan Berduri
Rasulullah ﷺ menceritakan tentang seorang laki-laki yang sedang berjalan, lalu menemukan dahan berduri di tengah jalan. Ia mengangkat dan menyingkirkannya agar tidak mengganggu orang lain. Allah "bersyukur" kepadanya — artinya Allah menerima amalnya dan membalasnya dengan kebaikan — lalu mengampuni dosanya.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa amalan seperti ini termasuk dalam kategori "imathatul adza 'anith thariq" (menghilangkan gangguan dari jalan) yang disebutkan dalam hadits-hadits lain sebagai bagian dari cabang iman. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menegaskan bahwa ini menunjukkan betapa mudahnya meraih ampunan Allah — cukup dengan amalan kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan bermanfaat bagi orang lain.
Kedua: Lima Golongan yang Dianggap Syahid
Rasulullah ﷺ menyebutkan lima golongan yang dianggap syahid:
- Al-Math'un — orang yang meninggal karena penyakit tha'un (wabah menular yang mematikan)
- Al-Mabthun — orang yang meninggal karena penyakit perut (seperti diare parah, sakit perut yang mematikan)
- Al-Ghariq — orang yang meninggal karena tenggelam
- Shahibul Hadm — orang yang tertimpa reruntuhan bangunan
- Asy-Syahid fi Sabilillah — orang yang gugur di jalan Allah
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mereka disebut "syahid" dalam arti mendapatkan pahala syahid di akhirat, namun tetap dimandikan dan dishalatkan seperti jenazah biasa — berbeda dengan syahid di medan perang yang tidak dimandikan. Ini adalah pemahaman yang disepakati oleh para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in.
Ketiga: Keutamaan Adzan, Shaf Pertama, dan Bersegera Menuju Shalat
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa jika manusia mengetahui keutamaan adzan dan shaf pertama, mereka akan berundi untuk mendapatkannya. Ini menunjukkan betapa agungnya keutamaan tersebut. Kemudian beliau menyebutkan keutamaan at-tahjir — bersegera menuju shalat di awal waktu — dan keutamaan shalat Isya dan Subuh berjamaah, sampai-sampai orang akan mendatanginya meskipun harus merangkak.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari (syarah Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa kata at-tahjir di sini bermakna bersegera menuju shalat Jumat atau shalat berjamaah di awal waktu. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa keutamaan ini menunjukkan besarnya pahala shalat berjamaah, terutama di waktu-waktu yang berat seperti Isya dan Subuh, karena di waktu tersebut setan berusaha menghalangi manusia dari shalat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki dari kalangan Bani Salim pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang amalan yang bisa memasukkan ke surga. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Engkau singkirkan duri dari jalan kaum muslimin." (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Ketika seorang laki-laki berjalan di suatu jalan, ia menemukan dahan berduri, lalu ia menyingkirkannya. Maka Allah memujinya dan mengampuni dosanya." Para ulama menjelaskan bahwa amalan ini sangat mudah namun pahalanya sangat besar, karena ia bermanfaat bagi orang banyak dan menghilangkan bahaya dari mereka.
Imam Al-Hasan al-Bashri rahimahullah sering menasihati murid-muridnya: "Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apa pun, karena engkau tidak tahu kebaikan mana yang akan memasukkanmu ke surga." Ini sejalan dengan hadits di atas — amalan sederhana seperti menyingkirkan duri bisa menjadi sebab ampunan dosa.
Kesimpulan Praktis
- Jangan meremehkan amalan kecil — menyingkirkan duri dari jalan bisa menjadi sebab ampunan dosa. Mari kita biasakan menjaga kebersihan dan kenyamanan jalan untuk orang lain.
- Bersegera menuju shalat berjamaah — terutama shalat Isya dan Subuh. Keutamaannya sangat besar, sampai-sampai para sahabat rela berundi untuk mendapatkan shaf pertama.
- Berlomba-lomba dalam kebaikan — sebagaimana firman Allah "fastabiqul khairat" (berlomba-lombalah dalam kebaikan). Jangan menunda-nunda kebaikan, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.
- Memahami makna syahid — orang yang meninggal karena wabah, sakit perut, tenggelam, atau tertimpa reruntuhan termasuk syahid di akhirat. Ini menghibur kaum muslimin yang kehilangan orang tercinta dengan sebab-sebab tersebut.
- Menghadirkan niat ikhlas — semua amalan di atas harus dilakukan karena Allah semata, bukan karena ingin dipuji manusia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.