Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang kebesaran dan kekuasaan Allah ﷻ pada hari kiamat, di mana seluruh bumi dan langit berada dalam genggaman-Nya. Ini adalah pengingat bahwa semua kekuasaan manusia, termasuk para raja, adalah fana dan tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Hadits ini menanamkan rasa takut, tawadhu', dan keyakinan bahwa hanya Allah-lah Raja yang sebenarnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Az-Zumar [39]: 67
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Terjemahan: "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."
Hadits yang dimaksud:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq, Bab "Allah Menggenggam Bumi", no. 6519, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab) dari Sa'id bin Al-Musayyib, keduanya adalah ulama tabi'in yang sangat terpercaya. Para ulama Ahlus Sunnah, seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya, menetapkan bahwa hadits ini dan ayat di atas adalah tentang sifat-sifat Allah yang wajib kita imani sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menanyakan "bagaimana" (takyif) dan tanpa menyerupakan dengan makhluk (tasybih).
Penjelasan Rinci
Hadits yang mulia ini adalah salah satu berita tentang peristiwa dahsyat di hari kiamat. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "menggenggam bumi" adalah Allah akan menguasai dan menghimpun seluruh bumi, menjadikannya seperti genggaman di tangan-Nya. Ini menunjukkan betapa kecilnya alam semesta ini di hadapan kebesaran Allah.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya At-Takhwif min An-Nar menjelaskan bahwa setelah Allah menggenggam bumi dan melipat langit, Dia akan berfirman dengan penuh keagungan, "Aku adalah Raja! Di mana para raja bumi?" Ini adalah teguran dan penghinaan bagi mereka yang sombong dengan kekuasaannya di dunia. Semua mahkota, singgasana, dan kerajaan akan sirna, dan hanya kerajaan Allah yang kekal.
Para ulama Ahlus Sunnah, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Abu Hanifah, sepakat bahwa kita harus beriman dengan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits shahih, seperti sifat "tangan" (yad) dan "genggaman" (qabdah). Namun, kita tidak boleh menafsirkannya secara harfiah seperti tangan makhluk. Imam Malik bin Anas ketika ditanya tentang "istiwa'" (bersemayam) Allah, beliau menjawab, "Al-istiwā'u ma'lūm, wal kayfu majhūl, wal īmānu bihī wājib, was-su'ālu 'anhu bid'ah" (Istiwa' itu diketahui maknanya, cara-caranya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah). Prinsip ini berlaku untuk semua sifat Allah, termasuk dalam hadits ini.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah untuk menegaskan keesaan dan kekuasaan mutlak Allah. Di hari itu, tidak ada satu pun makhluk yang bisa membantah atau menyombongkan diri. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak sombong dengan jabatan, harta, atau kekuasaan di dunia, karena semuanya akan berakhir.
Story Telling
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, beliau adalah seorang ulama tabi'in yang sangat zuhud dan banyak menangis karena takut kepada Allah. Suatu hari, beliau melihat seorang penguasa yang sombong dengan kekuasaannya. Maka Al-Hasan pun berkata kepadanya dengan penuh hikmah, "Wahai Amir, ingatlah firman Allah, 'Aku adalah Raja! Di mana para raja bumi?' Demi Allah, jika engkau tidak berlaku adil dan tidak takut kepada Allah, maka engkau akan menjadi hina di hadapan-Nya pada hari itu." Kisah ini mengajarkan kita bahwa para ulama salaf selalu mengingatkan para penguasa untuk tidak lalai dan sombong, karena kekuasaan sejati hanyalah milik Allah.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada Hari Akhir: Hadits ini memperkuat keyakinan kita tentang dahsyatnya hari kiamat dan kekuasaan Allah yang mutlak.
- Tawadhu' (Rendah Hati): Jangan pernah sombong dengan jabatan, harta, atau kedudukan. Semua itu adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban.
- Takut kepada Allah: Tanamkan rasa takut yang mendalam kepada Allah, karena hanya Dialah Raja yang sebenarnya.
- Mengimani Sifat Allah: Imanilah sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits shahih sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.