Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita adab yang sangat penting: dilarang keras mengunggulkan satu Nabi di atas Nabi yang lain dengan cara yang memicu perdebatan dan permusuhan. Rasulullah ﷺ meluruskan pemahaman sahabat dengan menjelaskan kedudukan Nabi Musa 'alaihis salam yang agung di sisi Allah, serta mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam perdebatan yang tidak bermanfaat. Inti hadits ini adalah larangan berdebat tentang keutamaan para Nabi dengan cara yang keliru, dan perintah untuk menahan diri serta tidak mudah terpancing amarah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab ar-Riqaq (Hadits 6517), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Lafazh haditsnya sebagaimana yang Anda sebutkan.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
"Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'am [6]: 83)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah-lah yang mengangkat derajat para Nabi dan Rasul-Nya sesuai kehendak-Nya. Kita tidak boleh memperdebatkan keutamaan mereka dengan cara yang keliru, karena hal itu bisa menimbulkan perpecahan.
Penjelasan Ulama:
Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini mengandung larangan bagi seorang Muslim untuk mengunggulkan Nabinya ﷺ di atas Nabi Musa 'alaihis salam dengan cara yang bisa memicu kemarahan dan perdebatan. Beliau juga menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "Janganlah kalian mengutamakanku di atas Musa" bukanlah larangan untuk meyakini bahwa beliau ﷺ lebih utama, karena hal itu adalah keyakinan yang benar. Akan tetapi, larangan ini bersifat adab (etika) agar tidak terjadi perdebatan yang sia-sia, dan juga karena ada hikmah yang agung di baliknya, yaitu bahwa Nabi Musa 'alaihis salam memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
Pertama: Adab dalam Berdebat
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi karena seorang Muslim dan seorang Yahudi saling membanggakan Nabi mereka masing-masing. Muslim itu berkata, "Demi Allah yang telah mengutamakan Muhammad di atas seluruh alam," lalu orang Yahudi itu membalas dengan perkataan serupa untuk Nabi Musa. Akibatnya, si Muslim marah dan menampar wajah orang Yahudi tersebut.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang keutamaan para Nabi, jika dilakukan dengan cara yang keliru dan disertai emosi, hanya akan menimbulkan permusuhan. Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tidak memulai perdebatan semacam ini, dan jika terjadi, kita harus menahan diri.
Kedua: Makna Sabda Nabi ﷺ "Janganlah Kalian Mengutamakanku di Atas Musa"
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa larangan ini bukan berarti Nabi Muhammad ﷺ tidak lebih utama dari Nabi Musa 'alaihis salam. Justru, beliau ﷺ adalah manusia paling mulia dan paling utama di sisi Allah. Akan tetapi, larangan ini memiliki beberapa hikmah:
- Menjaga perasaan agar tidak terjadi perdebatan yang berujung pada permusuhan, sebagaimana yang terjadi pada peristiwa ini.
- Menunjukkan kedudukan Nabi Musa yang agung, karena beliau adalah salah satu Ulul Azmi (rasul yang memiliki keteguhan hati yang luar biasa) dan termasuk nabi yang sangat dimuliakan Allah.
- Mengajarkan adab bahwa kita tidak boleh membanding-bandingkan para Nabi dengan cara yang bisa menimbulkan fitnah, apalagi di hadapan orang-orang yang bisa tersinggung.
Ketiga: Kisah Pingsan dan Kebangkitan di Hari Kiamat
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa pada hari kiamat nanti, manusia akan mengalami sho'iq (pingsan) karena dahsyatnya peristiwa tersebut. Beliau ﷺ akan menjadi orang pertama yang sadar, dan saat itu beliau melihat Nabi Musa 'alaihis salam sedang memegang sisi 'Arsy Allah. Beliau ﷺ tidak tahu apakah Nabi Musa termasuk orang yang ikut pingsan lalu sadar sebelum beliau, ataukah termasuk orang yang dikecualikan oleh Allah dari pingsan tersebut.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan Nabi Musa 'alaihis salam di sisi Allah. Beliau memiliki keistimewaan yang luar biasa, bahkan dalam peristiwa dahsyat di hari kiamat. Ini juga menjadi alasan mengapa Nabi ﷺ melarang sahabatnya untuk mengunggulkan beliau di atas Musa dengan cara yang keliru, karena keduanya adalah nabi yang sangat mulia dan memiliki keistimewaan masing-masing.
Keempat: Pelajaran tentang Menahan Amarah
Peristiwa ini juga mengajarkan kita tentang bahaya amarah. Si Muslim yang merasa nabinya dilecehkan langsung menampar orang Yahudi tersebut tanpa berpikir panjang. Padahal, cara yang benar adalah meluruskan dengan hikmah dan tidak mudah terpancing emosi. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa menahan amarah adalah salah satu tanda ketakwaan dan kesempurnaan iman seorang hamba.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang adab para sahabat dalam menghormati para Nabi. Diriwayatkan bahwa suatu ketika, seorang laki-laki Yahudi berkata kepada Nabi ﷺ, "Semoga Allah memberikan salam kepadamu, wahai Abu Qasim." Maka Nabi ﷺ menjawab, "Wa 'alaika" (dan semoga Allah juga memberikan salam kepadamu). Para sahabat heran, mengapa Nabi ﷺ menjawab doa orang Yahudi itu dengan baik? Maka Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya kami tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan, tetapi kami memaafkan dan bersikap baik." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anha).
Kisah ini menunjukkan betapa mulianya akhlak Nabi ﷺ dalam menghadapi orang-orang yang berbeda keyakinan. Beliau tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, tetapi selalu bersikap bijaksana dan penuh hikmah. Inilah yang seharusnya kita contoh dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika berhadapan dengan orang-orang yang mungkin berbeda pendapat atau keyakinan dengan kita.
Kesimpulan Praktis
- Jangan mudah terpancing emosi ketika ada orang yang merendahkan Nabi kita atau agama kita. Balaslah dengan hikmah dan kelembutan, bukan dengan amarah.
- Jangan memulai perdebatan tentang keutamaan para Nabi dengan cara yang keliru, karena hal itu hanya akan menimbulkan permusuhan.
- Yakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia paling mulia, tetapi jangan jadikan keyakinan ini sebagai alat untuk merendahkan nabi-nabi yang lain.
- Teladani akhlak Nabi ﷺ yang selalu sabar, pemaaf, dan bijaksana dalam menghadapi orang-orang yang berbeda keyakinan.
- Jaga lisan dan perbuatan kita agar tidak menyinggung perasaan orang lain, meskipun kita merasa benar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.