Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan dua keadaan orang yang meninggal dunia: ada yang beristirahat (mendapat ketenangan) dan ada yang membuat orang lain beristirahat (karena kepergiannya). Seorang mukmin ketika mati, ia beristirahat dari kepayahan hidup dunia dan mendapatkan kenikmatan akhirat. Adapun orang kafir atau fajir, kematiannya menjadi istirahat bagi orang-orang di sekitarnya dari kejahatan dan gangguannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Fajr [89]: 27-30
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي * وَادْخُلِي جَنَّتِي
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."
Hadits terkait:
Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
مُسْتَرِيحٌ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ، الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ
"Ada yang beristirahat dan ada yang diistirahatkan darinya. Seorang mukmin beristirahat (dengan kematiannya)."
(HR. Al-Bukhari no. 6513, Kitab Ar-Riqaq, Bab Sakratul Maut)
Penjelasan ulama tentang hadits ini:
Imam Al-Bukhari rahimahullah (w. 256 H) meletakkan hadits ini dalam bab "Sakratul Maut" (Sekaratnya Kematian) untuk menunjukkan bahwa kematian bagi seorang mukmin adalah istirahat dan kelapangan, meskipun sakaratul maut itu sendiri terasa berat.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah (w. 852 H) dalam Fathul Bari (11/363) menjelaskan: "Makna 'mustarih' adalah orang yang beristirahat dari kepayahan dunia menuju rahmat Allah. Adapun 'mustarah minhu' adalah orang yang kematiannya menjadi istirahat bagi orang-orang di sekitarnya dari kejahatan dan gangguannya."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah (w. 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kematian bagi orang mukmin adalah perpindahan dari rumah kesusahan menuju rumah kenikmatan, sebagaimana firman Allah tentang jiwa yang tenang.
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk hadits yang ringkas namun sarat makna. Rasulullah ﷺ membagi manusia saat kematian menjadi dua golongan:
Pertama: Al-Mustarih (orang yang beristirahat)
Yaitu seorang mukmin yang beriman dan beramal shalih. Ketika ajal menjemputnya, ia beristirahat dari:
- Kepayahan hidup dunia yang penuh ujian dan cobaan
- Kesulitan mencari rezeki yang halal
- Godaan syahwat dan bisikan setan
- Rasa takut dan khawatir terhadap masa depan
Imam An-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kematian bagi mukmin adalah istirahat dari beban dunia menuju rahmat Allah dan kenikmatan surga.
Kedua: Al-Mustarah minhu (orang yang diistirahatkan darinya)
Yaitu orang kafir, fajir, atau orang yang banyak berbuat kejahatan. Kematiannya menjadi istirahat bagi:
- Manusia dari kejahatan dan gangguannya
- Negeri dan masyarakat dari kerusakannya
- Bahkan binatang dan tumbuhan dari kezalimannya
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah (w. 795 H) dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menambahkan bahwa orang mukmin ketika mati, ia beristirahat dari dunia dan mendapatkan kenikmatan. Adapun orang kafir, ia justru masuk ke dalam azab, sementara orang-orang di sekitarnya beristirahat dari kejahatannya.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini memberikan motivasi bagi orang mukmin untuk tidak takut mati, karena kematian adalah pintu menuju istirahat yang abadi. Namun, ia juga peringatan bagi orang yang berbuat kerusakan agar bertobat sebelum kematian menjemput.
Story Telling
Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri rahimahullah (w. 110 H), beliau berkata:
"Seorang mukmin di dunia bagaikan tawanan yang berusaha melepaskan dirinya. Ia tidak merasa aman hingga bertemu dengan Allah. Adapun orang kafir, ia seperti raja yang sedang bersenang-senang, namun ketika mati, barulah ia merasakan kepedihan yang sesungguhnya."
Beliau juga pernah menangis ketika mendengar ayat tentang kematian, lalu berkata: "Wahai sekalian manusia, demi Allah, kalian tidak diciptakan untuk bermain-main. Kalian akan meninggalkan dunia ini. Maka persiapkanlah bekal untuk perjalanan kalian."
Kisah ini mengingatkan kita bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Seorang mukmin yang shalih memandang kematian sebagai pintu menuju istirahat yang hakiki, sementara orang yang lalai akan menyesal ketika sakaratul maut tiba.
Kesimpulan Praktis
- Jadilah mukmin yang shalih agar kematian menjadi istirahat dan kenikmatan bagi kita, bukan azab dan penyesalan.
- Jangan takut mati secara berlebihan, karena kematian adalah pintu menuju rahmat Allah bagi orang beriman.
- Perbanyak amal shalih dan jauhi kemaksiatan, agar ketika ajal tiba kita dalam keadaan husnul khatimah.
- Jangan menjadi beban bagi orang lain dengan kejahatan dan gangguan kita, agar kematian kita tidak menjadi kebahagiaan bagi orang di sekitar.
- Persiapkan bekal akhirat karena dunia hanyalah ladang untuk beramal, dan kematian adalah panennya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.