Penjelasan Hadits Bukhari No. 6512 tentang Kematian sebagai peristirahatan bagi mukmin dan musibah bagi fasik

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa kematian bagi seorang mukmin adalah istirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allah. Sebaliknya, bagi orang fasik yang banyak berbuat dosa, kematiannya justru menjadi istirahat bagi makhluk lain (manusia, bumi, pohon, dan hewan) dari kejahatannya. Ini adalah pengingat agar kita selalu berusaha menjadi hamba yang beriman dan beramal saleh.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq (Hadits-hadits yang Melembutkan Hati), Bab Sakratul Maut (Sakaratul Maut), no. 6512. Dari sahabat Abu Qatadah bin Rib'i Al-Anshari radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (Arab Berharakat):

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ، عَنْ مَعْبَدِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِيٍّ الأَنْصَارِيِّ، أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ: "مُسْتَرِيحٌ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ". قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ؟ قَالَ: "الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ".

Penjelasan Ulama:

  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari (11/362) menjelaskan bahwa kata "مُسْتَرِيحٌ" (mustarih) adalah orang yang beristirahat, yaitu mukmin yang mendapat rahmat Allah dan terbebas dari beban dunia. Sedangkan "مُسْتَرَاحٌ مِنْهُ" (mustarah minhu) adalah orang yang membuat makhluk lain beristirahat darinya, yaitu orang fasik yang kejahatannya telah berakhir.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (7/38) menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan perbedaan nasib antara mukmin dan fasik saat kematian. Mukmin beristirahat menuju rahmat Allah, sedangkan fasik menjadi beban bagi lingkungannya.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (4/148) menjelaskan bahwa "نَصَبِ الدُّنْيَا" (kepayahan dunia) mencakup semua kesulitan fisik, mental, dan ujian hidup yang dialami mukmin. Kematian adalah pintu menuju kebahagiaan abadi.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya yang sangat terkenal, Shahih Al-Bukhari. Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah ﷺ melewati jenazah seseorang. Beliau kemudian mengucapkan kalimat yang singkat namun penuh makna: "مُسْتَرِيحٌ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ" (Ada yang beristirahat, dan ada yang membuat orang lain beristirahat darinya).

Para sahabat yang mendengar pun bertanya, "Wahai Rasulullah, apa maksudnya?" Maka beliau menjelaskan dengan rinci:

  1. "الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ" (Seorang hamba yang beriman beristirahat dari kepayahan dunia dan gangguannya menuju rahmat Allah). Ini adalah kabar gembira bagi setiap mukmin. Kehidupan dunia memang penuh dengan ujian, lelah, sakit, dan kesedihan. Namun, kematian adalah akhir dari semua itu dan awal dari kenikmatan abadi di sisi Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Fajr [89]: 27-30: "Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."
  2. "وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ" (Sedangkan hamba yang fasik, maka manusia, bumi, pohon, dan hewan-hewan beristirahat darinya). Ini adalah peringatan keras. Orang fasik adalah mereka yang banyak berbuat maksiat, kezaliman, dan kerusakan di muka bumi. Selama hidupnya, mereka menjadi sumber masalah dan gangguan bagi lingkungan sekitar. Ketika mereka mati, semua makhluk merasa lega karena kejahatan mereka telah berhenti.

Pandangan Ulama:

  • Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Ad-Da'u wad Dawa' (hal. 148) menjelaskan bahwa orang fasik adalah "penyakit" bagi bumi. Kejahatan mereka menyebar seperti wabah yang merusak. Kematian mereka adalah obat bagi alam.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman (tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 206) menyebutkan bahwa orang fasik adalah mereka yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta melakukan kerusakan di bumi.

Perbedaan Kondisi:

  • Mukmin: Kematian adalah istirahat dan kebahagiaan. Mereka meninggalkan dunia yang fana menuju rahmat Allah yang abadi.
  • Fasik: Kematian adalah bencana bagi dirinya sendiri, namun menjadi kelegaan bagi makhluk lain. Mereka akan menghadapi azab kubur dan akhirat.

Story Telling

Kisah Kematian Seorang Mukmin dan Seorang Fasik:

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila seorang mukmin menghadapi kematian, maka para malaikat rahmat datang membawa kain kafan dari surga. Mereka duduk di dekatnya, lalu ruhnya keluar dengan mudah seperti tetesan air dari mulut kendi. Kemudian ruh itu diangkat ke langit, dan para malaikat berkata: 'Ruh yang baik ini berasal dari jasad yang baik.' Lalu dibukakan pintu langit baginya, dan ia ditempatkan di surga." (HR. Ahmad, no. 12276, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Sebaliknya, ketika seorang fasik menghadapi kematian, para malaikat azab datang membawa kain dari neraka. Ruhnya keluar dengan susah payah, seperti mencabut duri dari kain basah. Kemudian ruh itu diangkat ke langit, tetapi pintu langit tertutup baginya. Para malaikat berkata: "Ruh yang buruk ini berasal dari jasad yang buruk." Lalu ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Ahmad, no. 12277).

Hikmah: Kisah ini mengingatkan kita bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan menuju kehidupan yang kekal. Maka, persiapkanlah diri dengan iman dan amal saleh agar kita termasuk golongan "mustarih" yang beristirahat dalam rahmat Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadilah Mukmin Sejati: Iman bukan hanya di lisan, tetapi juga di hati dan diwujudkan dalam amal saleh. Tinggalkan segala maksiat dan kezaliman.
  2. Sadari Hakikat Dunia: Dunia adalah tempat ujian dan kepayahan. Jangan terlalu terikat padanya. Kematian adalah pintu menuju kehidupan yang lebih baik bagi orang beriman.
  3. Jauhi Sifat Fasik: Jangan menjadi sumber gangguan bagi orang lain, lingkungan, atau hewan. Berbuat baiklah kepada semua makhluk.
  4. Perbanyak Doa: Mohonlah kepada Allah agar diberikan husnul khatimah (akhir yang baik). Doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ: "اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عَمَلِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ" (Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amalku adalah akhirnya, dan sebaik-baik hariku adalah hari ketika aku bertemu dengan-Mu).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?