Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan betapa dekatnya hari kiamat dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Beliau mengisyaratkan dengan dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah, untuk menunjukkan bahwa jarak antara kenabian beliau dan hari kiamat sangatlah dekat, bagaikan dua jari yang berdampingan. Ini adalah peringatan bagi kita agar tidak terlena dengan dunia dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq, Bab "Perkataan Nabi ﷺ: 'Aku diutus dan hari kiamat seperti ini'", no. 6504. Berikut adalah matan haditsnya:
Teks Arab (dengan harakat):
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ ـ هُوَ الْجُعْفِيُّ ـ حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، وَأَبِي التَّيَّاحِ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ".
Terjemahan: "Aku diutus dan hari kiamat (jaraknya) seperti dua ini." (HR. Al-Bukhari no. 6504)
Dalam riwayat lain yang juga shahih, disebutkan bahwa beliau ﷺ bersabda sambil berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah. Sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau bersabda:
"بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ" وَضَمَّ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى. (HR. Muslim no. 2951)
Artinya: "Aku diutus dan hari kiamat seperti dua ini." Beliau menggabungkan (menempelkan) jari telunjuk dan jari tengah.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari (w. 256 H) memuat hadits ini dalam kitab shahihnya sebagai dalil tentang dekatnya hari kiamat.
- Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa isyarat dengan dua jari ini adalah untuk menggambarkan kedekatan waktu antara diutusnya Nabi ﷺ dengan hari kiamat. Beliau menukil kesepakatan ulama bahwa tidak ada nabi setelah Nabi kita ﷺ, dan bahwa beliau adalah penutup para nabi. Maka jarak antara beliau dengan hari kiamat hanyalah masa umatnya.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah untuk menunjukkan dekatnya hari kiamat, dan bahwa yang dimaksud dengan "dua ini" adalah jari telunjuk dan jari tengah. Beliau juga menukil perkataan ulama bahwa ini adalah isyarat tentang sedikitnya masa yang tersisa antara umat Nabi ﷺ dan hari kiamat dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya.
Penjelasan Rinci
Hadits yang agung ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Para ulama menjelaskan beberapa poin penting:
- Makna Kedekatan Hari Kiamat: Yang dimaksud dengan "dekat" di sini adalah dekatnya waktu diutusnya Nabi Muhammad ﷺ dengan hari kiamat, jika dibandingkan dengan jarak antara Nabi Adam 'alaihissalam dan Nabi Isa 'alaihissalam. Para nabi terdahulu diutus jauh sebelum hari kiamat, sedangkan Nabi kita ﷺ diutus di akhir zaman. Tidak ada nabi lagi setelah beliau. Maka, seluruh masa setelah beliau wafat hingga hari kiamat adalah bagian dari "tanda-tanda dekatnya" kiamat itu sendiri.
- Isyarat Dua Jari: Isyarat ini sangat jelas dan mudah dipahami. Jari telunjuk dan jari tengah adalah dua jari yang berdampingan. Ini menunjukkan bahwa jarak antara kenabian Muhammad ﷺ dan hari kiamat sangatlah pendek, bagaikan dua jari yang saling menempel. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam kitabnya At-Takhwif min An-Nar menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa sisa umur dunia setelah diutusnya Nabi ﷺ hanyalah seperti jarak antara dua jari tersebut, yang merupakan waktu yang sangat singkat jika dibandingkan dengan umur dunia secara keseluruhan.
- Peringatan untuk Tidak Terlena: Tujuan utama dari hadits ini adalah untuk membangkitkan kesadaran kita. Jika hari kiamat sudah sedemikian dekat, maka kita tidak seharusnya sibuk dengan urusan dunia yang fana dan melupakan akhirat yang kekal. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa seorang mukmin sejati adalah yang selalu mengingat kematian dan hari akhir, serta mempersiapkan bekal untuk menghadapinya. Hadits ini adalah pengingat yang sangat kuat akan hal tersebut.
- Tidak Ada Nabi Setelah Beliau: Kedekatan ini juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi dan rasul. Tidak ada lagi syariat baru setelah syariat beliau. Maka, kewajiban kita adalah mengikuti beliau dan berpegang teguh pada sunnahnya hingga hari kiamat tiba.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
"كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ قَالَ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا»" (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Artinya: "Jika Rasulullah ﷺ selesai shalat Subuh, beliau berdoa: 'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.'"
Hikmah: Meskipun hari kiamat sudah dekat, Rasulullah ﷺ tetap mengajarkan kita untuk memohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima. Ini menunjukkan bahwa kedekatan hari kiamat tidak boleh membuat kita malas atau berputus asa. Sebaliknya, kita justru harus lebih giat beramal shalih dan memanfaatkan waktu yang ada sebaik-baiknya. Kita tidak tahu kapan kiamat tiba, tetapi kita tahu bahwa setiap amal baik akan menjadi bekal berharga di akhirat.
Kesimpulan Praktis
Dari hadits ini, kita dapat mengambil pelajaran untuk diamalkan:
- Yakinlah bahwa hari kiamat itu dekat. Keyakinan ini akan mendorong kita untuk lebih serius dalam beribadah dan menjauhi maksiat.
- Jangan menunda-nunda amal kebaikan. Karena kita tidak tahu kapan ajal atau kiamat akan menjemput. Segeralah bertaubat dan perbanyak amal shalih.
- Jadikan dunia sebagai ladang akhirat. Gunakan waktu, harta, dan tenaga kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan akhirat.
- Perbanyak mengingat kematian. Mengingat kematian akan membuat kita tidak terlalu cinta pada dunia dan lebih siap menghadapi kehidupan setelah mati.
- Berpegang teguhlah pada Al-Qur'an dan Sunnah. Karena tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ, maka satu-satunya petunjuk yang benar adalah dengan mengikuti keduanya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.