Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya riya' (pamer) dan sum'ah (ingin didengar orang). Intinya, siapa yang melakukan amal ibadah dengan tujuan agar dilihat atau didengar manusia, maka Allah akan membongkar niat buruknya di hari kiamat dan tidak memberi pahala. Ini adalah penyakit hati yang sangat berbahaya dan bisa menghapus amal.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq (yang melembutkan hati), Bab Riya' dan Sum'ah, no. 6499. Dari sahabat Jundab bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu.
Teks Hadits:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ سُفْيَانَ، حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ. وَحَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ سَلَمَةَ، قَالَ سَمِعْتُ جُنْدَبًا، يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ وَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ غَيْرَهُ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: "مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ".
Terjemahan:
Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang memperdengarkan (amalnya) kepada manusia (sum'ah), maka Allah akan memperdengarkan (keburukannya) pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang memperlihatkan (amalnya) kepada manusia (riya'), maka Allah akan memperlihatkan (niat buruknya) pada hari kiamat."
Penjelasan Ulama:
- Imam Al-Bukhari sendiri meletakkan hadits ini dalam bab khusus tentang riya' dan sum'ah, menunjukkan perhatian besar beliau pada masalah ini.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (11/336) menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah sebagai balasan yang setimpal (mujazah). Orang yang beramal karena ingin didengar manusia, maka Allah akan mempermalukannya dengan memperdengarkan kepada makhluk-Nya bahwa niatnya tidak ikhlas. Begitu pula yang beramal karena ingin dilihat manusia, Allah akan memperlihatkan hakikat dirinya yang penuh riya'.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (6/92) mengatakan bahwa hadits ini adalah ancaman keras bagi pelaku riya' dan sum'ah. Balasan di sini terjadi di akhirat, yaitu Allah akan membuka aibnya dan mempermalukannya di hadapan seluruh makhluk.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengajarkan kita tentang dua penyakit hati yang sangat halus namun mematikan amal:
- Sum'ah (سُمعة): Yaitu seseorang beramal ibadah dengan tujuan agar amalnya didengar orang lain, sehingga ia dipuji sebagai orang yang rajin beribadah, banyak berdzikir, atau pandai mengaji. Misalnya, seseorang memperindah suara bacaannya saat shalat sendirian bukan karena Allah, tetapi karena khawatir didengar orang lain lalu memujinya.
- Riya' (رِياء): Yaitu seseorang beramal ibadah dengan tujuan agar amalnya dilihat orang lain, sehingga ia dipuji sebagai orang yang dermawan, rajin shalat, atau tekun beribadah. Contohnya, seseorang bersedekah dengan jumlah besar di depan umum agar disebut dermawan, atau memperlama shalatnya di masjid agar dilihat orang lain.
Bagaimana Ulama Salaf Memahami dan Menerapkannya:
- Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, "Dulu para sahabat sangat takut terhadap riya', seakan-akan riya' itu adalah syirik yang tersembunyi." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf)
- Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya." (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syua'b Al-Iman)
- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sangat menekankan keikhlasan. Beliau sering berkata, "Aku berharap amalku ini ikhlas karena Allah semata."
Hadits ini juga mengingatkan bahwa balasan Allah itu setimpal (mukafaat). Orang yang ingin "didengar" manusia, maka Allah akan "memperdengarkan" keburukannya. Orang yang ingin "dilihat" manusia, maka Allah akan "memperlihatkan" aib niatnya. Ini adalah bentuk keadilan dan hukuman yang sangat pas.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Jundab bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, bahwa ia berkata, "Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang mengatakan 'Nabi ﷺ bersabda' selain beliau (maksudnya sahabat lain). Maka aku mendekat kepadanya dan aku mendengarnya bersabda..." (HR. Bukhari).
Kisah ini menunjukkan betapa berhati-hatinya para sahabat dalam meriwayatkan hadits. Jundab tidak langsung percaya begitu saja, tetapi ia memastikan dan mendekat untuk mendengar langsung dari mulut perawi yang terpercaya. Ini adalah pelajaran adab dalam menuntut ilmu: jangan mudah menerima berita tanpa verifikasi, apalagi dalam urusan agama.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa para salaf sangat menjaga keilmuan dan keikhlasan. Mereka tidak ingin menyebarkan sesuatu yang tidak pasti, karena takut berdusta atas nama Rasulullah ﷺ. Kehati-hatian ini lahir dari rasa takut kepada Allah dan keinginan untuk ikhlas dalam menyampaikan ilmu.
Kesimpulan Praktis
- Ikhlas adalah syarat diterimanya amal. Setiap amal ibadah harus diniatkan semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau dilihat manusia.
- Waspadai penyakit hati. Riya' dan sum'ah adalah penyakit yang sangat halus. Perbanyaklah berdoa kepada Allah agar dijauhkan darinya, seperti doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedang aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui." (HR. Ahmad, hasan).
- Sembunyikan amal sebisa mungkin. Jika tidak ada maslahat syar'i, lebih utama menyembunyikan amal kebaikan agar terhindar dari riya'. Namun, jika amal itu bisa menjadi teladan bagi orang lain (seperti mengajar atau sedekah di depan umum), niatkanlah untuk memberi contoh, bukan untuk pamer.
- Perbanyak muhasabah (introspeksi). Setiap selesai beramal, evaluasilah niat kita. Apakah ada keinginan untuk dipuji? Jika ada, segera perbaiki dan bertaubatlah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.