Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa manusia yang benar-benar unggul dan layak dijadikan teladan itu sangat langka. Rasulullah ﷺ mengumpamakan mereka seperti unta pilihan dari seratus unta yang sulit ditemukan. Maka hendaknya kita tidak silau dengan banyaknya manusia, tetapi mencari dan meneladani orang-orang pilihan yang berpegang pada agama dengan benar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Raqaq, Bab Raf'ul Amanah, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.
Teks hadits:
إِنَّمَا النَّاسُ كَالْإِبِلِ الْمِائَةِ، لَا تَكَادُ تَجِدُ فِيهَا رَاحِلَةً
Terjemahan: "Sesungguhnya manusia itu seperti seratus unta, hampir-hampir engkau tidak menemukan padanya seekor unta yang layak ditunggangi."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dengan lafaz yang semakna.
Adapun ayat yang berkaitan dengan makna kelangkaan orang yang bersyukur dan beriman, Allah Ta'ala berfirman:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
QS. Saba' [34]: 13
Terjemahan: "Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur."
Juga firman Allah:
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
QS. Yusuf [12]: 103
Terjemahan: "Dan kebanyakan manusia, walaupun engkau sangat menginginkan, tidak akan beriman."
Penjelasan Rinci
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah bahwa manusia yang sempurna, yang bisa dijadikan sandaran dan teladan dalam kebaikan, jumlahnya sangat sedikit dibandingkan banyaknya manusia. Seperti unta: dari seratus ekor, belum tentu ada satu yang cocok untuk ditunggangi karena harus memenuhi syarat kuat, jinak, dan sehat.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini merupakan perumpamaan tentang kelangkaan orang yang sempurna dalam ilmu, amal, dan akhlak. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama memahaminya sebagai isyarat tentang sedikitnya orang yang benar-benar menjaga amanah agama.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab "mengangkat amanah" karena ketika amanah diangkat dan hilang dari hati manusia, maka manusia yang layak dipercaya pun menjadi langka. Beliau menukil perkataan sebagian salaf: "Aku tidak melihat sesuatu yang lebih sedikit dari amanah, dan tidak melihat sesuatu yang lebih banyak dari manusia."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam penjelasan beliau tentang ayat-ayat yang semakna menegaskan bahwa kelangkaan orang pilihan adalah sunnatullah, agar seorang mukmin tidak bergantung pada banyaknya manusia, tetapi bergantung pada kebenaran dan orang-orang yang berpegang teguh padanya.
Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar: sebagian memahaminya sebagai isyarat tentang sedikitnya orang yang sempurna secara mutlak, sebagian lain memahaminya dalam konteks amanah dan kepemimpinan. Namun semuanya sepakat bahwa intinya adalah kelangkaan manusia pilihan. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan keduanya, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan Ibn Rajab, karena bab hadits ini memang tentang amanah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat yang sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Beliau pernah berkata: "Setiap bid'ah itu sesat, walaupun orang menganggapnya baik." Beliau juga sangat berhati-hati dalam berfatwa. Suatu ketika beliau ditanya tentang suatu masalah, lalu beliau menjawab dengan sangat hati-hati karena takut salah menisbatkan kepada Rasulullah ﷺ.
Hikmahnya: orang yang benar-benar menjaga amanah ilmu dan agama itu sedikit, dan Abdullah bin Umar adalah salah satu dari yang sedikit itu. Beliau tidak tergesa-gesa, tidak ikut arus, tetapi berpegang pada dalil. Inilah yang dimaksud hadits: manusia pilihan itu langka.
Kesimpulan Praktis
- Jangan silau dengan banyaknya manusia; kebenaran tidak diukur dari jumlah.
- Carilah guru dan teladan yang benar-benar berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah, walaupun sedikit.
- Jagalah amanah, terutama amanah ilmu dan agama, karena kelangkaan orang terpercaya adalah tanda akhir zaman.
- Perbaiki diri sendiri agar termasuk orang yang layak dipercaya, bukan sekadar ikut-ikutan.
- Berdoalah agar Allah menjadikan kita hamba yang istiqamah, bukan hanya banyak bicara tetapi sedikit amal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.