Penjelasan Hadits Bukhari No. 6493 tentang Amal dinilai berdasarkan akhirnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa penilaian akhir seseorang bukan dilihat dari banyaknya amal yang tampak di mata manusia, melainkan dari bagaimana ia mengakhiri hidupnya. Seseorang bisa tampak beramal seperti ahli surga, namun jika hatinya rusak dan akhir hidupnya buruk, ia bisa termasuk ahli neraka. Sebaliknya, seseorang yang tampak buruk bisa berubah dan mengakhiri hidupnya dengan khusnul khatimah. Karena itu, seorang mukmin harus terus menjaga keikhlasan, keteguhan iman, dan husnuzhan kepada Allah hingga akhir hayat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Raqaq, Bab Amal dengan Akhirnya, dari sahabat Sahl bin Sa'ad As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

" Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengerjakan amal yang menurut pandangan manusia adalah amal ahli surga, padahal ia termasuk ahli neraka. Dan seseorang mengerjakan amal yang menurut pandangan manusia adalah amal ahli neraka, padahal ia termasuk ahli surga. Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada akhirnya."

Dalil Al-Qur'an yang sangat berkaitan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُسْلِمُونَ

QS. Ali 'Imran [3]: 102

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam."

Juga firman Allah:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَـٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

QS. Ali 'Imran [3]: 105

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat."

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki makna yang sangat dalam dan menyentuh hati. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab tentang pentingnya melihat akhir kehidupan seseorang, bukan hanya penampilan luarnya. Beliau menyebutkan bahwa amal yang tampak baik belum tentu diterima Allah, karena bisa jadi amal tersebut tidak dilandasi keikhlasan atau ternyata diakhiri dengan kemaksiatan yang membatalkannya.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits serupa menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "amal ahli surga" adalah amal yang secara lahiriah sesuai dengan syariat, namun bisa jadi seseorang melakukannya bukan karena Allah, atau ia melakukannya lalu berubah di akhir hayatnya. Beliau menegaskan bahwa yang menjadi patokan adalah khusnul khatimah (akhir yang baik) dan su'ul khatimah (akhir yang buruk).

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mengandung peringatan keras agar seseorang tidak merasa aman dari makar Allah. Beliau menyebutkan bahwa seorang hamba harus terus berdoa dan memohon keteguhan iman hingga akhir hayat, karena hati manusia bisa berubah-ubah. Ibn Rajab juga mengutip perkataan Al-Hasan al-Bashri yang mengatakan: "Sesungguhnya seorang mukmin itu mengumpulkan antara ihsan (berbuat baik) dan khauf (rasa takut), sedangkan munafik mengumpulkan antara isa'ah (berbuat buruk) dan aman (merasa aman dari azab)."

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan menjelaskan bahwa amal itu seperti tanaman yang bisa berubah buahnya di akhir. Beliau menekankan pentingnya istiqamah (keteguhan) dan tsabat (ketetapan hati) hingga akhir. Ibn Qayyim juga menjelaskan bahwa seseorang yang beramal baik lalu berubah di akhir hidupnya, itu menunjukkan bahwa amalnya tidak diterima atau ia memiliki penyakit hati yang tersembunyi.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan ayat-ayat tentang khatimah menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati. Beliau menekankan bahwa amal yang diterima adalah amal yang dilandasi iman dan ikhlas, serta diakhiri dengan kebaikan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini bukan berarti seseorang boleh berputus asa, tetapi justru menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri dan berdoa agar Allah menetapkan hati di atas iman. Beliau juga menjelaskan bahwa kisah dalam hadits ini menunjukkan bahwa seseorang bisa berjihad dengan hebat, tetapi karena hatinya tidak ikhlas atau karena ia berputus asa dari rahmat Allah, ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, yang merupakan dosa besar.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan pentingnya husnuzhan kepada Allah dan menjauhi su'uzhan (berprasangka buruk) kepada-Nya. Beliau menekankan bahwa seorang Muslim harus terus berdoa agar Allah memberikan khusnul khatimah dan menjauhkan dari su'ul khatimah.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menegaskan keabsahan hadits ini dan menjelaskan bahwa maknanya adalah amal seseorang dinilai berdasarkan bagaimana ia mengakhirinya, bukan berdasarkan penampilan luarnya.

Perbedaan pendapat di antara ulama dalam memahami hadits ini terletak pada apakah amal yang tampak baik itu benar-benar diterima atau tidak. Sebagian ulama seperti Al-Hasan al-Bashri dan Ibn Rajab menekankan bahwa amal tersebut bisa jadi tidak diterima karena tidak ikhlas atau karena ada penyakit hati. Sedangkan Ibnu Hajar dan An-Nawawi menekankan bahwa yang menjadi patokan adalah akhir hayat, dan seseorang bisa berubah dari baik menjadi buruk atau sebaliknya. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa amal itu tergantung pada akhirnya, sebagaimana ditegaskan dalam hadits itu sendiri, dan seorang hamba harus terus menjaga keimanan dan ketakwaan hingga akhir hayat.

Story Telling

Dikisahkan dalam hadits ini bahwa Nabi ﷺ melihat seorang lelaki yang berperang melawan orang-orang musyrik dengan sangat gagah berani. Dia adalah salah satu yang paling mampu di antara kaum Muslimin dalam pertempuran. Namun, Nabi ﷺ yang melihat dengan mata kenabiannya mengetahui bahwa lelaki ini akan mengakhiri hidupnya dengan cara yang buruk. Beliau bersabda: "Barangsiapa yang ingin melihat seorang lelaki dari penghuni neraka, maka lihatlah orang ini."

Seorang sahabat yang mendengar sabda Nabi ﷺ itu kemudian mengikuti lelaki tersebut. Dia terus mengikutinya dalam pertempuran hingga lelaki itu terluka parah. Karena tidak tahan dengan rasa sakit dan berputus asa dari rahmat Allah, lelaki itu meletakkan ujung pedangnya di antara kedua dadanya dan menekannya hingga pedang itu menembus bahunya. Dia bunuh diri.

Kemudian Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba dapat melakukan amal yang tampak di mata manusia sebagai amal penghuni surga, padahal dia adalah dari penghuni neraka; dan sebaliknya, seorang hamba dapat melakukan amal yang tampak di mata manusia sebagai amal penghuni neraka, padahal dia adalah dari penghuni surga. Sesungguhnya amal itu tergantung pada akhir perbuatan."

Hikmah dari kisah ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif adalah bahwa seseorang tidak boleh tertipu dengan amal yang banyak dan tampak hebat, karena bisa jadi amal itu tidak diterima Allah. Beliau juga mengingatkan bahwa putus asa dari rahmat Allah adalah dosa besar yang bisa menghantarkan seseorang ke neraka, sebagaimana firman Allah:

وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

QS. Yusuf [12]: 87

"Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang-orang yang kafir."

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin itu beramal dengan amal ahli surga, tetapi ia takut bahwa amalnya tidak diterima. Dan seorang munafik itu beramal dengan amal ahli neraka, tetapi ia merasa aman dari azab Allah."

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan tertipu dengan amal yang banyak dan tampak hebat, karena yang menjadi patokan adalah bagaimana seseorang mengakhiri hidupnya. Teruslah berdoa dan memohon kepada Allah agar diberikan khusnul khatimah.
  2. Jauhi putus asa dari rahmat Allah, karena putus asa adalah dosa besar yang bisa menghantarkan seseorang ke neraka. Sebesar apapun dosa seseorang, pintu taubat selalu terbuka selama ruh masih di badan.
  3. Jaga keikhlasan dalam beramal, karena amal yang tidak ikhlas tidak akan diterima Allah, meskipun tampak hebat di mata manusia.
  4. Perbanyak doa agar Allah menetapkan hati di atas iman, sebagaimana doa Nabi ﷺ:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. At-Tirmidzi, dari Anas bin Malik)

  1. Jangan menghakimi orang lain, karena kita tidak mengetahui bagaimana akhir hidup seseorang. Bisa jadi seseorang yang tampak buruk di mata kita, ternyata mengakhiri hidupnya dengan khusnul khatimah.
  2. Teruslah beramal saleh dan istiqamah hingga akhir hayat, karena amal itu tergantung pada akhirnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?