Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6490 tentang Nasihat melihat yang lebih rendah agar bersyukur

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah obat penenang hati dari penyakit hasad dan tidak pernah merasa cukup. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita sebuah resep praktis: jika pandangan mata kita tertuju pada orang yang lebih kaya atau lebih tampan, segera alihkan pandangan hati kita kepada orang yang berada di bawah kita dalam hal harta dan penampilan. Ini bukan untuk merendahkan orang lain, tetapi untuk menyadarkan kita akan nikmat Allah yang telah kita terima, sehingga hati menjadi tenang, syukur bertambah, dan terhindar dari sifat iri dan dengki.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini adalah sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq (Hadits 6490), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Thaha [20]: 131:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

"Dan janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir), sebagai bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."

Ayat ini turun sebagai petunjuk bagi Nabi ﷺ, dan tentu saja bagi kita semua, agar tidak terpaku pada kemewahan dunia yang diberikan kepada orang lain, karena itu hanyalah ujian dan bersifat sementara, sedangkan karunia Allah di akhirat jauh lebih baik dan kekal.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini adalah anjuran untuk melihat orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia, agar hati tidak tertimpa penyakit hasad dan agar nikmat yang ada terasa besar. Beliau juga menukil perkataan sebagian ulama bahwa melihat orang yang di atas dalam urusan agama adalah terpuji, karena memotivasi untuk menambah kebaikan.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (kitab yang sama juga diriwayatkan oleh Imam Muslim) menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah untuk menyembuhkan penyakit hati, karena melihat ke atas dalam masalah dunia akan menyebabkan seseorang tidak mensyukuri nikmat dan merasa kekurangan, sedangkan melihat ke bawah akan menumbuhkan rasa syukur.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua arah pandang yang berbeda, dan keduanya memiliki tujuan yang mulia:

  1. Pandangan dalam Urusan Dunia: Dalam hal harta, kekayaan, kesehatan, dan penampilan fisik, kita diperintahkan untuk melihat orang yang berada di bawah kita. Mengapa? Karena jika kita melihat orang yang lebih kaya, lebih tampan, atau lebih sehat, maka kita akan cenderung merasa kurang, tidak puas, dan bahkan bisa tumbuh penyakit hati seperti hasad (iri) dan dengki. Sebaliknya, jika kita melihat orang yang lebih miskin, kurang mampu, atau memiliki kekurangan fisik, maka kita akan menyadari betapa besar nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Ini akan melahirkan rasa syukur dan kebahagiaan hati.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa melihat kenikmatan orang lain dalam urusan dunia adalah sumber dari segala kegelisahan dan ketidakpuasan. Oleh karena itu, Islam mengarahkan hati seorang mukmin untuk fokus pada nikmat yang ada padanya, bukan pada apa yang tidak dia miliki.

  1. Pandangan dalam Urusan Agama: Para ulama, termasuk Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam, menjelaskan bahwa dalam urusan agama, ilmu, dan amal shalih, justru kita dianjurkan untuk melihat orang yang berada di atas kita. Kita harus melihat orang yang lebih alim, lebih rajin beribadah, dan lebih baik akhlaknya, agar kita termotivasi untuk mengejar ketertinggalan kita. Ini adalah pandangan yang membawa kepada kebaikan dan kemajuan.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah menjelaskan bahwa hadits ini adalah obat bagi hati yang gelisah. Beliau mencontohkan, jika seseorang memiliki rumah sederhana, maka hendaknya ia melihat orang yang tinggal di gubuk reyot. Jika ia memiliki satu kendaraan sederhana, hendaknya ia melihat orang yang berjalan kaki. Dengan begitu, hati akan merasa cukup dan tenang.

Perbedaan arah pandang ini menunjukkan keindahan dan keseimbangan ajaran Islam. Kita tidak diperintahkan untuk selalu merasa rendah diri dalam semua hal, tetapi kita diajarkan untuk menggunakan perbandingan sebagai alat untuk mencapai kebahagiaan dunia dan kesuksesan akhirat.

Story Telling

Dahulu, ada seorang ulama salaf yang zuhud, Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah. Suatu hari, beliau melihat seorang laki-laki yang sangat miskin, pakaiannya compang-camping dan keadaannya sangat memprihatinkan. Salah seorang sahabatnya berkata, "Wahai Abu Abdillah, alhamdulillah kita masih diberi kecukupan oleh Allah, tidak seperti orang ini."

Maka Imam Sufyan ats-Tsauri menimpali dengan bijak, "Justru kita yang harus bersyukur, karena kita telah diberi nikmat yang tidak diberikan kepadanya. Namun, ingatlah, bahwa dia juga telah diberi nikmat oleh Allah yang mungkin tidak kita miliki. Kita tidak tahu, mungkin dengan kefakirannya itu, dia lebih dekat kepada Allah dan lebih ringan hisabnya di akhirat."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa perbandingan dalam hal dunia hanyalah untuk memunculkan rasa syukur, bukan untuk merasa lebih mulia. Kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan harta atau penampilan, tetapi dengan ketakwaan. (Kisah ini adalah pelajaran umum dari perilaku salaf, dan semangatnya sejalan dengan hadits di atas).

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Latih Hati untuk Bersyukur: Setiap kali merasa kurang dengan apa yang kita miliki, segera ingatlah orang-orang yang berada di bawah kita dalam hal harta dan penampilan. Ucapkan "Alhamdulillah" atas segala nikmat yang telah Allah berikan.
  2. Jauhi Hasad dan Iri: Jangan biarkan pandangan kita pada kelebihan orang lain menumbuhkan penyakit hati. Sadari bahwa rezeki adalah pembagian dari Allah, dan Dia lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
  3. Fokus pada Urusan Akhirat: Jadikan orang-orang yang lebih shalih, lebih alim, dan lebih rajin beribadah sebagai panutan dan motivasi untuk meningkatkan kualitas keimanan dan amal kita.
  4. Hidup Sederhana dan Qana'ah: Terapkan sikap qana'ah (merasa cukup) dengan apa yang Allah berikan. Ini adalah kekayaan hati yang sejati, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi