Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah nasihat agung dari Nabi ﷺ agar kita bersikap moderat dan konsisten dalam beramal, tidak berlebihan hingga akhirnya malah berhenti. Beliau juga mengajarkan bahwa amal kita tidak akan pernah bisa “membeli” surga, karena surga itu murni karunia dan rahmat Allah. Namun, kita tetap diperintahkan untuk beramal dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk ibadah dan rasa syukur, sambil berharap rahmat-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman:
> وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ
“Dan sekiranya mereka rela dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: ‘Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian pula Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.’” (QS. At-Taubah [9]: 59)
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin selalu berharap kepada karunia dan rahmat Allah, bukan mengandalkan amalnya semata. Ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ dalam hadits yang sedang kita bahas.
2. Hadits Terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq (Kitab Renungan), Bab "Tujuan dan Konsistensi dalam Beramal", no. 6467, dari sahabat Aisyah radhiyallahu 'anha.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna "سَدِّدُوا" (luruskanlah) dan "قَارِبُوا" (mendekatlah), serta hikmah di balik sabda Nabi ﷺ ini.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga membahas hadits serupa dan menekankan pentingnya moderasi dalam ibadah.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan keseimbangan antara beramal dan berharap rahmat Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung tiga pesan utama yang sangat penting:
1. "سَدِّدُوا وَقَارِبُوا" (Luruskanlah dan mendekatlah)
- "Saddidu" artinya beramallah dengan benar, tepat, dan sesuai tuntunan syariat. Ini adalah perintah untuk beramal dengan kualitas terbaik.
- "Qaribu" artinya jika tidak mampu mencapai kesempurnaan, maka mendekatlah kepadanya. Jangan berhenti total karena merasa tidak mampu.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa makna gabungan keduanya adalah: "Beramallah dengan benar dan konsisten, dan jika kalian tidak mampu melakukannya secara sempurna, maka lakukanlah yang mendekati kesempurnaan itu." Ini adalah rahmat dari Allah agar kita tidak putus asa.
2. "وَأَبْشِرُوا" (Dan bergembiralah)
- Ini adalah kabar gembira bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuannya.
- Selama kita beramal dengan ikhlas dan berusaha semaksimal mungkin, maka kita tidak perlu khawatir berlebihan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
3. "فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ" (Sesungguhnya amal seseorang tidak akan memasukkannya ke surga)
- Ini adalah penegasan bahwa surga adalah murni karunia Allah, bukan upah dari amal kita.
- Para sahabat bertanya, "Termasuk engkau juga, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepadaku."
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk tidak berbangga diri dengan amal, karena semua amal kita sangat kecil dibandingkan nikmat Allah. Namun, ini bukan berarti kita meninggalkan amal. Justru kita harus beramal dengan sungguh-sungguh, karena amal adalah sebab untuk mendapatkan rahmat Allah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menekankan bahwa hadits ini menyeimbangkan antara dua hal: beramal dengan sungguh-sungguh dan tidak mengandalkan amal semata. Keduanya harus berjalan beriringan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya tentang amalan yang paling dicintai Rasulullah ﷺ. Beliau menjawab, "Amalan yang paling kontinu (terus-menerus) walaupun sedikit." Beliau juga berkata, "Rasulullah ﷺ apabila beramal, beliau melakukannya secara kontinu." (HR. Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sendiri mempraktikkan apa yang beliau ajarkan. Beliau tidak beribadah secara berlebihan hingga membuat tubuhnya kelelahan, tetapi beliau konsisten. Ini adalah teladan terbaik bagi kita dalam beramal.
Kesimpulan Praktis
- Beramallah dengan benar dan ikhlas, sesuai tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah.
- Jangan berlebihan dalam beribadah hingga akhirnya malah berhenti total. Konsistensi lebih utama daripada kuantitas yang tinggi tapi tidak berkelanjutan.
- Jangan mengandalkan amal semata untuk masuk surga. Surga adalah rahmat Allah, dan kita hanya bisa berusaha serta berharap.
- Selalu berharap ampunan dan rahmat Allah, karena tanpa itu kita tidak akan selamat.
- Jangan putus asa jika merasa amal kita masih kurang. Teruslah berusaha dan perbaiki kualitasnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.