Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6464 tentang Amal rutin dan konsisten meskipun sedikit paling dicintai Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan tiga prinsip penting dalam beramal: pertama, kita diperintahkan untuk berusaha melakukan amal dengan benar dan seimbang (tidak berlebihan dan tidak meremehkan); kedua, kita tidak boleh bergantung pada amal kita untuk masuk surga, karena surga adalah rahmat Allah semata; dan ketiga, amal yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara terus-menerus (konsisten) meskipun jumlahnya sedikit. Ini adalah petunjuk Nabi ﷺ agar kita beribadah dengan istiqamah dan penuh harap kepada rahmat Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. Al-Mulk [67]: 2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

"Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun."

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menguji hamba-Nya dengan amal, bukan sekadar banyaknya amal, tetapi kualitas dan keikhlasan serta kesesuaian amal dengan sunnah. Ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ dalam hadits di atas.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab ar-Riqaq (Renungan), Bab an-Niyyah wa al-Mudawamah 'ala al-'Amal (Niat dan Konsistensi dalam Beramal), no. 6464. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat al-Musafirin, Bab al-Amru bi ar-Rafqi fi al-'Ibadah, no. 2818.

Penjelasan ulama:

Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (jilid 6, hlm. 71) menjelaskan bahwa makna "سَدِّدُوا وَقَارِبُوا" adalah perintah untuk berusaha melakukan amal dengan benar dan tepat (sesuai sunnah), dan jika tidak mampu sempurna, maka mendekatilah kesempurnaan itu. Beliau juga menegaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu (dawam), karena dengan kontinuitas, amal itu menjadi bukti keistiqamahan seorang hamba.

Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari (jilid 11, hlm. 298) menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan agar seorang muslim tidak berlebihan dalam beramal hingga akhirnya malah meninggalkan amal karena kelelahan. Beliau juga mengutip perkataan al-Hasan al-Bashri (w. 110 H): "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, jika mereka beramal, mereka melakukannya dengan kontinu, bukan dengan melonjak-lonjak lalu berhenti."

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung tiga pesan utama yang saling berkaitan:

1. "سَدِّدُوا وَقَارِبُوا" (Lakukanlah amal dengan benar dan moderat)

Kata "سَدِّدُوا" berasal dari "السَّدَاد" yang berarti kebenaran dan ketepatan. Maksudnya, berusahalah untuk melakukan amal secara benar sesuai tuntunan syariat, baik dari segi niat (ikhlas karena Allah) maupun tata cara (sesuai sunnah Nabi ﷺ). Adapun "قَارِبُوا" berarti jika kalian tidak mampu mencapai kesempurnaan mutlak, maka mendekatilah kesempurnaan itu. Ini adalah bentuk kasih sayang syariat agar manusia tidak putus asa dan tetap berusaha.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (jilid 1, hlm. 78) menjelaskan bahwa perintah ini mengajarkan keseimbangan: jangan terlalu keras hingga memberatkan diri, dan jangan terlalu longgar hingga meninggalkan kewajiban. Beliau juga menekankan bahwa amal yang dilakukan dengan kontinu lebih utama daripada amal yang banyak tetapi terputus-putus.

2. "وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ" (Ketahuilah bahwa amal kalian tidak akan memasukkan kalian ke surga)

Ini adalah penegasan bahwa surga adalah anugerah dan rahmat Allah semata, bukan hasil dari amal kita. Amal hanyalah sebab, bukan harga yang setara dengan surga. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Tidak ada seorang pun yang amalnya memasukkannya ke surga." Para sahabat bertanya, "Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku." (HR. al-Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816).

Imam Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (jilid 1, hlm. 245) menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan tawadhu' (rendah hati) dalam beramal. Seorang muslim tidak boleh merasa bangga dengan amalnya, tetapi harus selalu berharap rahmat Allah dan takut amalnya tidak diterima.

3. "وَأَنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ أَدْوَمُهَا إِلَى اللَّهِ وَإِنْ قَلَّ" (Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit)

Ini adalah puncak dari hadits. Amal yang sedikit tetapi dikerjakan secara terus-menerus lebih dicintai Allah daripada amal yang banyak tetapi hanya sesekali. Karena kontinuitas menunjukkan keistiqamahan, kesabaran, dan kecintaan yang mendalam kepada Allah.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Madarij as-Salikin (jilid 1, hlm. 108) menjelaskan bahwa amal yang kontinu memiliki beberapa keutamaan: (1) menjadi bukti kejujuran iman, (2) melatih jiwa untuk konsisten dalam ketaatan, (3) mendatangkan keberkahan karena dilakukan secara rutin, dan (4) menjadi sebab masuknya seorang hamba ke dalam golongan orang-orang yang istiqamah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ, bahwa beliau berkata:

"Rasulullah ﷺ apabila mengerjakan suatu amal, beliau melakukannya secara kontinu (terus-menerus). Dan tidaklah beliau tidur pada malam hari hingga membaca surat al-Isra' dan az-Zumar." (HR. at-Tirmidzi no. 3402, dan beliau berkata: hasan shahih).

Aisyah juga menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya: "Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling dicintai Allah?" Beliau menjawab: "Amal yang paling kontinu meskipun sedikit." (HR. al-Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 2818).

Dari sini kita belajar bahwa istiqamah dalam amal, meskipun sedikit, lebih utama daripada amal yang banyak tetapi tidak berkesinambungan. Ini adalah jalan para salafus shalih yang selalu menjaga amal mereka, baik yang wajib maupun sunnah, dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Kesimpulan Praktis

  1. Berusahalah untuk istiqamah dalam setiap amal, baik yang wajib maupun sunnah. Jangan mudah berubah-ubah atau malas.
  2. Jangan berlebihan dalam beramal hingga memberatkan diri sendiri, karena bisa menyebabkan putus asa dan meninggalkan amal sama sekali.
  3. Jangan bergantung pada amal untuk masuk surga, tetapi berharaplah kepada rahmat Allah dan takutlah akan siksa-Nya.
  4. Pilihlah amal yang ringan tetapi kontinu, seperti membaca Al-Qur'an setiap hari meskipun hanya beberapa ayat, shalat sunnah rawatib, atau sedekah rutin.
  5. Jadikan niat hanya karena Allah dan ikutilah sunnah Nabi ﷺ dalam setiap amal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.