Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan kepada kita tentang dua hal penting: pertama, bahwa mayoritas penghuni surga adalah orang-orang miskin (fuqara'), dan kedua, bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita. Ini bukan berarti kemiskinan itu sendiri yang memasukkan ke surga, melainkan karena sifat-sifat mulia yang biasanya menyertai orang miskin, seperti tawadhu', tidak sombong, dan tidak terlena dengan dunia. Adapun tentang wanita, ini adalah peringatan keras bagi kaum wanita agar menjaga lisan, tidak banyak mengeluh, dan bersyukur atas nikmat Allah, serta menjauhi sebab-sebab yang bisa menjerumuskan ke neraka.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا سَلْمُ بْنُ زَرِيرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ"
"Aku melihat ke dalam Surga dan mendapati bahwa mayoritas penghuninya adalah orang-orang miskin, dan aku melihat ke dalam Api Neraka dan mendapati bahwa mayoritas penghuninya adalah wanita." (HR. Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq, Bab Keutamaan Kemiskinan, no. 6449)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-An'am [6]: 52
وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ
"Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadapmu, sehingga kamu mengusir mereka, maka kamu termasuk orang-orang yang zalim."
Ayat ini turun berkaitan dengan para sahabat yang miskin namun mulia di sisi Allah, seperti Bilal, Ammar, Shuhaib, dan lainnya. Ini menunjukkan kedudukan tinggi mereka di sisi Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan hadits ini dengan beberapa penjelasan penting:
1. Makna "Mayoritas Penghuni Surga adalah Orang Miskin"
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa orang-orang miskin yang dimaksud adalah mereka yang bersabar atas kemiskinannya, tidak mengeluh kepada makhluk, dan tidak iri kepada orang kaya. Mereka inilah yang lebih dahulu masuk surga karena hati mereka tidak terikat dengan dunia.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa kemiskinan bukanlah tujuan, melainkan sarana. Orang miskin yang masuk surga adalah mereka yang miskin harta namun kaya hati—kaya akan keimanan, kesabaran, dan rasa syukur. Sedangkan orang kaya yang masuk surga adalah mereka yang menggunakan hartanya di jalan Allah.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa mayoritas penghuni surga adalah orang miskin karena beberapa sebab:
- Orang miskin lebih sedikit hisabnya di akhirat
- Hati mereka lebih mudah tunduk dan khusyu' kepada Allah
- Mereka tidak disibukkan oleh harta dan jabatan
- Mereka lebih mudah merasakan kelembutan hati dan kasih sayang
2. Makna "Mayoritas Penghuni Neraka adalah Wanita"
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan bagi kaum wanita. Beliau menyebutkan dua sebab utama:
Pertama, banyaknya wanita yang masuk neraka karena banyak mengutuk (melaknat) dan mengingkari kebaikan suami. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Aku melihat neraka, ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita, karena mereka banyak mengutuk dan mengingkari kebaikan suami." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kedua, karena banyak wanita yang terlena dengan perhiasan dunia, bersolek berlebihan, dan lalai dari kewajiban kepada Allah.
Namun perlu digarisbawahi—sebagaimana ditegaskan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin—bahwa ini bukan berarti semua wanita masuk neraka. Banyak juga wanita mulia yang menjadi penghuni surga, seperti Khadijah, Aisyah, Fatimah, Maryam, dan Asiyah. Yang dimaksud adalah mayoritas secara umum, bukan keseluruhan.
3. Hikmah di Balik Kedua Kabar Ini
Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa'id menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita tentang hakikat dunia:
- Kemiskinan bukanlah aib jika diiringi kesabaran dan keimanan
- Kekayaan bukanlah keutamaan jika melalaikan dari Allah
- Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, baik kaya maupun miskin
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini juga mengajarkan agar kita tidak tertipu dengan kemewahan dunia, karena justru orang-orang yang sederhana dan zuhud terhadap dunia lebih dekat kepada keselamatan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ duduk bersama para sahabatnya yang miskin dari kalangan Ahlush Shuffah—para sahabat yang tinggal di serambi masjid Nabawi, tidak punya rumah dan harta. Mereka adalah orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk belajar Al-Qur'an dan beribadah.
Datanglah orang-orang kaya Quraisy yang membawa banyak harta. Mereka berkata kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, jika engkau mau mengusir orang-orang miskin ini, kami akan duduk bersamamu dan mengambil ilmu darimu."
Maka Allah menurunkan ayat:
وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
"Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya." (QS. Al-An'am [6]: 52)
Rasulullah ﷺ pun menolak permintaan orang-orang kaya itu dan tetap mendampingi para sahabat yang miskin tersebut. Beliau bersabda: "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara umatku orang-orang yang aku diperintahkan untuk bersabar bersama mereka."
Kisah ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang-orang miskin yang saleh di sisi Allah dan Rasul-Nya. Kemiskinan mereka bukanlah kehinaan, justru menjadi sebab kemuliaan karena hati mereka tidak terikat dengan dunia.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah meremehkan orang miskin — Bisa jadi mereka lebih mulia di sisi Allah daripada kita. Perlakukan mereka dengan hormat dan kasih sayang.
- Jadikan kemiskinan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah — Jika kita diuji dengan kekurangan harta, bersabarlah dan jangan mengeluh. Yakinlah bahwa kesabaran kita akan diganjar dengan surga.
- Jika Allah memberi kekayaan, jangan lalai — Gunakan harta untuk kebaikan, jangan sombong, dan ingatlah bahwa harta adalah ujian, bukan tujuan.
- Bagi kaum wanita: jaga lisan dan hati — Hindari banyak mengeluh, mengutuk, dan mengingkari kebaikan suami. Perbanyak syukur dan taat kepada Allah.
- Bagi kaum pria: perlakukan wanita dengan baik — Hadits ini bukan untuk merendahkan wanita, melainkan untuk mengingatkan agar kita saling menasihati dalam kebaikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.