Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mengalami berbagai ujian berat. Ia menceritakan bahwa para sahabat berhijrah hanya untuk mencari wajah Allah. Sebagian mereka meninggal sebelum menikmati hasil di dunia, seperti Mus'ab bin 'Umair yang syahid di Uhud dan hanya memiliki selembar kain untuk kafan. Sebagian lain diberi kelapangan dunia, namun itu bukan ukuran kemuliaan. Intinya: kemiskinan dan kesulitan bukan tanda Allah membenci hamba, dan kekayaan bukan tanda Allah mencintainya; ukuran sejati adalah keikhlasan dan kesabaran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Raqaq, Bab Keutamaan Kemiskinan (no. 6448), dari Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Abu Wail (Syaqiq bin Salamah).
Adapun ayat yang sangat relevan dengan makna hadits ini:
وَمَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
QS. An-Nahl [16]: 96
Terjemahan: "Apa yang ada di sisi kalian akan habis, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sungguh, Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Ayat lain yang berkaitan:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
QS. Al-Insan [76]: 9
Terjemahan: "Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian hanya untuk mengharap wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula (ucapan) terima kasih."
Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits dalam bab keutamaan fakir miskin menunjukkan bahwa kemiskinan bisa menjadi sebab besarnya pahala bagi orang yang sabar. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits Khabbab ini menunjukkan para sahabat berhijrah dengan niat ikhlas, dan sebagian mereka wafat sebelum merasakan hasil dunia, sehingga pahala mereka tersimpan di sisi Allah. Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dorongan untuk zuhud terhadap dunia dan tidak menjadikan kelapangan dunia sebagai tanda keridhaan Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Keikhlasan dalam beramal. Khabbab berkata "نُرِيدُ وَجْهَ اللَّهِ" (kami menginginkan wajah Allah). Ini menunjukkan bahwa hijrah dan seluruh pengorbanan para sahabat murni untuk Allah, bukan untuk harta, kedudukan, atau pujian. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa kalimat ini menjadi dasar keikhlasan: amal hanya bernilai jika ditujukan kepada Allah.
Kedua: Sebagian sahabat wafat sebelum menikmati hasil dunia. Mus'ab bin 'Umair radhiyallahu 'anhu syahid di Perang Uhud dan hanya meninggalkan selembar kain (namirah) untuk kafan. Ketika kain itu menutupi kepalanya, kakinya terbuka; ketika menutupi kakinya, kepalanya terbuka. Nabi ﷺ memerintahkan menutupi kepala dan meletakkan rumput idhkhir di atas kaki. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa zuhudnya para sahabat dan betapa mereka mengutamakan akhirat di atas dunia.
Ketiga: Sebagian sahabat diberi kelapangan dunia. Khabbab berkata "وَمِنَّا مَنْ أَيْنَعَتْ لَهُ ثَمَرَتُهُ فَهُوَ يَهْدِبُهَا" — sebagian dari kami telah matang buahnya dan sedang memetiknya. Ini menggambarkan sahabat yang diberi kelapangan rezeki dan menikmati hasil amalnya di dunia. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini bukan celaan, tetapi menunjukkan bahwa Allah memberi karunia berbeda kepada hamba-Nya. Yang penting: jangan sampai kelapangan dunia melalaikan dari tujuan utama, yaitu wajah Allah.
Keempat: Kemiskinan bukan tanda kebencian Allah. Judul bab "Keutamaan Kemiskinan" menunjukkan bahwa fakir miskin yang sabar memiliki kedudukan tinggi. Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sendiri hidup sederhana, dan banyak sahabat utama yang miskin namun mulia di sisi Allah.
Kelima: Perbedaan pendapat ulama. Sebagian ulama menjelaskan bahwa kekayaan dan kemiskinan keduanya bisa menjadi ujian. Yang paling kuat menurut dalil: kemuliaan di sisi Allah diukur dengan takwa, bukan harta. Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
QS. Al-Hujurat [49]: 13
Terjemahan: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."
Story Telling
Kisah Mus'ab bin 'Umair radhiyallahu 'anhu adalah pelajaran yang sangat mengharukan. Sebelum masuk Islam, ia adalah pemuda Quraisy yang kaya, tampan, dan dimanjakan oleh orang tuanya. Ia mengenakan pakaian terbaik dan wangi. Setelah masuk Islam, ia meninggalkan semua kemewahan itu, hijrah ke Madinah, dan menjadi dai pertama di sana. Ketika syahid di Perang Uhud, ia hanya memiliki selembar kain untuk kafan — bahkan tidak cukup menutupi seluruh tubuhnya. Nabi ﷺ dan para sahabat menangis melihat keadaan itu. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan kisah ini dalam Fathul Bari sebagai bukti bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan harta, tetapi dengan keimanan dan pengorbanan.
Khabbab bin al-Arat sendiri juga mengalami ujian berat. Ia pernah disiksa oleh orang-orang Quraisy dengan cara yang menyakitkan, namun tetap sabar. Di akhir hayatnya, ia sakit dan mengingat para sahabat yang telah mendahuluinya. Ia menangis bukan karena takut mati, tetapi karena khawatir jika kelapangan dunia yang ia dapatkan menjadi pengurangan pahala di akhirat. Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat menjaga keikhlasan dan takut kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Ikhlaslah dalam beramal. Segala amal, termasuk hijrah, sedekah, dan jihad, harus ditujukan hanya untuk mencari wajah Allah, bukan untuk pujian atau keuntungan dunia.
- Jangan mengukur kemuliaan dengan harta. Kemiskinan bukan tanda Allah membenci hamba, dan kekayaan bukan tanda Allah mencintainya. Ukuran sejati adalah takwa dan keikhlasan.
- Bersabarlah dalam kesulitan. Para sahabat yang wafat dalam keadaan miskin namun sabar mendapatkan pahala yang tersimpan di sisi Allah. Allah berfirman bahwa apa yang di sisi-Nya adalah kekal.
- Jangan tertipu dengan kelapangan dunia. Jika Allah memberi rezeki, gunakanlah untuk ketaatan dan jangan lalai dari tujuan utama, yaitu akhirat.
- Zuhudlah terhadap dunia. Nabi ﷺ dan para sahabat memberikan contoh hidup sederhana, tidak mengejar kemewahan, dan mengutamakan akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.