Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran yang sangat dalam tentang ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah. Bukanlah harta, kedudukan, atau ketampanan yang menjadikan seseorang mulia, melainkan keimanan dan ketakwaannya. Orang fakir yang sederhana namun hatinya bersih dan taat kepada Allah, jauh lebih mulia di sisi Allah dibandingkan orang kaya yang terpandang namun lalai dari mengingat-Nya. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk tidak meremehkan orang lain yang terlihat biasa-biasa saja, karena bisa jadi mereka adalah hamba-hamba pilihan Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq (Hadits tentang Hati yang Melembutkan), Bab Keutamaan Kemiskinan, no. 6447, dari sahabat Sahl bin Sa'd As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu.
Dalil dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah hanyalah ketakwaan, bukan keturunan, harta, atau kedudukan sosial.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan salaf sangat memahami dan mengamalkan makna hadits ini. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin sering kali menjelaskan bahwa kemuliaan hakiki adalah kemuliaan iman dan takwa, bukan kemuliaan duniawi yang fana. Beliau menukil perkataan Al-Hasan al-Bashri yang berkata, "Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia memandang kepada hati dan amal kalian." Ini sejalan dengan semangat hadits di atas.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan sebuah peristiwa nyata di zaman Nabi ﷺ. Ada dua orang lelaki yang lewat di hadapan beliau. Orang pertama adalah seorang yang terpandang, kaya, dan dihormati masyarakat. Para sahabat menilai bahwa jika dia melamar, lamarannya pasti diterima; jika dia memberikan syafaat (pertolongan/perantara), syafaatnya pasti diterima. Namun, Rasulullah ﷺ diam, tidak memberikan komentar pujian.
Kemudian lewatlah orang kedua yang merupakan seorang fakir miskin dari kalangan muslimin. Penilaian para sahabat terhadapnya sangat kontras. Jika dia melamar, tidak akan diterima; jika dia memberi syafaat, tidak akan dihiraukan; dan jika dia berbicara, ucapannya tidak akan didengar. Namun, justru terhadap orang inilah Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang ini lebih baik daripada banyaknya orang yang pertama (yaitu orang kaya) yang memenuhi bumi."
Pelajaran Penting dari Hadits Ini:
- Kemuliaan di Sisi Allah Bukan Berdasarkan Ukuran Manusia: Manusia sering menilai kemuliaan berdasarkan harta, jabatan, dan penampilan. Akan tetapi, Allah menilai hamba-Nya berdasarkan apa yang ada di dalam hati, yaitu keimanan dan ketakwaan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ketakwaan adalah sebab utama untuk meraih kemuliaan di sisi Allah, dan ini tidak selalu identik dengan kekayaan atau status sosial.
- Keutamaan Fakir yang Sabar dan Tawadhu': Hadits ini juga menunjukkan keutamaan orang-orang fakir yang bersabar dan tetap teguh dalam keimanan. Mereka tidak memiliki daya tarik duniawi, namun di sisi Allah mereka memiliki kedudukan yang tinggi. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa orang yang fakir namun hatinya kaya dengan keimanan dan qana'ah (merasa cukup) adalah termasuk golongan yang dicintai Allah.
- Larangan Meremehkan Orang Lain: Hadits ini adalah teguran halus bagi kita agar tidak pernah meremehkan orang lain yang terlihat miskin atau sederhana. Bisa jadi orang yang kita anggap hina di mata manusia adalah orang yang sangat mulia di sisi Allah. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menekankan bahwa seorang mukmin tidak boleh memandang rendah saudaranya sesama muslim, karena bisa jadi orang yang rendah di mata manusia adalah wali Allah yang dicintai-Nya.
- Hakikat Kekayaan dan Kemiskinan: Hadits ini juga mengajarkan bahwa kemiskinan bukanlah aib selama diiringi dengan kesabaran dan keimanan. Yang menjadi aib adalah kekayaan yang melalaikan dari mengingat Allah dan membuat seseorang sombong. Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela kemiskinan secara mutlak, tetapi yang dicela adalah sikap seseorang yang tidak sabar dan tidak ridha dengan ketentuan Allah.
Catatan Penting: Hadits ini tidak berarti mencela orang kaya secara mutlak. Ada banyak sahabat yang kaya raya seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf yang sangat dicintai Allah. Yang menjadi ukuran adalah bagaimana seseorang menyikapi kekayaan atau kemiskinannya. Jika kaya, apakah dia bersyukur dan dermawan? Jika miskin, apakah dia sabar dan tidak meminta-minta?
Story Telling
Ada sebuah kisah yang sangat masyhur dari kalangan salaf yang mencerminkan makna hadits ini. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam kitab Az-Zuhd tentang seorang lelaki dari kalangan tabi'in yang sangat sederhana. Ia tidak memiliki harta, tidak memiliki kedudukan, dan tidak dikenal oleh manusia. Namun, setiap kali ia berjalan, para malaikat mengelilinginya.
Suatu hari, seorang ulama besar melihatnya dan bertanya, "Wahai hamba Allah, amalan apakah yang membuatmu mencapai derajat setinggi ini?" Lelaki itu menjawab, "Aku tidak memiliki amalan yang banyak. Akan tetapi, sejak aku mengenal Allah, aku tidak pernah berbicara dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku, aku tidak pernah menyimpan rasa dendam kepada seorang muslim pun, dan aku tidak pernah tidur dalam keadaan hatiku masih memiliki kebencian terhadap seseorang."
Ulama itu pun menangis dan berkata, "Inilah yang membuatmu mulia di sisi Allah. Engkau telah meraih apa yang tidak mampu diraih oleh orang-orang yang sibuk dengan dunia dan perhiasannya." Kisah ini menunjukkan bahwa kemuliaan hakiki adalah kemuliaan hati yang bersih, jauh dari penyakit hati, dan selalu menjaga lisan.
Kesimpulan Praktis
- Perbaiki Hubungan dengan Allah: Jadikan ketakwaan sebagai tujuan utama dalam hidup. Perbanyak amal ibadah, jaga shalat, dan perbanyak dzikir kepada Allah.
- Jangan Meremehkan Orang Lain: Jangan pernah memandang rendah seseorang karena penampilannya yang sederhana, pekerjaannya yang dianggap rendah, atau keadaannya yang miskin. Bisa jadi dia lebih mulia di sisi Allah daripada kita.
- Jaga Hati dari Penyakit: Bersihkan hati dari sifat sombong, ujub (bangga diri), hasad (dengki), dan riya'. Hati yang bersih adalah kunci kemuliaan di sisi Allah.
- Bersabar dalam Kekurangan: Jika Allah menguji kita dengan kekurangan harta atau kedudukan, maka bersabarlah dan yakinlah bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik. Jangan sampai kita iri kepada mereka yang diberikan kelebihan duniawi.
- Jadikan Akhlak Mulia sebagai Perhiasan: Berusahalah untuk memiliki akhlak yang mulia, seperti jujur, amanah, dermawan, dan pemaaf. Ini adalah perhiasan yang tidak akan pernah pudar, baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.