Penjelasan Hadits Bukhari No. 6445 tentang Menafkahkan seluruh harta di jalan Allah kecuali untuk utang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa tingginya sikap zuhud (tidak cinta dunia) dan kedermawanan Nabi ﷺ. Beliau tidak ingin menumpuk harta, meskipun sebanyak gunung Uhud yang sangat besar. Yang beliau inginkan hanyalah harta itu segera dibelanjakan di jalan kebaikan, kecuali sedikit yang disisihkan untuk melunasi utang. Ini adalah pelajaran agung bagi kita agar tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup, melainkan sebagai sarana untuk beribadah dan membantu sesama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq (Hadits tentang Hati yang Lembut), Bab "Qaulun Nabiyyi ﷺ: Lau Kana Li Mitslu Uhudin Dzahaban" (Bab Pernyataan Nabi ﷺ: "Seandainya Aku Memiliki Emas Sebesar Uhud"), no. 6445, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا لَسَرَّنِي أَنْ لَا تَمُرَّ عَلَيَّ ثَلَاثُ لَيَالٍ وَعِنْدِي مِنْهُ شَيْءٌ، إِلَّا شَيْئًا أُرْصِدُهُ لِدَيْنٍ

Terjemahan: "Seandainya aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, sungguh aku akan senang jika tidak ada tiga malam pun berlalu melainkan tidak ada lagi tersisa padaku darinya (sedikit pun), kecuali sesuatu yang aku simpan untuk membayar utang."

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

QS. Al-Qashash [28]: 60

Terjemahan: "Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?"

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan hadits ini secara panjang lebar. Beliau menukil perkataan para ulama tentang makna hadits ini, di antaranya bahwa hal ini menunjukkan kesempurnaan zuhud Nabi ﷺ dan bahwa beliau tidak menyimpan harta untuk dirinya sendiri, karena beliau adalah orang yang paling tahu tentang hakikat dunia yang fana. Imam An-Nawawi juga membahas hadits semakna dalam Syarah Shahih Muslim.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Makna Zuhud yang Sebenarnya: Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa zuhud bukanlah berarti mengharamkan harta atau tidak boleh memilikinya. Zuhud adalah kondisi hati yang tidak menggantungkan diri pada harta. Harta di tangan, tetapi hati tetap bersama Allah. Nabi ﷺ adalah orang yang paling zuhud, namun beliau tetap memiliki simpanan untuk keluarganya dan untuk keperluan umat.
  2. Harta adalah Ujian: Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sikap Nabi ﷺ ini adalah bentuk pengajaran kepada umatnya bahwa harta yang banyak adalah ujian yang berat. Semakin banyak harta, semakin besar tanggung jawab dan semakin besar godaan untuk mencintainya. Oleh karena itu, Nabi ﷺ lebih memilih untuk segera membelanjakannya di jalan kebaikan daripada menyimpannya, karena beliau khawatir harta itu akan menjadi fitnah (ujian) baginya.
  3. Pentingnya Membayar Utang: Pengecualian yang disebutkan Nabi ﷺ, yaitu menyimpan harta untuk membayar utang, menunjukkan betapa pentingnya menjaga kehormatan diri dengan tidak meninggalkan utang. Ini adalah pelajaran bahwa seorang muslim boleh menyimpan harta untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kewajiban, seperti membayar utang. Imam As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa seorang mukmin hendaknya memprioritaskan kewajiban yang harus ditunaikan sebelum membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang bersifat sunnah atau sedekah tambahan.
  4. Perbedaan Tingkatan Zuhud: Para ulama membagi zuhud menjadi beberapa tingkatan. Tingkatan tertinggi adalah zuhudnya para nabi dan orang-orang yang sangat jujur (shiddiqin), yaitu tidak menyimpan harta sedikit pun untuk kepentingan pribadi di dunia. Tingkatan di bawahnya adalah zuhudnya orang-orang shalih, yaitu memiliki harta tetapi hati tidak terikat padanya. Hadits ini menunjukkan tingkatan zuhud yang paling tinggi, yang merupakan kekhususan Nabi ﷺ karena beliau adalah orang yang paling dermawan dan paling tawakkal kepada Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika, Nabi ﷺ pernah kedatangan utusan yang membawa harta yang sangat banyak. Beliau ﷺ membagikan harta tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan hingga tidak tersisa sedikit pun. Ada seorang sahabat yang berkata, "Wahai Rasulullah, seandainya Tuan menyisihkan sedikit untuk Tuan dan keluarga Tuan." Maka Nabi ﷺ menjawab dengan tegas, "Biarkan mereka (harta itu pergi dariku). Demi Allah, aku tidak akan meminta-minta kepada mereka sedikit pun, dan aku tidak akan menimbunnya. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pembagi yang membagi dengan adil." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).

Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ benar-benar mengamalkan apa yang beliau sabdakan. Beliau tidak pernah menyimpan harta untuk dirinya sendiri, karena beliau adalah orang yang paling tahu bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Hikmah yang bisa kita ambil adalah bahwa kedermawanan dan kezuhudan Nabi ﷺ bukanlah karena beliau tidak membutuhkan harta, tetapi karena beliau sangat yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih kekal.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan Harta sebagai Sarana, Bukan Tujuan: Kita boleh mencari harta, tetapi jangan menjadikannya sebagai tujuan utama hidup. Jadikan harta sebagai alat untuk beribadah, membantu keluarga, dan menolong sesama.
  2. Segera Tunaikan Hak Allah dan Hak Manusia: Jika kita memiliki kelebihan harta, jangan ditimbun. Segera keluarkan zakatnya, tunaikan sedekahnya, dan bantulah orang-orang yang membutuhkan.
  3. Jangan Menunda Membayar Utang: Utang adalah tanggung jawab yang harus segera ditunaikan. Menyimpan harta untuk membayar utang adalah hal yang diperbolehkan dan bahkan dianjurkan agar kita tidak meninggalkan beban bagi orang lain.
  4. Latih Hati untuk Tidak Cinta Dunia: Mulailah dengan membiasakan diri bersedekah, meskipun sedikit. Semakin sering kita memberi, semakin lapang hati kita dan semakin jauh dari sifat kikir dan cinta dunia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?