Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa sifat tamak dan cinta harta tidak akan pernah puas pada diri manusia. Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin besar keinginan untuk menambahnya. Hanya kematian yang akan menghentikan ambisi ini, digambarkan dengan tanah yang memenuhi mulut. Namun, pintu taubat selalu terbuka bagi siapa saja yang mau kembali kepada Allah dan mensyukuri serta menggunakan hartanya di jalan yang benar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq (Hadits-hadits yang Melembutkan Hati), Bab: Apa yang Dihindari dari Fitnah Harta, no. 6439. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, no. 1048.
Teks Hadits (dengan harakat):
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ صَالِحٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ (الزُّهْرِيِّ)، قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ".
Makna Ringkas:
Sekiranya seorang manusia memiliki satu lembah yang penuh dengan emas, niscaya ia akan menginginkan memiliki dua lembah. Tidak ada yang bisa menghentikan kerakusannya selain kematian (yang digambarkan dengan tanah mengisi mulutnya). Dan Allah menerima taubat orang yang mau bertobat dari sifat tamak dan dosa-dosanya.
Penjelasan Ulama:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari (11/237) menjelaskan bahwa makna "لَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ" (tidak akan memenuhi mulutnya kecuali tanah) adalah sebuah kiasan bahwa ia tidak akan pernah merasa puas dengan harta dunia hingga ia mati dan mulutnya dipenuhi tanah kubur. Beliau juga menukil perkataan Imam Al-Khattabi bahwa ini adalah perumpamaan tentang betapa besarnya ketamakan manusia.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (7/108) mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya keinginan manusia terhadap dunia dan bahwa ia tidak akan pernah merasa cukup. Satu-satunya hal yang menghentikan ambisinya adalah kematian.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (4/118) menjelaskan bahwa kalimat "وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ" (Dan Allah menerima taubat orang yang bertobat) adalah kabar gembira. Meskipun manusia memiliki sifat tamak, pintu taubat tetap terbuka. Jika ia bertobat dari sifat buruknya dan menggunakan hartanya di jalan Allah, maka Allah akan mengampuninya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang paling gamblang dalam menggambarkan hakikat jiwa manusia terhadap harta. Al-Imam Al-Bukhari sendiri menempatkannya dalam bab "Apa yang Dihindari dari Fitnah Harta", menunjukkan bahwa harta bisa menjadi ujian yang sangat berat.
1. Sifat Tamak yang Tidak Berujung
Sabda Nabi ﷺ, "Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, ia pasti ingin memiliki dua lembah," ini bukan sekadar informasi, melainkan sebuah diagnosis tentang penyakit hati. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa cinta dunia adalah sumber segala kesalahan. Semakin banyak seseorang mendapatkan dunia, semakin besar rasa lapar hatinya terhadap dunia. Ini berbeda dengan kebutuhan fisik yang terbatas. Satu potong roti bisa mengenyangkan perut, tetapi hati tidak pernah kenyang dengan harta.
2. Kiasan Kematian sebagai Penghenti
Frasa "لَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ" (tidak akan memenuhi mulutnya kecuali tanah) adalah kiasan yang sangat kuat. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah sindiran bahwa ambisi duniawinya baru berakhir ketika ia mati dan dikubur. Tanah kuburlah yang "memenuhi" mulutnya, bukan lagi harta. Ini adalah peringatan keras agar kita tidak tenggelam dalam mengejar dunia hingga lupa pada kematian.
3. Pintu Taubat yang Selalu Terbuka
Bagian akhir hadits, "Dan Allah menerima taubat orang yang bertobat," adalah penutup yang penuh rahmat. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya sering menekankan bahwa Allah Maha Pengampun. Sifat tamak adalah penyakit, dan obatnya adalah taubat. Taubat di sini bukan hanya berhenti dari dosa, tetapi juga mengubah orientasi hati. Dari yang tadinya hanya ingin mengumpulkan harta, menjadi ingin membelanjakan harta di jalan kebaikan, seperti sedekah, zakat, dan membantu sesama. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa para salaf sangat takut dengan fitnah harta, sehingga mereka sering berdoa agar dijauhkan dari ketamakan.
Story Telling
Kisah Umar bin Abdul Aziz dan Harta Baitul Mal
Salah satu contoh terbaik dalam melawan sifat tamak adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz (salah seorang tabi'in yang alim). Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, beliau memiliki harta pribadi yang banyak. Namun, beliau justru menjual seluruh harta miliknya dan memasukkannya ke Baitul Mal (kas negara).
Suatu hari, istrinya, Fatimah binti Abdul Malik, berkata, "Wahai Amirul Mukminin, demi Allah, aku tidak melihatmu menikmati dunia sedikit pun sejak menjadi khalifah." Umar menjawab, "Wahai Fatimah, aku telah memikirkan urusan umat ini. Tidak ada kebahagiaan bagiku selama masih ada seorang muslim yang kelaparan atau telanjang."
Beliau sangat zuhud dan tidak pernah merasa tamak terhadap harta negara. Bahkan, ketika wafat, hartanya sangat sedikit. Inilah buah dari membersihkan hati dari cinta dunia yang berlebihan. Beliau lebih memilih "mengosongkan" hatinya dari dunia agar dipenuhi oleh cinta kepada Allah dan kasih sayang kepada rakyatnya.
Hikmah: Sifat tamak membuat seseorang buta terhadap kebutuhan orang lain. Sebaliknya, qana'ah (merasa cukup) dan zuhud adalah kunci kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kesimpulan Praktis
- Muhasabah Diri: Sadari bahwa keinginan terhadap harta tidak akan pernah habis. Oleh karena itu, tetapkan batasan syariat dalam mencari harta (halal) dan batasan kebutuhan (qana'ah).
- Perbanyak Doa: Mohonlah kepada Allah agar dijauhkan dari sifat tamak dan diberikan hati yang qana'ah. Doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Allahumma qanni'ni bima razaqtani" (Ya Allah, jadikanlah aku merasa cukup dengan apa yang Engkau berikan kepadaku).
- Segera Bertaubat: Jika merasa harta telah membuat kita lalai, lalim, atau pelit, maka segeralah bertaubat. Taubat yang benar akan mengubah harta yang tadinya menjadi fitnah menjadi berkah.
- Gunakan Harta untuk Akhirat: Jadikan harta sebagai bekal untuk akhirat dengan bersedekah, berinfak, dan membantu sesama. Ingatlah bahwa harta yang kita tinggalkan akan menjadi warisan, sedangkan harta yang kita sedekahkan akan menjadi simpanan abadi di sisi Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.