Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang hakikat sifat manusia yang tidak pernah merasa cukup dengan harta. Selama masih hidup, keinginan manusia terhadap dunia akan terus bertambah, dan tidak ada yang bisa memuaskan "perut" ketamakan itu kecuali kematian (tanah). Namun, pintu taubat selalu terbuka. Kuncinya adalah menjadikan hati kita kaya (qana'ah) dan selalu kembali kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq (Hadits 6436), dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Lafadznya:
لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
"Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, ia akan menginginkan lembah ketiga, dan tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah, dan Allah mengampuni orang yang bertobat kepada-Nya."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. At-Takatsur [102]: 1-2:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur."
Ayat ini sangat sejalan dengan hadits di atas. Manusia sibuk mengumpulkan harta dan bermegah-megahan, hingga akhirnya kematian menjemput dan ia masuk ke liang lahat (kubur).
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa makna "dua lembah harta" adalah permisalan tentang banyaknya harta. Sifat tamak manusia tidak akan berhenti, dan ini adalah fitrah yang harus dilawan.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (hadits serupa) menekankan bahwa hadits ini adalah dorongan untuk zuhud dan qana'ah (merasa cukup), serta peringatan keras dari sifat tamak.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran besar:
- Sifat Tamak Manusia: Nabi ﷺ menggambarkan dengan permisalan yang sangat jelas. Jika seseorang memiliki dua lembah yang penuh dengan emas dan perak, ia tidak akan puas. Ia akan mencari lembah ketiga. Ini adalah gambaran bahwa hati manusia itu "lobang" yang tidak pernah terisi oleh harta dunia. Semakin banyak harta, semakin besar pula keinginannya.
- Yang Memenuhi Hanyalah Tanah: Frasa "tidak ada yang memenuhi perut anak Adam kecuali tanah" adalah kiasan yang sangat dalam. Artinya, hanya ketika manusia mati dan jasadnya dikubur dalam tanah, barulah "nafsu" itu berhenti. Selama masih hidup, selama itu pula ia akan terus merasa kurang. Ini adalah peringatan bahwa mengejar dunia tanpa batas adalah kesia-siaan.
- Pintu Taubat Terbuka: Di akhir hadits, Nabi ﷺ menutup dengan kalimat yang penuh harapan, "Dan Allah mengampuni orang yang bertobat kepada-Nya." Ini menunjukkan bahwa meskipun sifat tamak itu ada, Allah tidak membiarkan hamba-Nya larut dalam dosa. Selama seseorang menyadari kesalahannya, kembali kepada Allah, dan memperbaiki diri, maka Allah akan mengampuninya.
- Pandangan Ulama Salaf:
- Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Anak Adam tidaklah berhenti dari ketamakannya, dan tidaklah ia berhenti dari usahanya, hingga ia mati."
- Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menasihatkan agar seorang mukmin menjadikan dunia ini sebagai ladang akhirat, bukan tujuan akhir. Beliau sangat menekankan sifat zuhud dan tidak terikat pada harta.
- Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa obat dari penyakit tamak ini adalah qana'ah (merasa cukup dengan apa yang Allah berikan) dan zuhud (tidak menggantungkan hati pada dunia). Hati yang dipenuhi cinta dunia akan selalu gelisah, sedangkan hati yang dipenuhi cinta Allah akan selalu tenang.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling zuhud. Meskipun ia termasuk orang yang kaya dan berilmu, ia tidak pernah terikat dengan hartanya. Beliau sering membagi-bagikan hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan.
Suatu ketika, beliau ditanya tentang harta. Beliau menjawab dengan merujuk pada hadits yang ia riwayatkan ini, bahwa harta tidak akan pernah membuat seseorang merasa cukup. Justru, ketenangan hati adalah kunci kebahagiaan, bukan banyaknya harta. Hikmahnya, ilmu dan kezuhudan membuat hati seorang mukmin menjadi kaya, sehingga ia tidak diperbudak oleh dunia.
Kesimpulan Praktis
- Sadari Fitrah Ini: Jangan heran jika hati kita merasa kurang. Itu adalah ujian. Yang penting adalah bagaimana kita mengendalikannya.
- Perbanyak Qana'ah: Latihlah hati untuk merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan. Lihatlah orang yang lebih susah dari kita dalam hal dunia, agar kita bersyukur.
- Jadikan Harta sebagai Alat, Bukan Tujuan: Gunakan harta untuk beribadah, membantu keluarga, dan bersedekah di jalan Allah. Jangan jadikan harta sebagai ukuran kebahagiaan.
- Segera Bertaubat: Jika kita merasa terlalu cinta dunia, segera minta ampun kepada Allah dan perbaiki niat. Jangan menunda taubat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.