Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menegaskan bahwa siapa yang hatinya bergantung kepada harta dan kemewahan—seperti dinar, dirham, pakaian mewah—sehingga ridha dan murkanya ditentukan oleh ada atau tidaknya pemberian dunia, maka ia berada dalam ancaman kebinasaan. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa hamba sejati adalah yang hatinya bergantung kepada Allah, bukan kepada harta. Sikap seperti ini termasuk fitnah harta yang harus dijauhi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Raqaq, Bab Apa yang Dihindari dari Fitnah Harta, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ
Terjemahan: "Celakalah hamba dinar, dirham, qatifah, dan khamishah; jika diberi ia ridha, dan jika tidak diberi ia tidak ridha."
Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan fitnah harta, di antaranya firman Allah:
وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ
QS. Saba' [34]: 37
Terjemahan: "Dan bukanlah harta dan anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh; mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang mereka kerjakan, dan mereka aman di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)."
Ayat lain:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
QS. At-Taghabun [64]: 15
Terjemahan: "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan tentang penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu hubbud dunya (cinta dunia) yang berlebihan sampai menjadikan harta sebagai tolok ukur keridhaan dan kemarahan seseorang.
Makna kata:
- تَعِسَ (ta'isa): celaka, binasa, jatuh tersungkur. Ini doa Nabi ﷺ yang menunjukkan betapa besarnya bahaya sifat ini.
- عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ: hamba dinar dan dirham, yakni orang yang diperbudak oleh uang.
- الْقَطِيفَةِ (qatifah): pakaian yang tebal dan mewah, semacam kain bersulam.
- الْخَمِيصَةِ (khamishah): pakaian mewah bertepi sutra atau wol halus.
Pemahaman ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini bukan berarti harta itu haram, tetapi yang dicela adalah ketergantungan hati kepada harta. Orang yang ridha hanya karena diberi harta dan marah hanya karena tidak diberi, berarti ia telah menjadikan harta sebagai tuhannya.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa kata "abdu" (hamba) di sini bermakna hamba secara maknawi, yaitu orang yang tunduk dan patuh kepada selain Allah. Beliau juga mengutip bahwa sebagian salaf mengatakan: "Barangsiapa yang hatinya terikat kepada dunia, maka ia akan diperbudak olehnya."
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini termasuk jawami'ul kalim (kalimat singkat yang padat makna). Beliau menegaskan bahwa tanda seseorang diperbudak harta adalah ketika keridhaan dan kemarahannya bergantung pada dunia, bukan pada Allah dan akhirat.
Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa cinta dunia adalah pangkal segala dosa, karena cinta dunia membuat seseorang lalai dari akhirat, kikir, tamak, dan tidak ridha dengan pemberian Allah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menegaskan bahwa kebahagiaan sejati hanya diperoleh dengan ridha kepada Allah, bukan ridha kepada harta. Barangsiapa ridha kepada Allah, maka ia akan tenang dalam keadaan kaya maupun miskin.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama memahami hadits ini sebagai doa kebinasaan bagi orang yang diperbudak harta (seperti pendapat Ibnu Hajar), sebagian lain memahaminya sebagai kabar tentang keadaan orang tersebut (seperti pendapat An-Nawawi). Namun keduanya sepakat bahwa sifat ini tercela dan harus dijauhi.
Story Telling
Dikisahkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda tentang seorang sahabat yang bernama Ka'b bin Malik ketika ia tertinggal dari Perang Tabuk. Namun kisah yang lebih relevan adalah kisah Abu Hurairah sendiri, yang meskipun miskin, beliau adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dan paling dekat dengan Nabi ﷺ. Beliau tidak pernah mengejar harta, tetapi Allah justru mencukupkan rezekinya.
Ibnu Rajab menyebutkan dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam bahwa sebagian salaf berkata: "Aku melihat harta itu seperti bangkai; aku tidak menginginkannya, dan jika aku membutuhkannya, aku mengambilnya sekadar untuk menutup aurat dan menguatkan badan untuk taat."
Hikmahnya: Hati yang bebas dari perbudakan harta akan tenang, karena ia hanya bergantung kepada Allah Yang Maha Kaya.
Kesimpulan Praktis
- Jangan jadikan harta sebagai tolok ukur ridha dan marah. Ridha dan marah kita harus karena Allah, bukan karena diberi atau tidak diberi harta.
- Latih hati untuk qana'ah (merasa cukup). Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kekayaan sejati adalah kekayaan hati, bukan banyaknya harta.
- Gunakan harta sebagai sarana, bukan tujuan. Harta adalah alat untuk taat kepada Allah, bukan tuhan yang diperhamba.
- Perbanyak syukur dan dzikir. Dengan syukur, hati akan tenang dan tidak mudah goyah oleh fitnah harta.
- Jauhi gaya hidup mewah yang berlebihan. Qatifah dan khamishah dalam hadits ini adalah simbol kemewahan yang membuat hati terikat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.