Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu, sahabat yang ikut hijrah bersama Nabi ﷺ. Hadits ini berada dalam Kitab ar-Raqaq (bab kelembutan hati) pada bab tentang kekhawatiran Nabi ﷺ terhadap keindahan dunia dan persaingan di dalamnya. Intinya: para sahabat berhijrah dengan susah payah demi agama, lalu sebagian mereka wafat sebelum menikmati hasil dunia, sementara dunia kemudian dibuka luas — dan itulah yang dikhawatirkan Nabi ﷺ menimpa umatnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Raqaq, Bab "Apa yang Dikhawatirkan dari Keindahan Dunia dan Persaingan di Dalamnya" (no. 6432). Perawi: Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah bagian awal sanad dan matan:
Arab (berharakat):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ خَبَّابٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: هَاجَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Terjemahan:
"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, dari Sufyan, dari al-A'masy, dari Abu Wa'il, dari Khabbab radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Kami berhijrah bersama Rasulullah ﷺ.'"
Ayat yang sangat relevan dengan tema bab ini:
Arab (berharakat):
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Terjemahan:
"Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah ujian, dan di sisi Allah ada pahala yang besar." (QS. Al-Anfal [8]: 28)
Arab (berharakat):
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
Terjemahan:
"Dan janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka, yaitu bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya. Dan rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Thaha [20]: 131)
Hadits lain yang semakna dan sering disebutkan bersama bab ini, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
Arab (berharakat):
فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
Terjemahan:
"Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir kalian akan dibentangkan dunia kepada kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya seperti mereka berlomba, sehingga dunia itu membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka." (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)
Penjelasan Rinci
Hadits Khabbab ini termasuk hadits yang panjang. Bagian yang Anda sebutkan adalah pembukaannya: "Kami berhijrah bersama Rasulullah ﷺ." Setelah itu Khabbab menyebutkan bahwa mereka tidak menginginkan upah dari hijrah kecuali dari Allah, lalu sebagian mereka wafat tanpa menikmati hasil dunia sedikit pun — di antaranya Mush'ab bin Umair radhiyallahu 'anhu, yang ketika wafat tidak memiliki kain untuk mengafaninya secara layak. Kemudian Khabbab menyebutkan bahwa dunia telah dibuka luas bagi mereka, sampai-sampai seseorang diberi banyak harta, dan mereka pun berlomba-lomba mengejarnya. Inilah yang menjadi inti bab: kekhawatiran Nabi ﷺ terhadap keindahan dunia dan persaingan di dalamnya.
Pemahaman para ulama dalam daftar:
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa Imam al-Bukhari sengaja meletakkan hadits ini di Kitab ar-Raqaq untuk mengingatkan bahwa kezuhudan para sahabat awal bukanlah karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka lebih mengutamakan akhirat. Ibnu Hajar juga menegaskan bahwa yang dikhawatirkan bukanlah harta itu sendiri, melainkan persaingan dan kelalaian yang ditimbulkannya.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan hadits Abu Hurairah di atas menyatakan: kekhawatiran Nabi ﷺ bukan pada kemiskinan, tetapi pada keterbukaan dunia yang membuat hati sibuk dan lupa akhirat. Beliau menegaskan bahwa harta halal tidak tercela, yang tercela adalah berlomba-lomba mengejarnya hingga melupakan tujuan utama.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa dunia adalah fitnah (ujian) bagi manusia. Beliau mengutip makna QS. Al-Anfal [8]: 28 bahwa harta dan anak bisa menjadi ujian, dan menegaskan bahwa orang beriman harus menjadikan dunia sebagai wasilah (sarana), bukan ghayah (tujuan).
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan dan al-Fawa'id menjelaskan bahwa cinta dunia adalah pangkal banyak kerusakan. Beliau menyebutkan bahwa hati yang terikat dunia akan kehilangan rasa manisnya iman, dan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara fisik, tetapi mengeluarkan dunia dari hati sementara tangan tetap bekerja.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan QS. Thaha [20]: 131 menjelaskan bahwa Allah melarang Nabi ﷺ memandang panjang kepada kenikmatan dunia yang diberikan kepada orang-orang kafir, karena itu adalah ujian, dan bahwa rezeki Allah yang dijanjikan lebih baik dan kekal.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menegaskan bahwa yang dikhawatirkan Nabi ﷺ adalah persaingan dunia yang membuat seseorang mengorbankan agama demi dunia, bukan sekadar memiliki dunia.
Kesimpulan dari para ulama: Harta dan dunia tidak haram, tetapi persaingan dan kelalaian yang ditimbulkannya adalah bahaya. Zuhud yang diajarkan Islam adalah menjadikan dunia di tangan, bukan di hati.
Story Telling
Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang mengalami siksaan berat di Makkah sebelum hijrah. Ia pernah disiksa oleh orang-orang Quraisy dengan cara dibaringkan di atas bara api hingga lemak punggungnya meleleh, namun ia tetap teguh. Ketika ia dan para sahabat berhijrah ke Madinah, mereka meninggalkan harta dan kampung halaman demi agama.
Dalam hadits ini, Khabbab menceritakan bahwa di antara mereka ada yang wafat tanpa menikmati hasil dunia sama sekali. Mush'ab bin Umair radhiyallahu 'anhu, duta Islam pertama ke Madinah, wafat di Perang Uhud. Ketika hendak dikafani, tidak ada kain yang cukup untuk menutupi seluruh tubuhnya — jika kepalanya ditutup, kakinya terbuka, dan sebaliknya. Nabi ﷺ memerintahkan agar kepalanya ditutup dan kakinya ditutup dengan rumput idzkhir. (Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim)
Kemudian Khabbab menyebutkan bahwa setelah itu dunia dibuka luas bagi mereka, sampai-sampai seseorang diberi banyak harta. Inilah yang dikhawatirkan Nabi ﷺ. Kisah ini mengajarkan bahwa keimanan yang tumbuh dalam kesulitan lebih mudah dijaga daripada keimanan yang diuji dengan kemewahan.
Kesimpulan Praktis
- Dunia adalah ujian, bukan tujuan. Harta halal boleh dimiliki, tetapi jangan sampai hati terikat padanya.
- Waspadai persaingan dunia. Yang membinasakan umat terdahulu bukan kemiskinan, tetapi berlomba-lomba mengejar dunia hingga melupakan akhirat.
- Teladani zuhud para sahabat. Mereka bekerja dan berusaha, tetapi hati mereka lebih besar cintanya kepada Allah dan akhirat.
- Perbanyak mengingat akhirat. Membaca Al-Qur'an, mengingat kematian, dan bersedekah membantu menjaga hati dari cinta dunia yang berlebihan.
- Jangan meremehkan rezeki yang halal. Bekerjalah, tetapi jadikan dunia sebagai sarana menuju ridha Allah, bukan sebagai tujuan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.