Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan sahabat Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu yang sedang sakit dan berobat dengan cara dibakar (kayy), lalu beliau menyatakan bahwa seandainya Rasulullah ﷺ tidak melarang berdoa meminta kematian, ia akan memintanya. Beliau juga membandingkan generasi sahabat Nabi ﷺ yang zuhud terhadap dunia dengan generasi setelahnya yang telah terlena oleh harta dunia. Hadits ini mengajarkan kita untuk zuhud, tidak silau terhadap keindahan dunia, dan bersabar dalam sakit serta kesulitan hidup.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Hadid [57]: 20
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ ۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا ۗوَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Terjemahan: "Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelalaian, keindahan, saling membanggakan di antara kalian, dan saling berlomba memperbanyak harta dan anak. (Semuanya) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu (tanaman itu) mengering dan kamu lihat menguning, kemudian menjadi kering dan hancur. Di akhirat ada azab yang keras, (juga) ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."
QS. Al-Baqarah [2]: 155-156
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۙ ١٥٥ الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ ۗ ١٥٦
Terjemahan: "Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.'"
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab ar-Raqaq, Bab "Apa yang Dikhawatirkan dari Keindahan Dunia dan Persaingan di Dalamnya" (no. 6430). Perawi sahabat: Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu. Jalur periwayatan: Yahya bin Musa → Waki' bin al-Jarrah → Ismail bin Abi Khalid → Qais bin Abi Hazim → Khabbab bin al-Arat.
Hadits lain yang semakna, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ
"Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan berdoa meminta mati adalah karena sikap ridha terhadap qadha Allah dan tetap berusaha dalam ketaatan selama hidup.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa larangan ini bersifat umum, kecuali jika seseorang khawatir fitnah dalam agamanya.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam membahas zuhudnya para sahabat dan bahaya cinta dunia.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa kayy (besi panas) adalah pengobatan yang dikenal di masa itu, dan Nabi ﷺ pernah membolehkannya namun tidak menyukainya.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
Pertama, tentang sahabat Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu yang menderita sakit berat hingga beliau mengobati dirinya dengan kayy (menempelkan besi panas) di perutnya sebanyak tujuh kali. Ini menunjukkan betapa berat ujian yang beliau rasakan.
Kedua, beliau berkata: "Seandainya Rasulullah ﷺ tidak melarang kami berdoa meminta mati, niscaya aku akan memintanya." Ini bukan berarti beliau benci kehidupan, tetapi karena beratnya penderitaan dan rindu kepada Allah serta kepada para sahabat yang telah wafat lebih dahulu.
Ketiga, beliau membandingkan dua generasi:
- Generasi sahabat Nabi ﷺ: mereka telah pergi (wafat) dan dunia tidak mengurangi sedikit pun dari pahala dan kedudukan mereka. Artinya, mereka zuhud, tidak tertipu dunia, dan fokus pada akhirat.
- Generasi setelahnya (termasuk Khabbab di masa tuanya): mereka telah mendapatkan harta dunia yang banyak, sampai-sampai "tidak menemukan tempatnya kecuali di tanah" — maksudnya harta itu tidak dibawa mati, hanya menjadi beban dan akan dikubur bersama jasad.
Pemahaman ulama:
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan:
- Bolehnya berobat dengan kayy meskipun Nabi ﷺ tidak menyukainya secara pribadi, karena beliau tidak melarangnya secara tegas.
- Larangan berdoa meminta kematian adalah karena seorang mukmin harus tetap berusaha, beramal, dan bersabar hingga ajal datang dengan sendirinya.
- Perkataan Khabbab "dunia tidak mengurangi mereka sedikit pun" menunjukkan bahwa para sahabat Nabi ﷺ benar-benar zuhud; mereka tidak menumpuk harta, sehingga dunia tidak menjadi beban bagi mereka.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa larangan meminta mati berlaku ketika seseorang ditimpa musibah, karena hal itu menunjukkan ketidaksabaran. Namun jika seseorang khawatir fitnah dalam agama (seperti tekanan yang membuatnya meninggalkan iman), maka boleh meminta mati. Ini berdasarkan hadits lain dari Ma'qil bin Yasar radhiyallahu 'anhu.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab zuhud — yaitu tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, tetapi hanya sebagai sarana menuju akhirat. Beliau mengutip perkataan Al-Hasan al-Bashri: "Dunia ini adalah negeri yang akan pergi, bukan negeri yang menetap. Maka berbekallah dari negeri yang akan pergi menuju negeri yang kekal."
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa kayy adalah pengobatan dengan besi panas yang dikenal di masa itu. Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa kesembuhan itu ada pada tiga hal: minum madu, berbekam, dan kayy — namun beliau melarang umatnya dari kayy karena tidak menyukainya. Ini menunjukkan bahwa pengobatan dengan cara ini boleh, tetapi bukan yang utama.
Perbedaan pendapat:
Para ulama dalam daftar yang disebutkan sepakat bahwa:
- Berdoa meminta kematian karena musibah dunia adalah terlarang.
- Boleh meminta kematian jika khawatir fitnah dalam agama.
- Zuhud terhadap dunia adalah sifat para sahabat Nabi ﷺ yang harus diteladani.
Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa larangan ini bersifat umum, kecuali ada kekhawatiran terhadap fitnah agama, berdasarkan hadits-hadits shahih yang lain.
Story Telling
Kisah Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu:
Khabbab bin al-Arat adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ yang paling awal masuk Islam. Beliau termasuk as-sabiqun al-awwalun — orang-orang yang pertama memeluk Islam di Mekkah. Karena keislamannya, beliau disiksa dengan sangat kejam oleh orang-orang Quraisy.
Diriwayatkan bahwa Khabbab pernah berkata: "Aku pernah disiksa oleh orang-orang musyrik dengan cara yang sangat berat. Mereka menyalakan api dan menyeretku di atasnya, sehingga lemak tubuhku meleleh dan memadamkan api itu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Di masa tua beliau, ketika kaum muslimin sudah mendapatkan banyak harta rampasan perang dan hidup lebih makmur, Khabbab justru merasa prihatin. Beliau melihat bahwa generasi setelah para sahabat Nabi ﷺ mulai terlena dengan dunia. Beliau sendiri saat itu sedang sakit berat dan berobat dengan kayy.
Dalam keadaan sakit dan merenung itulah beliau mengucapkan perkataannya yang diriwayatkan dalam hadits ini. Beliau merindukan para sahabat Nabi ﷺ yang telah wafat — seperti Hamzah, Mush'ab bin Umair, dan lainnya — yang wafat dalam keadaan zuhud, tidak menumpuk harta, dan tidak terlena dunia.
Hikmah dari kisah ini:
- Kesabaran para sahabat Nabi ﷺ dalam menghadapi ujian sangat luar biasa.
- Zuhud bukan berarti tidak memiliki harta, tetapi hati tidak terikat pada harta.
- Rindu kepada orang-orang shalih yang telah wafat adalah tanda keimanan.
- Dunia yang berlebihan akan menjadi beban dan tidak dibawa mati.
Kesimpulan Praktis
- Jangan meminta kematian karena musibah dunia — bersabarlah dan tetap beramal, karena hidup adalah kesempatan beribadah.
- Zuhudlah terhadap dunia — ambillah dunia sekadar kebutuhan, jangan sampai hati terikat padanya.
- Teladani para sahabat Nabi ﷺ — mereka adalah generasi terbaik yang tidak tertipu oleh keindahan dunia.
- Bersabarlah dalam sakit dan kesulitan — ujian adalah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya.
- Ingatlah bahwa harta tidak dibawa mati — semua yang kita kumpulkan akan ditinggalkan, hanya amal shalih yang akan menemani.
- Perbanyak mengingat akhirat — karena dunia ini hanya tempat singgah sementara.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.