Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang fitnah harta dan kemewahan dunia. Beliau khawatir jika umatnya terlalu sibuk dan terlena dengan keindahan dunia (harta) sehingga melupakan akhirat. Hadits ini juga mengajarkan bahwa harta itu sendiri tidak tercela, tetapi cara mengambil dan menggunakannya yang menentukan baik atau buruknya. Jika diambil dengan cara yang benar dan digunakan di jalan yang benar, maka harta adalah sebaik-baik penolong.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq, Bab "Maa Yukhafu min Zahrati Ad-Dunya wa Tanafusiha", no. 6427, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zakat, Bab "At-Targhib fi Al-Qana'ah", no. 1052.
Ayat Al-Qur'an yang relevan dengan makna hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:
QS. Al-Hadid [57]: 20
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan..." (QS. Al-Hadid [57]: 20)
Ayat ini menjelaskan hakikat dunia yang fana dan penuh tipuan, sejalan dengan kekhawatiran Nabi ﷺ dalam hadits di atas.
Para ulama yang menjelaskan hadits ini antara lain:
- Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna perumpamaan dalam hadits ini secara rinci.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan faedah-faedah hadits ini dan sebab diamnya Nabi ﷺ sejenak.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin juga memberikan penjelasan yang sangat bermanfaat tentang hadits ini.
Penjelasan Rinci
1. Makna "Barakatul Ardhi" (Berkah Bumi)
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa hal yang paling beliau khawatirkan atas umatnya adalah "barakatul ardhi" yaitu kekayaan bumi yang melimpah. Ketika para sahabat bertanya apa maksudnya, beliau menjawab: "Zahratud dunya" yaitu keindahan dan kemewahan dunia.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "zahratud dunya" adalah perhiasan dunia berupa harta, keindahan alam, dan segala sesuatu yang membuat manusia tergoda untuk bersaing di dalamnya. Ini adalah ujian terbesar bagi umat ini, sebagaimana Allah berfirman:
QS. Al-Kahfi [18]: 7
اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya."
2. Pertanyaan yang Menghentakkan: "Apakah Kebaikan Membawa Keburukan?"
Seorang sahabat bertanya: "Hal ya'til khairu bisy-syarr?" (Apakah kebaikan bisa mendatangkan keburukan?) Pertanyaan ini muncul karena Nabi ﷺ mengkhawatirkan sesuatu yang tampaknya baik (harta) bisa menjadi sumber keburukan.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ diam sejenak karena pertanyaan ini sangat dalam dan penting. Beliau menunggu wahyu atau memikirkan jawaban yang paling tepat. Para sahabat mengira wahyu sedang turun, dan Abu Sa'id berkata: "Kami memuji Allah ketika hal itu terjadi" — maksudnya mereka bersyukur karena Nabi ﷺ selamat dari keadaan yang mereka khawatirkan.
3. Jawaban Nabi ﷺ: "Tidak Ada Kebaikan Kecuali Membawa Kebaikan"
Nabi ﷺ menjawab dengan tegas: "La ya'til khairu illa bil khair" — Tidak ada kebaikan yang datang kecuali dengan kebaikan. Maksudnya, harta yang merupakan kebaikan dari Allah tidak akan membawa keburukan pada hakikatnya. Yang membawa keburukan adalah penyalahgunaan harta tersebut oleh manusia.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah: kebaikan (harta) itu sendiri tidak akan menghasilkan keburukan, tetapi keburukan datang dari perbuatan manusia yang salah dalam mengelola harta tersebut. Ini seperti pisau — pisau itu netral, bisa digunakan untuk memotong buah (kebaikan) atau melukai orang (keburukan), tergantung penggunanya.
4. Perumpamaan Harta dengan Tumbuhan Hijau
Nabi ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat indah:
"Sesungguhnya harta ini adalah hijau dan manis" — Harta itu menarik, indah, dan menyenangkan seperti tumbuhan hijau yang segar.
"Semua yang ditumbuhkan musim semi akan membunuh atau hampir membunuh hewan yang memakannya" — Tumbuhan musim semi yang subur bisa membuat hewan makan berlebihan hingga kembung dan mati. Ini adalah perumpamaan orang yang terlalu rakus mengumpulkan harta tanpa batas.
"Kecuali hewan yang memakan khadirah" — Yaitu hewan yang makan dengan bijak. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa "khadirah" adalah tumbuhan hijau yang lembut. Hewan ini makan secukupnya, lalu ketika perutnya sudah penuh, ia menghadap matahari, mengunyah kembali (memamah biak), buang kotoran dan kencing, lalu makan lagi dengan porsi yang wajar. Hewan ini tidak mati karena ia makan dengan cara yang benar.
Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa perumpamaan ini mengajarkan: orang yang mengambil harta harus seperti hewan yang makan dengan bijak — mengambil secukupnya, tidak rakus, dan menggunakan hartanya untuk kebutuhan yang bermanfaat.
5. Kesimpulan Akhir: Harta yang Baik dan Buruk
Nabi ﷺ menutup dengan kesimpulan yang sangat jelas:
"Siapa yang mengambil harta dengan haknya dan menempatkannya pada tempatnya, maka dia adalah penolong yang baik" — Yaitu orang yang mencari harta dengan cara halal dan membelanjakannya di jalan yang benar (untuk dirinya, keluarga, sedekah, dan ketaatan). Harta ini menjadi penolong baginya di dunia dan akhirat.
"Dan siapa yang mengambilnya dengan cara yang tidak benar, maka dia seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang" — Yaitu orang yang mencari harta dengan cara haram atau tidak mensyukuri nikmat Allah, maka ia akan selalu merasa kurang dan tidak pernah puas. Ini adalah gambaran orang yang rakus dan tamak.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa orang yang mengambil harta dengan cara yang benar adalah orang yang menjadikan harta sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan tujuan hidup. Sedangkan orang yang mengambil harta dengan cara yang salah menjadikan harta sebagai tujuannya, sehingga ia tidak akan pernah merasa cukup.
Story Telling
Diriwayatkan dari Imam Al-Hasan Al-Bashri — semoga Allah merahmatinya — bahwa ia pernah berkata:
"Wahai anak Adam, sesungguhnya dunia ini adalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal tetap. Maka jadilah engkau seperti orang yang hanya singgah untuk beristirahat, lalu melanjutkan perjalanan menuju akhirat. Janganlah engkau tertipu oleh keindahan dunia yang fana. Demi Allah, dunia ini tidak akan memberikan ketenangan kecuali bagi orang yang menjadikannya sebagai ladang untuk akhirat."
Beliau juga pernah berkata: "Tidaklah seorang hamba mencintai dunia kecuali akan terasa berat baginya untuk berpisah dengannya, dan tidaklah ia membenci akhirat kecuali akan terasa berat baginya untuk menuju kepadanya."
Kisah ini menunjukkan bagaimana para salaf memahami hakikat dunia — mereka tidak mengharamkan harta, tetapi mereka menjadikannya sebagai sarana, bukan tujuan. Mereka mengambil harta dengan cara yang halal dan membelanjakannya di jalan yang benar, sebagaimana yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits di atas.
Kesimpulan Praktis
- Harta adalah ujian — Kekayaan dan kemewahan dunia adalah ujian terbesar bagi umat ini. Kita harus selalu waspada agar tidak terlena.
- Harta itu sendiri tidak tercela — Yang tercela adalah cara mengambil dan menggunakannya. Harta yang diambil dengan cara halal dan digunakan di jalan Allah adalah kebaikan.
- Jangan rakus — Orang yang rakus terhadap harta seperti hewan yang makan berlebihan hingga mati. Belajarlah untuk merasa cukup (qana'ah) dan tidak berlebihan.
- Jadikan harta sebagai penolong — Gunakan harta untuk ibadah, sedekah, membantu keluarga, dan kebutuhan yang bermanfaat. Dengan begitu harta menjadi "sebaik-baik penolong" bagi kita.
- Hindari cara haram — Jangan mencari harta dengan cara yang haram atau meragukan, karena itu akan membuat hati tidak pernah tenang dan tidak pernah merasa cukup.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.