Penjelasan Hadits Bukhari No. 6407 tentang Perumpamaan orang berzikir seperti hidup dan yang lalai seperti mati

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang hatinya selalu mengingat Allah itu seperti orang yang hidup, sedangkan orang yang lalai dari mengingat Allah itu seperti orang yang mati. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Para ulama seperti Ibnu Hajar, An-Nawawi, dan Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa dzikir adalah makanan dan nyawa bagi hati, sebagaimana makanan adalah nyawa bagi badan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Ahzab [33]: 41

فَاذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

"Maka ingatlah Allah dengan dzikir yang banyak."

QS. Ar-Ra'd [13]: 28

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Doa, Bab Keutamaan Dzikir, no. 6407, dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan dzikir dan bahwa hati menjadi hidup dengannya.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa dzikir adalah sebab kehidupan hati dan cahaya bagi jiwa.
  • Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Al-Wabil Ash-Shayyib menegaskan bahwa dzikir itu seperti air bagi ikan — jika ikan keluar dari air, ia akan mati.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggunakan gaya tasybih (perumpamaan) yang sangat dalam. Nabi ﷺ menyerupakan orang yang berdzikir dengan orang yang hidup, dan orang yang lalai dari dzikir dengan orang yang mati.

Makna "hidup" dan "mati" di sini bukanlah kematian jasmani, melainkan kematian hati. Orang yang tidak mengingat Allah hatinya kosong dari cahaya iman, meskipun jasadnya bergerak dan bernafas. Sebaliknya, orang yang berdzikir hatinya bercahaya, tenang, dan penuh kehidupan.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan beberapa poin penting:

  1. Dzikir adalah tanda kehidupan iman dalam hati.
  2. Orang yang lalai dari dzikir berarti hatinya sakit atau bahkan mati.
  3. Perumpamaan ini menunjukkan betapa besar perbedaan antara keduanya, sebagaimana jauhnya perbedaan antara yang hidup dan yang mati.

Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Ath-Thayyib menyatakan bahwa dzikir memiliki lebih dari seratus manfaat, di antaranya:

  • Mengusir syaitan
  • Menghilangkan kesedihan dan kegelisahan hati
  • Mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan
  • Menjadi sebab datangnya pertolongan Allah
  • Menghidupkan hati dan menjernihkan jiwa

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menambahkan bahwa dzikir tidak hanya terbatas pada lisan, tetapi juga mencakup dzikir hati berupa tafakkur (merenungkan ciptaan Allah), rasa takut kepada-Nya, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Para ulama sepakat tentang keutamaan dzikir dan makna hadits ini. Yang menjadi perbedaan hanyalah pada rincian bentuk dzikir yang paling utama — sebagian memprioritaskan dzikir lisan (seperti tasbih, tahmid, tahlil), sebagian menekankan dzikir hati (seperti muraqabah dan tafakkur). Namun Ibnu Hajar dan An-Nawawi menyimpulkan bahwa yang paling utama adalah menggabungkan keduanya: lisan berdzikir dan hati hadir serta memahami maknanya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang banyak berdzikir namun hatinya tidak khusyuk. Beliau menjawab dengan hikmah bahwa dzikir yang benar akan meninggalkan bekas pada hati — jika tidak ada bekasnya, maka perlu diperiksa apakah dzikirnya hanya di lisan tanpa kehadiran hati.

Ibnu Qayyim juga menceritakan dalam Al-Wabil Ash-Shayyib bahwa sebagian salaf berkata: "Dzikir itu seperti makanan — jika engkau tinggalkan, tubuhmu lemah; jika engkau tinggalkan terus, engkau akan mati." Ini menggambarkan betapa dzikir adalah kebutuhan pokok ruhani, bukan sekadar amalan tambahan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan dzikir sebagai kebiasaan harian — pagi, petang, setelah shalat, dan di waktu-waktu luang.
  2. Hadirkan hati saat berdzikir — bukan hanya lisan yang bergerak, tetapi hati memahami dan merenungkan maknanya.
  3. Jangan tinggalkan dzikir dalam keadaan apa pun — karena meninggalkannya berarti melemahkan kehidupan hati.
  4. Perbanyak dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istighfar.
  5. Renungkan hadits ini — jika kita merasa hati gelisah, mungkin karena kurangnya dzikir kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?