Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan, dengan merujuk hanya kepada ulama-ulama yang tercantum dalam daftar.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan sebuah kalimat dzikir yang sangat agung, yaitu kalimat tauhid "Laa ilaaha illallah". Barangsiapa mengucapkannya sepuluh kali dengan penuh keikhlasan dan kesadaran, maka ia akan mendapatkan pahala yang sangat besar, yaitu setara dengan pahala memerdekakan seorang hamba sahaya dari keturunan Nabi Ismail (bangsa Arab). Hadits ini menegaskan betapa besar nilai tauhid dan dzikir dalam Islam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Doa, Bab Keutamaan Tahliil (kalimat Laa ilaaha illallah). Redaksi lengkapnya sebagai berikut:
<p>حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَبِي زَائِدَةَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ، قَالَ مَنْ قَالَ عَشْرًا كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ. قَالَ عُمَرُ بْنُ أَبِي زَائِدَةَ وَحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي السَّفَرِ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ رَبِيعِ بْنِ خُثَيْمٍ مِثْلَهُ. فَقُلْتُ لِلرَّبِيعِ مِمَّنْ سَمِعْتَهُ فَقَالَ مِنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ. فَأَتَيْتُ عَمْرَو بْنَ مَيْمُونٍ فَقُلْتُ مِمَّنْ سَمِعْتَهُ فَقَالَ مِنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى. فَأَتَيْتُ ابْنَ أَبِي لَيْلَى فَقُلْتُ مِمَّنْ سَمِعْتَهُ فَقَالَ مِنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ يُحَدِّثُهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ مَيْمُونٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ أَبِي أَيُّوبَ قَوْلَهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. وَقَالَ مُوسَى حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، عَنْ دَاوُدَ، عَنْ عَامِرٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. وَقَالَ إِسْمَاعِيلُ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنِ الرَّبِيعِ قَوْلَهُ. وَقَالَ آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَيْسَرَةَ سَمِعْتُ هِلاَلَ بْنَ يَسَافٍ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ خُثَيْمٍ وَعَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَوْلَهُ. وَقَالَ الأَعْمَشُ وَحُصَيْنٌ عَنْ هِلاَلٍ عَنِ الرَّبِيعِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَوْلَهُ. وَرَوَاهُ أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَضْرَمِيُّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَالصَّحِيحُ قَوْلُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عَمْرٍو.</p>
Terjemahan:
Dari 'Amr bin Maimun, ia berkata: "Barangsiapa mengucapkan (kalimat tauhid) sepuluh kali, maka ia seperti orang yang memerdekakan seorang hamba sahaya dari keturunan Ismail." 'Umar bin Abi Za'idah berkata: "Dan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi As-Safar, dari Asy-Sya'bi, dari Rabi' bin Khutsaim, hal yang serupa. Aku bertanya kepada Rabi': 'Dari siapa engkau mendengarnya?' Ia menjawab: 'Dari 'Amr bin Maimun.' Aku pun mendatangi 'Amr bin Maimun dan bertanya: 'Dari siapa engkau mendengarnya?' Ia menjawab: 'Dari Ibnu Abi Laila.' Aku mendatangi Ibnu Abi Laila dan bertanya: 'Dari siapa engkau mendengarnya?' Ia menjawab: 'Dari Abu Ayyub Al-Anshari, yang menceritakannya dari Nabi ﷺ.'"
Imam Al-Bukhari di akhir riwayat ini berkata: "Dan yang shahih adalah pendapat Abdul Malik bin 'Amr." (HR. Al-Bukhari no. 6404).
Hadits ini juga memiliki syawahid (penguat) dari jalur lain, sebagaimana disebutkan dalam matan di atas, yang sebagiannya mauquf (berhenti pada sahabat) dan sebagiannya marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ).
Penjelasan Rinci
Hadits ini secara khusus membahas keutamaan kalimat Tahlil, yaitu لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (Laa ilaaha illallah). Meskipun redaksi lengkap kalimat tersebut tidak disebutkan secara eksplisit dalam matan hadits ini, para ulama seperti Imam Al-Bukhari dalam judul babnya ("Bab Keutamaan Tahliil") dan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kalimat tauhid tersebut. Hal ini diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang menyebutkan keutamaan Laa ilaaha illallah secara eksplisit.
1. Makna dan Kedudukan Kalimat Tahlil
Kalimat Laa ilaaha illallah adalah inti dari ajaran Islam. Ia adalah kalimat yang menjadi pembeda antara iman dan kufur, antara tauhid dan syirik. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitabnya Al-Qaul As-Sadid menjelaskan bahwa kalimat ini mengandung dua rukun utama:
- Nafyu (penolakan): Menolak segala bentuk sesembahan selain Allah.
- Itsbat (penetapan): Menetapkan bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah.
2. Keutamaan Mengucapkan Sepuluh Kali
Hadits ini menyebutkan bahwa siapa yang mengucapkannya sepuluh kali, maka ia seperti memerdekakan seorang hamba sahaya dari keturunan Nabi Ismail (yakni bangsa Arab). Mengapa keturunan Ismail? Karena bangsa Arab pada masa itu adalah bangsa yang mulia dan memerdekakan mereka memiliki nilai yang sangat tinggi. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa penyebutan "keturunan Ismail" adalah untuk menunjukkan kemuliaan nasab, karena memerdekakan hamba sahaya dari bangsa Arab lebih mahal dan lebih tinggi nilainya dibanding memerdekakan hamba sahaya dari bangsa lain pada umumnya.
3. Syarat Mendapatkan Keutamaan
Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan ini tidak didapat begitu saja. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) dan Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menegaskan bahwa keutamaan dzikir bergantung pada beberapa syarat:
- Ikhlas: Dzikir harus dilakukan hanya untuk Allah, bukan untuk riya' atau pujian manusia.
- Kesadaran makna: Mengucapkan dengan memahami maknanya, bukan sekadar lisan bergerak tanpa hati.
- Tidak disertai kemaksiatan: Dzikir yang benar akan mencegah pelakunya dari perbuatan haram. Jika seseorang berdzikir tetapi tetap bermaksiat, maka keutamaan ini bisa jadi tidak sempurna.
4. Perbedaan Riwayat dalam Hadits Ini
Dalam matan hadits di atas, terdapat beberapa jalur periwayatan. Sebagian meriwayatkannya secara marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ) dan sebagian secara mauquf (hanya sampai pada sahabat, yaitu Abu Ayyub atau Ibnu Mas'ud). Imam Al-Bukhari di akhir riwayat menegaskan: "Dan yang shahih adalah pendapat Abdul Malik bin 'Amr," yang mana jalur ini sampai kepada Nabi ﷺ. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa riwayat marfu' inilah yang kuat dan menjadi pegangan, sehingga hadits ini sahih sebagai sabda Nabi ﷺ.
5. Perbedaan Pendapat Ulama
Di antara ulama daftar, tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan mengenai keutamaan kalimat tahlil ini. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan hadits-hadits serupa yang menguatkan. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah juga menguatkan hadits ini dan menyebutkan jalur-jalurnya. Adapun perbedaan hanya pada sisi teknis periwayatan (marfu' atau mauquf), namun Al-Bukhari dan Ibnu Hajar telah menegaskan bahwa riwayat yang shahih adalah yang marfu'.
Story Telling
Suatu ketika, Abu Ayyub Al-Anshari رضي الله عنه, sahabat Nabi ﷺ yang rumahnya menjadi tempat singgah Nabi saat hijrah ke Madinah, mendengar sabda Nabi ﷺ tentang keutamaan kalimat tahlil ini. Beliau menyampaikannya kepada generasi setelahnya, yaitu Ibnu Abi Laila. Kemudian Ibnu Abi Laila menyampaikannya kepada 'Amr bin Maimun. 'Amr bin Maimun menyampaikannya kepada Rabi' bin Khutsaim, seorang tabi'in yang sangat zuhud dan ahli ibadah.
Rabi' bin Khutsaim adalah seorang yang dikenal sangat wara' (hati-hati dalam hal halal-haram) dan banyak menangis karena takut kepada Allah. Ketika ia menyampaikan hadits ini, ada seorang murid yang bernama Asy-Sya'bi yang ingin memastikan sumbernya. Asy-Sya'bi bertanya kepada Rabi': "Dari siapa engkau mendengar hadits ini?" Rabi' menjawab: "Dari 'Amr bin Maimun." Asy-Sya'bi pun mendatangi 'Amr bin Maimun dan bertanya hal yang sama. 'Amr menjawab: "Dari Ibnu Abi Laila." Asy-Sya'bi mendatangi Ibnu Abi Laila, dan Ibnu Abi Laila menjawab: "Dari Abu Ayyub Al-Anshari, dari Nabi ﷺ."
Kisah ini menunjukkan betapa para ulama salaf sangat berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan hadits. Mereka tidak menerima begitu saja, tetapi memverifikasi sumbernya hingga sampai kepada Nabi ﷺ. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita untuk selalu memastikan keabsahan ilmu yang kita terima, terutama dalam urusan agama.
Kesimpulan Praktis
- Rutinkan membaca Laa ilaaha illallah sepuluh kali setiap hari, terutama di waktu pagi dan sore, dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
- Pahami maknanya: Kalimat ini bukan sekadar bacaan, tetapi deklarasi tauhid yang harus tercermin dalam keyakinan dan perbuatan.
- Jaga syaratnya: Ikhlas, memahami makna, dan menjauhi kemaksiatan agar keutamaan yang dijanjikan benar-benar kita dapatkan.
- Teladani kesungguhan salaf: Seperti Asy-Sya'bi yang memverifikasi hadits, kita pun harus bersemangat menuntut ilmu dan memastikan sumbernya.
- Jangan remehkan dzikir: Meskipun hanya sepuluh kali, pahalanya bisa melebihi sedekah harta yang besar. Ini menunjukkan betapa Allah Maha Pemurah kepada hamba-Nya yang berdzikir.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.