Penjelasan Hadits Bukhari No. 6399 tentang Doa Nabi memohon ampunan atas semua kesalahan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ—meskipun ma'shum (terjaga dari dosa besar)—tetap banyak beristighfar dan merendahkan diri di hadapan Allah, mengakui kekurangan diri secara mutlak, dan memohon ampunan atas segala bentuk kelalaian, baik yang disengaja maupun tidak. Ini mengajarkan kita untuk tidak merasa suci dan selalu butuh ampunan Allah dalam setiap keadaan: serius maupun bercanda, sadar maupun lalai.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Muhammad [47]: 19

وَفَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Terjemahan: "Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Doa, no. 6399, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه. Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih-nya (Kitab Adz-Dzikr wa ad-Du'a, no. 2719) dengan lafaz yang berdekatan.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa doa ini mengandung pengakuan hamba atas kelemahannya di hadapan Allah, dan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk senantiasa merendahkan diri meski telah dijamin ampunannya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa istighfar Nabi ﷺ bukan karena beliau berdosa, tetapi untuk menunjukkan kesempurnaan ubudiyah (penghambaan) dan sebagai tauladan bagi umat.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menegaskan bahwa istighfar adalah makanan hati dan sebab turunnya rahmat, bahkan bagi orang yang telah diampuni.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi ﷺ dalam doa ini menyebutkan beberapa jenis kekurangan manusia:

  1. خَطِيئَتِي (khathi'ati) — kesalahan/kelalaian
  2. جَهْلِي (jahli) — kebodohan/kekurangpahaman
  3. إِسْرَافِي فِي أَمْرِي (israfi fi amri) — berlebihan dalam urusan
  4. هَزْلِي وَجِدِّي (hazli wa jiddi) — canda dan kesungguhan
  5. خَطَايَا وَعَمْدِي (khathaya wa 'amdi) — kesalahan dan kesengajaan

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa penyebutan "canda dan sungguh-sungguh" bukan berarti Nabi ﷺ berdosa dalam bercanda—karena beliau tidak pernah berkata kecuali benar—tetapi ini adalah bentuk tawadhu' (kerendahan hati) dan pengakuan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri manusia, termasuk yang tampak ringan, tetap perlu ampunan Allah. Beliau juga mengutip bahwa sebagian ulama memahami "hazl" di sini sebagai kelalaian yang terjadi tanpa niat buruk.

Imam an-Nawawi menegaskan bahwa doa ini mengajarkan adab kepada umat: seorang hamba tidak boleh merasa aman dari dosa, sekalipun ia telah beramal banyak. Istighfar adalah ibadah yang tidak pernah usang.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menyebutkan bahwa istighfar memiliki kedudukan sangat tinggi: ia membuka pintu rahmat, menghapus dosa, dan mengangkat derajat. Beliau membagi istighfar menjadi beberapa tingkatan, dan istighfar Nabi ﷺ adalah tingkatan tertinggi—istighfar orang yang mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa Nabi ﷺ beristighfar lebih dari 70-100 kali sehari (sebagaimana hadits lain), dan doa ini menunjukkan betapa luas cakupan istighfar beliau: mencakup semua keadaan manusia.

Perbedaan pendapat ulama daftar:

Tidak ada perbedaan mendasar di antara ulama yang tercantum. Semua sepakat bahwa ini adalah doa ta'lim (pengajaran) dan bentuk tawadhu' Nabi ﷺ, bukan pengakuan dosa yang sebenarnya. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan umatnya agar tidak pernah merasa cukup dengan amal, dan selalu kembali kepada Allah dalam segala keadaan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri (tabi'in, wafat 110 H) pernah ditanya tentang istighfar Nabi ﷺ yang begitu banyak padahal beliau telah dijamin ampunannya. Beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang banyak beristighfar, dan Nabi ﷺ adalah hamba yang paling mengenal Allah, maka beliau paling banyak beristighfar." (Makna ini disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang istighfar Nabi ﷺ yang dikumpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari).

Fudail bin 'Iyadh (wafat 187 H) berkata: "Istighfar tanpa meninggalkan dosa adalah istighfar para pendusta." Namun beliau juga menegaskan bahwa istighfar Nabi ﷺ adalah istighfar orang yang ma'shum, yang tujuannya adalah mengajarkan umat dan menunjukkan jalan taubat.

Hikmah: Seorang hamba hendaknya tidak pernah merasa aman dari dosa, sekalipun ia telah beramal banyak. Istighfar adalah ibadah yang tidak pernah usang.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak istighfar dalam setiap keadaan—saat lapang maupun sempit, saat serius maupun santai.
  2. Akui kekurangan diri di hadapan Allah; jangan merasa suci atau merasa amal sudah cukup.
  3. Renungkan doa Nabi ﷺ ini dan amalkan lafaznya, karena ia mencakup semua bentuk kelalaian manusia.
  4. Jangan meremehkan dosa kecil, karena semua akan dihisab di hadapan Allah.
  5. Belajar dari tawadhu' Nabi ﷺ—semakin tinggi ilmu dan amal seseorang, semakin ia merendahkan diri dan banyak beristighfar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?