Penjelasan Hadits Bukhari No. 6394 tentang Doa qunut untuk orang musyrik yang durhaka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kesedihan mendalam Nabi ﷺ atas terbunuhnya para sahabat penghafal Al-Qur'an (Al-Qurra') dalam misi dakwah ke Bi'r Ma'unah. Sebagai bentuk kesedihan dan doa, beliau melakukan qunut selama satu bulan dalam shalat Subuh, mendoakan keburukan bagi suku yang berkhianat (Ri'l, Dzakwan, dan 'Ushayyah) yang telah membunuh mereka. Ini menunjukkan bolehnya mendoakan keburukan bagi orang-orang musyrik yang memerangi Islam, namun hal ini khusus untuk mereka yang terang-terangan memusuhi, bukan untuk semua orang kafir.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. Imam Al-Bukhari menempatkannya dalam "Kitab Doa, Bab Doa untuk Orang-orang Musyrik" (Kitab al-Da'awat, Bab al-Du'a 'ala al-Musyrikin).

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

"Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

(QS. An-Nisa' [4]: 148)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang dizalimi diperbolehkan mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya. Para sahabat yang terbunuh adalah orang-orang yang dizalimi, dan Nabi ﷺ sebagai pemimpin mereka mendoakan keburukan bagi para pembunuh tersebut.

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fath al-Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar. Beliau menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada tahun ke-4 Hijriah setelah peristiwa Bi'r Ma'unah, di mana 70 orang sahabat pilihan yang diutus untuk berdakwah dan mengajarkan Al-Qur'an kepada penduduk Najd dibunuh secara khianat oleh suku-suku yang bersekongkol.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Kisah Al-Qurra' (Para Penghafal Al-Qur'an)

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menjelaskan bahwa pasukan yang disebut "Al-Qurra'" ini adalah 70 orang sahabat pilihan yang dikenal sebagai ahli ibadah dan penghafal Al-Qur'an. Mereka diutus oleh Nabi ﷺ untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Najd atas permintaan suku 'Amir bin Sha'sha'ah. Namun ketika mereka tiba di Bi'r Ma'unah, mereka dikhianati dan dibunuh secara keji oleh suku-suku Ri'l, Dzakwan, dan 'Ushayyah yang bersekongkol dengan 'Amir bin Thufail.

2. Kesedihan Nabi ﷺ dan Qunut

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa qunut yang dilakukan Nabi ﷺ selama satu bulan ini adalah qunut nazilah (qunut karena tertimpa musibah atau bencana). Ini dilakukan dalam shalat Subuh dan juga shalat-shalat wajib lainnya. Beliau mendoakan keburukan bagi suku-suku yang telah berkhianat.

3. Hukum Mendoakan Keburukan bagi Orang Kafir

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa mendoakan keburukan bagi orang-orang kafir yang memerangi Islam adalah boleh, bahkan disyariatkan ketika mereka melakukan kezaliman terhadap kaum muslimin. Namun ini tidak berarti kita mendoakan keburukan bagi semua orang kafir secara umum, karena ada orang-orang kafir yang tidak memerangi kita dan tidak menzalimi kita. Terhadap mereka, kita dianjurkan berdoa agar Allah memberi hidayah.

4. Pelajaran tentang Kepemimpinan dan Kasih Sayang

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari (syarah beliau atas Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa kesedihan Nabi ﷺ yang begitu mendalam menunjukkan besarnya kasih sayang beliau kepada para sahabatnya. Ini juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya dan tidak acuh terhadap musibah yang menimpa mereka.

5. Bantahan terhadap yang Mengingkari Qunut

Hadits ini juga menjadi dalil bahwa qunut Subuh itu disyariatkan ketika ada musibah (qunut nazilah). Imam Asy-Syafi'i berpendapat qunut Subuh dilakukan terus-menerus, sementara Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad (dalam pendapat yang masyhur) berpendapat qunut hanya dilakukan ketika ada musibah besar. Namun semua sepakat bahwa qunut nazilah itu disyariatkan ketika kaum muslimin tertimpa musibah.

Story Telling

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan:

"Ketika berita terbunuhnya 70 sahabat penghafal Al-Qur'an di Bi'r Ma'unah sampai kepada Nabi ﷺ, beliau sangat bersedih. Aku melihat wajah beliau berubah muram. Beliau lalu naik ke mimbar dan berkhutbah di hadapan para sahabat. Dalam khutbahnya, beliau mengabarkan tentang para sahabat yang gugur dan mendoakan mereka. Beliau bersabda:

'Para sahabat kalian telah terbunuh, dan mereka telah meminta kepada Rabb mereka: "Wahai Rabb kami, sampaikanlah kepada saudara-saudara kami bahwa kami telah ridha kepada Engkau dan Engkau pun ridha kepada kami." Maka Allah mengabarkan hal itu kepada Nabi-Nya ﷺ.'

Setelah itu, Nabi ﷺ melakukan qunut selama satu bulan dalam shalat-shalat wajib, mendoakan keburukan bagi suku Ri'l, Dzakwan, dan 'Ushayyah yang telah berkhianat."

(Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim)

Hikmah dari kisah ini: Para sahabat yang gugur itu tidak mati sia-sia. Mereka mati dalam keadaan ridha kepada Allah, dan Allah pun ridha kepada mereka. Nabi ﷺ tidak berputus asa, tetapi beliau mengubah kesedihan menjadi doa dan semangat untuk terus menegakkan agama ini. Dakwah tidak berhenti dengan terbunuhnya para dai, justru darah mereka menjadi penyiram bagi tumbuhnya generasi-generasi baru yang lebih kuat.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh mendoakan keburukan bagi orang-orang kafir yang memerangi dan menzalimi kaum muslimin, sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ terhadap suku-suku yang membunuh para sahabatnya.
  2. Qunut nazilah disyariatkan ketika kaum muslimin tertimpa musibah besar, seperti bencana, wabah, atau peperangan. Ini dilakukan dalam shalat-shalat wajib, terutama shalat Subuh.
  3. Seorang pemimpin harus peka terhadap musibah yang menimpa rakyatnya dan tidak boleh acuh tak acuh. Nabi ﷺ menunjukkan teladan terbaik dalam hal ini.
  4. Kesedihan tidak boleh melumpuhkan perjuangan. Nabi ﷺ bersedih, tetapi kesedihan itu beliau salurkan menjadi doa dan semangat untuk melanjutkan dakwah.
  5. Para penghafal Al-Qur'an memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Mereka yang gugur dalam keadaan berpegang teguh kepada Al-Qur'an akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?