Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6391 tentang Kisah sihir Nabi dan perlindungan Allah melalui doa

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah terkena sihir oleh seorang Yahudi bernama Labid bin Al-A'sam. Namun, Allah ﷻ menyembuhkan beliau melalui doa dan pertolongan-Nya. Pelajaran utamanya adalah sihir itu nyata dan bisa menimpa siapa saja, termasuk Nabi ﷺ, tetapi Allah selalu melindungi hamba-Nya yang beriman. Nabi ﷺ memilih tidak membalas atau mengungkap kejahatan itu agar tidak menyebarkan keburukan di tengah masyarakat, dan beliau meneladankan agar kita berlindung kepada Allah dari segala kejahatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Falaq [113]: 1-5

وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ

"Dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan.'" (QS. Al-Mu'minun [23]: 97)

Hadits terkait:

Hadits yang Anda sebutkan adalah Shahih Al-Bukhari no. 6391, dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2189) dengan redaksi yang lebih panjang.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk kisah sihir yang menimpa Nabi ﷺ dan hikmah di baliknya. Beliau menyebutkan bahwa sihir ini adalah ujian dari Allah untuk Nabi-Nya, dan Allah menyembuhkannya sebagai bukti kenabian.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu dalil bahwa sihir itu nyata dan bisa memberikan efek, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 102 yang menceritakan tentang sihir yang diajarkan oleh para malaikat di Babilonia. Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa sihir itu hakiki dan bisa mempengaruhi seseorang, baik dari segi fisik maupun mental.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  1. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam "Kitab Doa" dan "Bab Mengulang Doa" — ini menunjukkan bahwa salah satu pelajaran pentingnya adalah Nabi ﷺ berdoa berulang-ulang kepada Allah ketika menghadapi musibah. Doa adalah senjata utama seorang mukmin.
  2. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sihir yang menimpa Nabi ﷺ adalah ujian dari Allah untuk meninggikan derajat beliau dan untuk mengajarkan umatnya cara berlindung dari sihir. Beliau juga menegaskan bahwa sihir ini tidak mempengaruhi wahyu atau risalah kenabian, karena Allah menjaga Nabi ﷺ dari hal-hal yang bisa merusak dakwahnya.
  3. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seorang mukmin mengobati penyakit dengan ruqyah syar'iyyah dan doa. Nabi ﷺ sendiri berdoa dan meminta kesembuhan dari Allah.
  4. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan bolehnya seorang mukmin memberitahukan musibah yang menimpanya kepada orang lain, selama tidak mengadu kepada makhluk dengan cara yang dilarang. Aisyah mengetahui apa yang terjadi pada Nabi ﷺ, dan beliau tidak melarang hal itu.
  5. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa QS. Al-Falaq dan An-Nas adalah obat dari segala kejahatan, termasuk sihir. Beliau menekankan bahwa berlindung kepada Allah adalah obat yang paling utama.

Mengapa Nabi ﷺ tidak mengeluarkan sihir itu?

Nabi ﷺ bersabda: "Adapun aku, Allah telah menyembuhkanku, dan aku tidak suka menarik perhatian orang kepada kejahatan seperti itu."

Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Nabi ﷺ khawatir jika sihir itu dikeluarkan dan diperlihatkan kepada orang banyak, maka orang-orang akan belajar sihir dan semakin tersebar kejahatan itu. Ini adalah pelajaran tentang sadd adz-dzari'ah (menutup jalan menuju keburukan) dan menjaga kemaslahatan umum.

Apakah sihir bisa menimpa Nabi ﷺ?

Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa sihir bisa menimpa Nabi ﷺ secara fisik, tetapi tidak bisa mempengaruhi wahyu, risalah, atau akal beliau dalam hal agama. Ini adalah pendapat jumhur ulama, termasuk Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, dan para pensyarah hadits.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang bagaimana para ulama salaf menghadapi ujian dengan doa dan tawakal. Imam Ahmad bin Hanbal — semoga Allah merahmatinya — ketika beliau dipenjara dan disiksa karena mempertahankan aqidah bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah yang tidak diciptakan, beliau tidak pernah berhenti berdoa. Beliau berkata: "Aku tidak pernah mengeluh kepada siapa pun tentang apa yang menimpaku, kecuali kepada Allah."

Ketika ditanya: "Bagaimana engkau bisa bersabar?" Beliau menjawab: "Aku membaca firman Allah: 'Dan bersabarlah, karena kesabaran itu hanya diberikan kepada orang-orang yang diberi keteguhan hati.' (QS. Hud [11]: 49)"

Ini mengajarkan kita bahwa doa dan kesabaran adalah kunci menghadapi segala ujian, sebagaimana Nabi ﷺ berdoa ketika terkena sihir.

Kesimpulan Praktis

  1. Sihir itu nyata — kita harus berlindung kepada Allah dari kejahatannya, terutama dengan membaca QS. Al-Falaq dan An-Nas secara rutin.
  2. Doa adalah senjata utama — Nabi ﷺ berdoa berulang-ulang ketika menghadapi musibah. Kita pun harus bersungguh-sungguh dalam berdoa.
  3. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan — Nabi ﷺ memilih tidak mengungkap sihir itu agar tidak menyebarkan keburukan. Kita harus menjaga adab dan kemaslahatan umum.
  4. Ruqyah syar'iyyah itu dibolehkan — selama menggunakan ayat Al-Qur'an dan doa-doa yang shahih dari Nabi ﷺ.
  5. Tawakal kepada Allah — setelah berusaha dan berdoa, kita harus berserah diri kepada Allah, karena kesembuhan sejati hanya dari-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.