Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 6347 tentang Memohon perlindungan dari ujian dan akhir yang buruk

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita sebuah doa perlindungan yang sangat penting. Rasulullah ﷺ memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara: (1) kesulitan ujian/cobaan yang berat, (2) terjerumus dalam kehinaan dan kebinasaan, (3) takdir yang buruk, dan (4) kegembiraan musuh atas musibah yang menimpa kita. Ini adalah doa yang ringkas namun mencakup permohonan agar dijauhkan dari segala bentuk keburukan di dunia dan akhirat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dengan sanadnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ad-Da'awat (Doa), Bab "Memohon Perlindungan dari Kesulitan Ujian", no. 6347.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) memuat hadits ini dalam kitabnya yang paling shahih, menunjukkan pentingnya doa ini untuk diamalkan.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari menjelaskan makna setiap kalimat dalam doa ini secara rinci, yang akan kita kutip maknanya dalam penjelasan di bawah.
  • Imam An-Nawawi (wafat 676 H) juga membawakan hadits ini dalam kitab Al-Adzkar dan menjelaskan faedahnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama, di antaranya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, menjelaskan makna setiap bagian doa ini sebagai berikut:

  1. "Jahdil-balaa'" (جَهْدِ الْبَلاَءِ) - Kesulitan Ujian: Ini adalah cobaan yang sangat berat dan sulit untuk ditanggung, seperti penyakit yang berkepanjangan, kemiskinan yang ekstrem, atau musibah yang menimpa secara bertubi-tubi. Ini adalah permohonan agar Allah tidak menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.
  2. "Darakis-syaqaa'" (دَرَكِ الشَّقَاءِ) - Terjerat Kehancuran: Ibnu Hajar menjelaskan, maknanya adalah "terjerumusnya seseorang ke dalam kebinasaan dan kehinaan." Ini bisa berarti tertimpa keburukan yang terus-menerus, atau terjerumus dalam kesengsaraan yang berkepanjangan di dunia dan akhirat.
  3. "Suu-il-qadhaa'" (سُوءِ الْقَضَاءِ) - Takdir yang Buruk: Ini adalah permohonan agar Allah tidak menakdirkan hal-hal yang buruk bagi hamba-Nya. Penting untuk dipahami, ini bukan berarti protes terhadap takdir Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, doa ini adalah permohonan agar Allah memilihkan dan menetapkan yang terbaik, serta melindungi hamba-Nya dari akibat buruk suatu takdir. Ini adalah bentuk tawadhu (rendah hati) seorang hamba di hadapan Allah.
  4. "Shamaatil-a'daa'" (شَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ) - Kegembiraan Musuh: Ini adalah permohonan agar Allah tidak membiarkan musuh-musuh kita bergembira dan merasa puas melihat kita tertimpa musibah.

Catatan Penting dari Sufyan Ats-Tsauri:

Dalam riwayat ini, Imam Sufyan Ats-Tsauri (wafat 161 H) berkata bahwa asal hadits ini hanya berisi tiga permohonan, dan beliau menambahkan satu. Beliau sendiri tidak ingat yang mana yang beliau tambahkan. Ini menunjukkan kejujuran dan kehati-hatian seorang perawi dalam menyampaikan hadits. Namun, karena hadits ini diriwayatkan secara lengkap oleh perawi lain, maka keempat permohonan tersebut tetap dianggap shahih dan diamalkan.

Hikmah Doa Ini:

Doa ini mengajarkan kita untuk selalu bergantung kepada Allah dalam segala keadaan. Kita tidak hanya meminta kebaikan, tetapi juga memohon perlindungan dari segala keburukan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Ini adalah wujud keimanan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, dan hanya kepada-Nya kita memohon perlindungan.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan tentang keteguhan hati para salaf dalam menghadapi ujian, yang mencerminkan semangat doa ini. Suatu ketika, Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H) diuji dengan cobaan yang sangat berat, yaitu fitnah penciptaan Al-Qur'an. Beliau dipenjara dan disiksa oleh penguasa pada masanya karena mempertahankan aqidah yang benar.

Dalam kondisi yang sangat sulit itu, beliau tidak pernah berhenti berdoa dan bersabar. Beliau justru semakin dekat kepada Allah. Ketika ditanya tentang keadaannya, beliau menjawab dengan tenang, menunjukkan bahwa ujian yang berat tidak membuatnya hina, dan musuh-musuhnya tidak akan pernah bisa bergembira melihatnya lemah, karena kekuatannya bersumber dari Allah semata. Kisah ini menunjukkan bagaimana seorang hamba yang berpegang teguh pada doa dan keyakinannya akan dijaga oleh Allah dari kehinaan dan kegembiraan musuh.

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan:

  1. Hafalkan dan amalkan doa ini setiap hari, terutama di waktu pagi dan petang, karena ini adalah doa yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.
  2. Renungkan maknanya setiap kali membacanya, sehingga kita benar-benar menghadirkan hati dalam memohon perlindungan kepada Allah.
  3. Jadikan doa ini sebagai pengingat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, dan hanya kepada-Nya kita memohon perlindungan dari segala keburukan, baik yang berkaitan dengan ujian dunia maupun akhirat.
  4. Tetap bersabar dan berprasangka baik kepada Allah dalam setiap ujian, karena di balik takdir-Nya selalu ada hikmah dan kebaikan bagi hamba-Nya yang beriman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.